Selasa, 09 Juli 2013
Senin, 01 Juli 2013
Polri dan TNI Sepakat Berantas Illegal Mining
Tanggal 29 June 2013
Polri dan TNI komitmen memberantas
illegal mining di Solok Selatan (Solsel), karena kegiatan itu tidak
bisa dibiarkan merajalela mengeruk kekayaaan alam daerah itu.
Kapolda Sumbar, Brigjen Nur Ali, Jumat (28/6) mengatakan pihaknya selalu berkoordinasi dengan semua dan saling bantu membantu memberantas segela bentuk penambangan liar di Solsel.
Itu telah dibuktikan dengan baru-baru ini menangkap 11 orang penambang liar di Sungai Batang Hari tersebut. Selain itu, aparat kepolisian juga mengamankan tiga unit ekskavator. “Kita komitmen, masalah illegal mining harus dibasmi, “ujar Nur Ali.
Tentang adanya dugaan oknum aparat yang bermain, kapolda akan memberikan tindakan tegas, jika yang terlibat itu anggota kepolisian. Sementara, bila oknum TNI yang terlibat akan diserahkan pada kesatuannya.
Dikatakan, TNI dan Polri terus membangun kebersamaan, menjalin kekompakan dan solidaritas agar tidak hanya tercipta antar pimpinan, namun sampai ke tingkat prajurit.
Hukum negara harus ditegakkan, penambangan emas liar yang terjadi di Solsel harus diberantas dan itupun sudah menjadi komitmen kepolisian untuk memberantas illegal logging, illegal fishing dan illegal mining.
Untuk menertibkan tambang emas liar, tidak ada istilah tebang pilih, siapa saja yang terlibat akan ditindak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.
Sebelumnya, Danrem 032/Wirabraja, Kolonel Inf. A Rachman mengatakan TNI siap menertibkan illegal mining Solok Selatan, dengan bekerjasama dengan aparat kepolisian.
Sumber daya alam, khususnya emas di Solsel adalah kekayaan negara dan berdampak terhadap kesejahteraan orang banyak. “Kita siap membantu Polri dalam menertiban ilegal mining dan tindak kejahatan lainnya,” ujarnya. (101/408)
Kapolda Sumbar, Brigjen Nur Ali, Jumat (28/6) mengatakan pihaknya selalu berkoordinasi dengan semua dan saling bantu membantu memberantas segela bentuk penambangan liar di Solsel.
Itu telah dibuktikan dengan baru-baru ini menangkap 11 orang penambang liar di Sungai Batang Hari tersebut. Selain itu, aparat kepolisian juga mengamankan tiga unit ekskavator. “Kita komitmen, masalah illegal mining harus dibasmi, “ujar Nur Ali.
Tentang adanya dugaan oknum aparat yang bermain, kapolda akan memberikan tindakan tegas, jika yang terlibat itu anggota kepolisian. Sementara, bila oknum TNI yang terlibat akan diserahkan pada kesatuannya.
Dikatakan, TNI dan Polri terus membangun kebersamaan, menjalin kekompakan dan solidaritas agar tidak hanya tercipta antar pimpinan, namun sampai ke tingkat prajurit.
Hukum negara harus ditegakkan, penambangan emas liar yang terjadi di Solsel harus diberantas dan itupun sudah menjadi komitmen kepolisian untuk memberantas illegal logging, illegal fishing dan illegal mining.
Untuk menertibkan tambang emas liar, tidak ada istilah tebang pilih, siapa saja yang terlibat akan ditindak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.
Sebelumnya, Danrem 032/Wirabraja, Kolonel Inf. A Rachman mengatakan TNI siap menertibkan illegal mining Solok Selatan, dengan bekerjasama dengan aparat kepolisian.
