Padang Ekspres • Selasa, 22/01/2013 13:41 WIB •
• 250 klik
Padang,
Pedek—Dari 19 kabupaten dan kota di Sumbar, penderita gizi
buruk tertinggi terdapat di Solok Selatan, Mentawai dan Pesisir
Selatan. Penyebabnya, keterbatasan tenaga dokter dan perawat, serta
rendahnya pemahaman orangtua dalam memberikan asupan gizi pada
anak.
“Persentase gizi buruk di Sumbar 0,9
persen dan gizi kurang 7,2 persen. Namun demikian, angka ini jauh di
atas nasional, 17 persen,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Rosnini
Savitri kepada Padang Ekspres, akhir pekan lalu.
Rosnini menyebut hambatan dalam
penanganan gizi buruk adalah terbatasnya dana APBD kabupaten/kota yang
dialokasikan untuk kesehatan, yakni kurang dari 10 persen, di samping
akibat sosial ekonomi dan pendidikan yang rendah, pola asuh yang salah,
pengaruh sosial budaya terhadap pola konsumsi.
Untuk mengurangi kasus gizi buruk dan
gizi kurang, Pemprov melakukan pengadaan MP ASI untuk anak bawah dua
tahun bagi keluarga miskin, revitalisasi posyandu melalui posyandu
terintegrasi, membentuk klinik gizi buruk, menggalang kemitraan
dengan lembaga swadaya, organisasi profesi, membentuk nagari siaga
di daerah rawan gizi, membentuk kader pendamping ASI eksklusif,
pemberdayaan masyarakat bekerja sama dengan sektor terkait contohnya
mengoptimalkan UPGK (upaya perbaikan gizi keluarga).
Selain itu, Pemprov Sumbar juga akan
menggelontorkan Rp 1,5 miliar untuk penanganan gizi buruk dan gizi
kurang. Dengan demikian, diharapkan prevalensi gizi buruk dan gizi
kurang dapat ditekan. “Kami berharap seluruh kota dan kabupaten
memiliki klinik gizi buruk, sehingga penanganan gizi buruk dan gizi
kurang semakin baik,” tuturnya.
Kata Rosnini, pola pemberian asupan gizi
tersebut tidak hanya pada masyarakat ekonomi terbatas, namun juga
masyarakat yang memiliki ekonomi mapan. “Biasanya untuk
mengantisipasi ini, kami langsung menurunkan tim memberikan
sosialisasi dan pembinaan pada masyarakat di tempat itu. Petugas
langsung memberikan sosialisasi tentang asupan gizi yang pas buat
anak-anak,” ujar Rosnini yang mengaku lupa data jumlah kasus gizi
buruk dan gizi kurang.
Bagaimana kesiapan Sumbar menyongsong
MDGs 2015? Rosnini menuturkan, Dinkes telah melakukan pemetaan sarana
dan prasarana kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, distribusi tenaga
kesehatan sesuai kebutuhan, meningkatkan kualitas SDM seperti
pendidikan spesialis, pelatihan, lokakarya, membuat nota kesepahaman
(MoU) antara pendidikan kesehatan dan pemerintah dalam melaksanakan
program.
“Itu sejumlah langkah yang kami lakukan
dalam menyongsong MDGS 2015. Kami telah menetapkan 8 prioritas
pembangunan kesehatan,” ucapnya.
Adapun 8 prioritas pembangunan
kesehatan itu; peningkatan kesehatan ibu, bayi, balita dan keluarga
berencana, perbaikan status gizi masyarakat, pengendalian penyakit
menular serta penyakit tidak menular, diikuti penyehatan lingkungan,
pemenuhan, pengembangan dan pemberdayaan SDM kesehatan,
peningkatan ketersediaan keterjangkauan, pemerataan, keamanan,
mutu dan penggunaan obat serta pengawasan obat dan makanan,
pengembangan sistem jaminan kesehatan masyarakat, pemberdayaan
masyarakat dan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan dan
peningkatan pelayanan kesehatan primer, sekunder dan tersier. (ayu)


