Pages

Sabtu, 26 Januari 2013

Hutan TNKS Terus Dijarah

 Padang Ekspres • Sabtu, 26/01/2013 13:12 WIB • • 111 klik
Solsel, Padek—Bencana longsor dan banjir bandang yang meluluhlantakkan Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh (KPGD), Kabu­paten Solok Selatan, seper­tinya belum cukup menjadi pelajaran untuk meles­tari­kan lingkungan. Penjarahan hu­tan di Solok Selatan ma­sih terjadi. Dalam dua pekan terakhir, ditemukan delapan kubik kayu olahan hasil pe­ne­bangan liar, yang diduga berasal dari hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Saat patroli di kawasan Sungaiipuh, Nagari Pakan Rabaa Tangah, KPGD, Jumat (24/1), sekitar pukul 17.00, aparat kepolisian dari Polsek KPGD kembali menemukan dua kubik kayu tak bertuan. Kayu balok ukuran 6x20 cm tersebut merupakan jenis pu­lai, atau kayu yang biasa digu­nakan untuk membuat profil.

Diwartakan sebelumnya, Sabtu pekan lalu,  jajaran Polsek KPGD juga berhasil menyita 2,5 kubik kayu hasil penebangan liar di Sungai­ipuh. Kawasan ini pada 25 Desember 2012 lalu, dilanda longsor dan menewaskan tiga orang warga.

“Kami kembali menemu­kan kayu yang diduga hasil penebangan liar sebanyak dua kubik atau 32 batang waktu patroli ke kawasan Sungaiipuh dan telah disita untuk dijadi­kan barang bukti. Kepemi­likannya tengah kami selidiki. Kami akan terus melakukan razia ilegal logging maupun ilegal minning, agar KPGD bersih dari ilegal,” tutur Kapol­res Solok Selatan AKBP Djoko Trisulo melalui Kapolsek KPGD AKP Adang Saputra.

Secara terpisah, kepala seksi TNKS wilayah IV, Zai­nudin menyayangkan tinda­kan pengrusakan di kawasan TNKS. Padahal, keberadaan hutan sebagai penyangga air dapat memperkecil risiko ben­cana banjir dan longsor.

“Kalau melihat jenisnya (pulai), kayu itu banyak tum­buh di kebun masyarakat. Namun, kita tetap menduga kayu itu dari TNKS, karena wilayah Sungaiipuh dekat ka­wasan TNKS,” ungkap Zai.

Zainudin mengimbau ma­syarakat bahu membahu men­jaga keselamatan hutan. Se­bab, bila hutan dirusak dan alam sudah tak seimbang lagi, benca­na tinggal menunggu bom wak­tu. Belajar dari ma­syarakat di Jorong Pincu­ran­tujuh atau Bangunrejo, Nagari Lubuk Gadang Selatan, Keca­matan Sangir, masyarakatnya hidup berdampingan dengan TNKS. Kasus pengrusakan hutan nya­ris tidak ditemui dan terjaga.

Warga Bangunrejo telah menjadi polisi hutan. Siapa saja yang akan masuk ke ka­wasan TNKS, maka harus ber­hadapan dengan warga kam­pung tersebut. Komitmen ma­syarakat menjaga hutan patut diacungi jempol. “Hutan ada­lah paru-paru kita. Untuk kedamaian dan kesejahteraan kita di sini,” kata kepala Jorong Bangunrejo, Bejo, beberapa waktu lalu. (sih)

0 komentar:

Posting Komentar