Sumber daya alam, khususnya emas di Solsel adalah kekayaan negara dan berdampak terhadap kesejahteraan orang banyak. “Kita siap membantu Polri dalam menertiban ilegal mining dan tindak kejahatan lainnya,” ujarnya. (101/408)
Indo Jalito Bantu Ratusan Anak
Tanggal 24 June 2013
PADANG – Tawa dan canda memenuhi
ruangan Puskesmas Koto Panjang Ikur Koto (KPIK), Kecamatan Koto Tangah
Padang, Minggu (23/6) lalu. Anak-anak yang sudah menjalani sunatan
massal disemangati para ibu yang tergabung dalam organisasi Indo Jalito.
Indo Jalito ini yang beranggotakan kaum ibu yang peduli dengan kampung halamannya, Ranah Minang. Organisasi ini berkedudukan di Jakarta.
“Acara ini kami adakan sebagai bakti kami terhadap tanah kelahiran. Kami ingin berbagi dengan dunsanak di kampung yang kurang beruntung. Bahagia bagi kami, Indo Jalito bila bisa ikut meringankan beban para dunsanak kami,” ujar Ketua Indo Jalito periode 2012-2016, Nunink Hardiman.
Nuning menuturkan, organisasi yang dipimpinnya ini menggelar sunatan massal di tiga daerah, Pesisir Selatan, Solok dan Kota Padang. Program ini sekaitan dengan masa libur, dan masa libur biasanya dimanfaatkan masyarakat menyunat anaknya. ”Kami nilai inilah yang paling cocok dilakukan sambil melepas kerinduan kepada kampung,” ujarnya.
Kegiatan itu disambut meriah oleh warga. Mereka sudah memenuhi areal puskesmas sejak pagi. Camat Koto Tangah, Amritha Luthan beserta jajarannya gembira terhadap kegiatan yang diprakarsai oleh Indo Jalito. Dia gembira lantaran 120 warga kurang mampu di wilayah kerjanya terbantu. Anak-anak yang disunat itu mendapat kain sarung, tas sekolah dan uang saku.
Senada dengan Amritha, Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Drg. Eka Lusti, pun menyuarakan hal yang sama. Ia mendukung penuh bakti sosial yang dilakukan Indo Jalito.
Koordinator Kegiatan Indo Jalito, Yenny Nurdin menginformasikan bahwa paket bantuan kepada anak-anak itu merupakan sumbangan dari anggota Indo Jalito. Tiap usai golf bersama, mereka badoncek. Begitu juga di arisan dan acara lain yang mereka lakukan, selain uang sosial tetap anggota. “Kami terus berupaya meningkatkan frekuensi dan jenis kegiatan. Begitu juga nilai bantuan dan jumlah anak kurang mampu yang kami bantu,” ujanya.
Sunat Sistem Laser
Uniknya, Indo Jalito membawa tim dokter sendiri. Tiga dokter inilah yang menangani 120 peserta sunatan massal. Mereka menangani sunat dengan menggunakan laser tersebut dibantu oleh paramedik Puskesmas KPIK.
Sistem ini dipilih karena para ibu dari Indo Jalito ingin memastikan bahwa hasil kerja mereka tidak menimbulkan efek samping.
“Cara ini lebih efektif. Masa penyembuhan pun lebih cepat. Jadi lebih cocok untuk kunjungan kami yang singkat ini. Kami tak ingin sekembalinya ke Jakarta ada anak yang bermasalah setelah sunatan massal,” ungkap Nunink.
Pimpinan Puskesmas KPIK, Drg Agus A. Rasyid, menyatakan kegiatan Indo Jalito secara tak langsung memberikan transfer ilmu bagi paramedik di puskesmas yang umumnya diisi oleh tenaga muda itu. Ini juga pembelajaran bagi kami untuk menangani iven besar.
(zul/406)
Indo Jalito ini yang beranggotakan kaum ibu yang peduli dengan kampung halamannya, Ranah Minang. Organisasi ini berkedudukan di Jakarta.
“Acara ini kami adakan sebagai bakti kami terhadap tanah kelahiran. Kami ingin berbagi dengan dunsanak di kampung yang kurang beruntung. Bahagia bagi kami, Indo Jalito bila bisa ikut meringankan beban para dunsanak kami,” ujar Ketua Indo Jalito periode 2012-2016, Nunink Hardiman.
