Pages

Sabtu, 26 Januari 2013

Tiga Daerah Tertinggi Gizi Buruk

Padang Ekspres • Selasa, 22/01/2013 13:41 WIB • • 250 klik
Padang, Pedek—Dari 19 kabu­pa­ten dan kota di Sumbar, pen­derita gizi buruk tertinggi terdapat di Solok Selatan, Mentawai dan Pesisir Sela­tan. Penyebabnya, keterbatasan tenaga dokter dan pera­wat, serta rendahnya pe­ma­haman orangtua  da­lam memberikan asu­pan gizi pada anak.

“Persentase gizi bu­ruk di Sumbar 0,9 per­sen dan gizi kurang 7,2 per­sen. Namun dem­i­kian, angka ini jauh di atas nasional, 17 per­sen,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Rosnini Savitri kepada Padang Ekspres, akhir pekan lalu.

Rosnini menyebut hambatan dalam penanganan gizi buruk adalah terbatasnya dana APBD kabupaten/kota yang dialokasikan untuk kese­hatan, yakni kurang dari 10 persen, di samping akibat sosial ekonomi dan pendidikan yang rendah, pola asuh yang salah, pengaruh sosial budaya terhadap pola konsumsi.

Untuk mengurangi kasus gizi buruk dan gizi kurang, Pemprov mela­kukan pe­nga­­daan MP ASI untuk anak bawah dua tahun ba­gi keluarga miskin, re­vitalisasi pos­yandu me­la­lui posyandu terin­teg­rasi, mem­ben­tuk klinik gizi buruk, meng­galang kemit­raan dengan lem­baga swa­daya, orga­nisasi pro­fesi, membentuk na­gari siaga di dae­rah rawan gizi, mem­bentuk kader pendamping ASI eks­klusif, pemberdayaan masya­rakat bekerja sama dengan sektor terkait con­tohnya mengoptimalkan UPGK (upaya perbaikan gizi ke­luarga).

Selain itu, Pemprov Sumbar juga akan menggelontorkan Rp 1,5 miliar untuk penanganan gizi buruk dan gizi kurang. Dengan demikian, diharap­kan prevalensi gizi buruk dan gizi kurang dapat ditekan. “Kami ber­harap seluruh kota dan kabupaten memiliki klinik gizi buruk, sehingga pena­nganan gizi buruk dan gizi kurang semakin baik,” tuturnya.

Kata Rosnini, pola pemberian asupan gizi tersebut tidak hanya pada ma­syarakat ekonomi terba­tas, na­mun juga masyarakat yang memiliki eko­­nomi mapan. “Bia­sanya untuk mengantisipasi ini, kami  langsung me­nurunkan tim memberikan so­sia­lisasi  dan pem­binaan pada ma­sya­rakat di tempat itu. Petugas langsung memberikan sosialisasi tentang asupan gizi yang pas buat anak-anak,” ujar Rosnini yang me­nga­ku lupa data jumlah kasus gizi buruk dan gizi kurang.

Bagaimana kesiapan Sum­bar menyongsong MDGs 2015? Rosnini menuturkan, Dinkes telah melakukan peme­taan sarana dan prasarana kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, distribusi tenaga kesehatan sesuai kebutuhan, mening­katkan kualitas SDM seperti pendidikan spesialis, pelatihan, lokakarya, mem­buat nota kese­pahaman (MoU) antara pen­didikan kese­hatan dan peme­rintah dalam melaksanakan program.

“Itu sejumlah langkah yang kami lakukan dalam me­nyong­song MDGS 2015. Kami telah menetapkan 8 prioritas pem­ba­ngunan kesehatan,” ucap­nya.

Adapun 8 prioritas pem­bangunan kesehatan itu; pe­ning­katan kesehatan ibu, ba­yi, balita dan keluarga beren­cana, perbaikan status gizi ma­sya­rakat, pengendalian penya­kit menular serta pe­nyakit tidak menular, diikuti penyehatan lingkungan, pe­menuhan, pe­ngembangan dan pember­dayaan SDM ke­sehatan, pe­ning­katan keter­sediaan keter­jangkauan, pe­merataan, kea­manan, mutu dan peng­gunaan obat serta pengawasan obat dan ma­kanan, pengembangan sistem jaminan kesehatan ma­sya­rakat, pemberdayaan masya­rakat dan penang­gu­langan bencana dan krisis kesehatan dan peningkatan pelayanan kesehatan primer, sekunder dan tersier. (ayu)

0 komentar:

Posting Komentar