Nuning menuturkan, organisasi yang dipimpinnya ini menggelar sunatan massal di tiga daerah, Pesisir Selatan, Solok dan Kota Padang. Program ini sekaitan dengan masa libur, dan masa libur biasanya dimanfaatkan masyarakat menyunat anaknya. ”Kami nilai inilah yang paling cocok dilakukan sambil melepas kerinduan kepada kampung,” ujarnya.
Kegiatan itu disambut meriah oleh warga. Mereka sudah memenuhi areal puskesmas sejak pagi. Camat Koto Tangah, Amritha Luthan beserta jajarannya gembira terhadap kegiatan yang diprakarsai oleh Indo Jalito. Dia gembira lantaran 120 warga kurang mampu di wilayah kerjanya terbantu. Anak-anak yang disunat itu mendapat kain sarung, tas sekolah dan uang saku.
Senada dengan Amritha, Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Drg. Eka Lusti, pun menyuarakan hal yang sama. Ia mendukung penuh bakti sosial yang dilakukan Indo Jalito.
Koordinator Kegiatan Indo Jalito, Yenny Nurdin menginformasikan bahwa paket bantuan kepada anak-anak itu merupakan sumbangan dari anggota Indo Jalito. Tiap usai golf bersama, mereka badoncek. Begitu juga di arisan dan acara lain yang mereka lakukan, selain uang sosial tetap anggota. “Kami terus berupaya meningkatkan frekuensi dan jenis kegiatan. Begitu juga nilai bantuan dan jumlah anak kurang mampu yang kami bantu,” ujanya.
Sunat Sistem Laser
Uniknya, Indo Jalito membawa tim dokter sendiri. Tiga dokter inilah yang menangani 120 peserta sunatan massal. Mereka menangani sunat dengan menggunakan laser tersebut dibantu oleh paramedik Puskesmas KPIK.
Sistem ini dipilih karena para ibu dari Indo Jalito ingin memastikan bahwa hasil kerja mereka tidak menimbulkan efek samping.
“Cara ini lebih efektif. Masa penyembuhan pun lebih cepat. Jadi lebih cocok untuk kunjungan kami yang singkat ini. Kami tak ingin sekembalinya ke Jakarta ada anak yang bermasalah setelah sunatan massal,” ungkap Nunink.
Pimpinan Puskesmas KPIK, Drg Agus A. Rasyid, menyatakan kegiatan Indo Jalito secara tak langsung memberikan transfer ilmu bagi paramedik di puskesmas yang umumnya diisi oleh tenaga muda itu. Ini juga pembelajaran bagi kami untuk menangani iven besar.
(zul/406)
Proyek Selesai, Air tak Mengalir
Tanggal 19 June 2013
PADANG — DPRD Sumbar meminta
pemprov mengevaluasi proyek pembangunan sistem pelayanan air minum
(SPAM) di kabupaten/kota. DPRD menilai proyek itu gagal karena tak
menyediakan air hingga ke rumah masyarakat.
Padahal menyalurkan air ke rumah masyarakat tujuan dari pembangunan SPAM
tersebut. Pada 2012 proyek itu menelan Rp20 miliar lebih dari APBD
Sumbar. Pada 2013 dianggarkan lagi Rp16,5 miliar.
“Kami tinjau di lapangan, SPAM tak berfungsi. Kami nilai gagal. Tolong dievaluasi jangan sampai cuma jadi besi tua saja di daerah-daerah itu,” kata anggota Komisi III, Nurnas, Selasa (18/6) di Padang saat rapat gabungan dengan Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Pemukiman (Prasjal Tarkim).
Menurut dia, proyek itu menelan dana mahal. Kalau tak berfungsi ke masyarakat jadi percuma saja dilaksanakan.
SPAM merupakan proyek pembangunan saluran bagi masyarakat di daerah rawan air. Pada 2012 proyek pengerjaan di antaranya, Kabupaten Solok, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Pasaman barat, Solok Selatan, Pasaman, Agam dan Tanah Datar.
Bukan hanya Nurnas, beberapa anggota Komisi III juga menyoroti proyek SPAM. Anggota dewan dari Golkar, Saidal berpendapat berpendapat, proyek berjalan lamban dan tak tepat sasaran. Masyarakat tak merasakan manfaat dari pembangunan SPAM.
“Tolong evaluasi dan cari solusinya. Jika memang masalahnya pada pemerintah daerah, cepat koordinasikan. Jangan dibiarkan saja,” ujar Ketua Komisi Yulman Hadi.
Yulman Hadi memaklumi susahnya penyelesaian proyek SPAM yang dikerjakan tiga tingkat pemerintahan sekaligus, pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintahan daerah dengan pembagian kerja masing-masing. Jika koordinasi tak baik, proyek bisa gagal.
Kendala itu diakui Kepala Dinas Prasjal Tarkim, Suprapto. Menurut dia, dalam proyek SPAM, pembangunan terbagi tiga, saluran utama, sekunder dan tersier. Saluran tersier saluran akhir yang menyalurkan ke rumah-rumah masyarakat.
“Yang menjadi masalah dari sekunder ke tersier. Jadi sampai sekarang dampaknya air tak bisa disalurkan ke masyarakat,” ujarnya.
Kendala penyelesaian jaringan tersier, kata dia, ada di daerah. Ada masalah koordinasi antara PDAM kabupaten/kota dengan dinas terkait. Istilahnya saling tunggu menunggu dan lempar bola. Alhasil saluran tak selesai-selesai.
“Kita punya solusi. Di APBN Perubahan kita bisa dapat dana Rp80 miliar. Kita lobi untuk dapat bagian SPAM. Targetnya selesai 2015 nanti,” ujar Suprapto.
Ia akan mengkoordinasi dengan kabupaten kota untuk solusi pembangunan saluran tersier.(403)
“Kami tinjau di lapangan, SPAM tak berfungsi. Kami nilai gagal. Tolong dievaluasi jangan sampai cuma jadi besi tua saja di daerah-daerah itu,” kata anggota Komisi III, Nurnas, Selasa (18/6) di Padang saat rapat gabungan dengan Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Pemukiman (Prasjal Tarkim).
Menurut dia, proyek itu menelan dana mahal. Kalau tak berfungsi ke masyarakat jadi percuma saja dilaksanakan.
SPAM merupakan proyek pembangunan saluran bagi masyarakat di daerah rawan air. Pada 2012 proyek pengerjaan di antaranya, Kabupaten Solok, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Pasaman barat, Solok Selatan, Pasaman, Agam dan Tanah Datar.
Bukan hanya Nurnas, beberapa anggota Komisi III juga menyoroti proyek SPAM. Anggota dewan dari Golkar, Saidal berpendapat berpendapat, proyek berjalan lamban dan tak tepat sasaran. Masyarakat tak merasakan manfaat dari pembangunan SPAM.
“Tolong evaluasi dan cari solusinya. Jika memang masalahnya pada pemerintah daerah, cepat koordinasikan. Jangan dibiarkan saja,” ujar Ketua Komisi Yulman Hadi.
Yulman Hadi memaklumi susahnya penyelesaian proyek SPAM yang dikerjakan tiga tingkat pemerintahan sekaligus, pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintahan daerah dengan pembagian kerja masing-masing. Jika koordinasi tak baik, proyek bisa gagal.
Kendala itu diakui Kepala Dinas Prasjal Tarkim, Suprapto. Menurut dia, dalam proyek SPAM, pembangunan terbagi tiga, saluran utama, sekunder dan tersier. Saluran tersier saluran akhir yang menyalurkan ke rumah-rumah masyarakat.
“Yang menjadi masalah dari sekunder ke tersier. Jadi sampai sekarang dampaknya air tak bisa disalurkan ke masyarakat,” ujarnya.
Kendala penyelesaian jaringan tersier, kata dia, ada di daerah. Ada masalah koordinasi antara PDAM kabupaten/kota dengan dinas terkait. Istilahnya saling tunggu menunggu dan lempar bola. Alhasil saluran tak selesai-selesai.
“Kita punya solusi. Di APBN Perubahan kita bisa dapat dana Rp80 miliar. Kita lobi untuk dapat bagian SPAM. Targetnya selesai 2015 nanti,” ujar Suprapto.
Ia akan mengkoordinasi dengan kabupaten kota untuk solusi pembangunan saluran tersier.(403)
Kinerja Tim Terpadu Mulai Dipertanyakan
SOLSEL — Ketua tim terpadu
pemberantasan illegal minning Solok Selatan, H. Fachril Murad, akan
membawa persoalan pengrusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan
ke wilayah hukum. Persiapan untuk itu tengah dilakukan.
Namun terkait tindakan penertiban yang
dilakukan, beberapa masyarakat Solok Selatan mulai mempertanyakan
kinerja tim terpadu. Masyarakat menilai, semenjak terbentuk empat bulan
silam, gaung tim yang dipimpin lansung sekdakab Solok Selatan, H.
Fachril Murad itu, tidak terlalu bergema.
H. Fachril Murad sendiri selaku ketua tim, mengaku timnya telah bekerja sesuai dengan amanat yang diembankan Bupati Solok Selatan H. Muzni Zakaria. “Tim ini, akan terus bekerja sampai persoalan illegal minning ini tuntas,” katanya kepada Singgalang, Selasa (18/6).
Hanya saja, setiap kerja yang dilakukan itu, tentu saja tidak semuanya bisa disampaikan kepada masyarakat. “Itu untuk kepentingan penertiban yang dilakukan tim,” tuturnya.
Disampaikan Fachril, sejauh ini aktivitas penambangan emas di Solok Selatan sudah jauh berkurang dari sebelumnya. Itu terlihat dari jumlah alat berat yang beroperasi yang sudah tidak sebanyak sebelumnya.
Upaya lain yang dilakukan adalah meminta pertanggung jawaban pihak penambang terhadap kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. “Data-data kerusakan sudah ada,” katanya.
Itu dilakukan bukan hanya oleh pihak penambang illegal, tapi juga oleh penambang berizin. “Ini akan kita bawa ke pengadilan. Saya sendiri yang akan mengadukannya nanti,” tegas Fachril.
Sementara itu, beberapa masyarakat yang ditemui Singgalang, belum melihat perubahan signifikan terhadap pemberantasan illegal minning. Banyak tempat yang selama ini menjadi lokasi pertambangan, tetap beroperasi. “Di Muko-muko, di Pinti Kayu utara, Batang Bangko dan lainnya, masih terlihat ekskavator meraung-raung menggali tanah menambang emas,” ungkap warga Padang Aro, Ed.
Disampaikan Ed, demikian juga di sepanjang batang sungai Batang Hari, kegiatan berlansung seperti biasanya. “Beberapa ekskavator dan kapal keruk masih terus bekerja. Pengusaha tambang terkesan tidak ada takut sama sekali,” paparnya.
Rapat lokasi WPR
Dalam kesempatan itu, ketua Tim terpadu pemberantasan illegal minning Solok Selatan, H. Fachril Murad, juga mengungkapkan bahwa dalam minggu ini pihaknya akan melakukan rapat dengan berbagai pihak terkait di Solok Selatan tentang penetapan lokasi Wilayah Pertambangan Rakyat.
“Ini adalah bentuk solusi yang kita carikan. WPR bukan hanya wacana, tapi kita sudah memasuki upaya penentuan lokasi yang mungkin,” katanya.
Wakil Bupati Solok Selatan, Abdul Rahman, yang ditemui wartawan, mengungkapkan bahwa kinerja tim terpadu terus dipantau. Hasil yang dicapai sejauh ini sudah cukup menggembirakan. “Ter lihat kan, penambangan liar mulai berkurang. Kalaupun masih ada, itu di tempat-tempat jauh yang sulit dijangkau. Jumlahnya pun tidak banyak,” katanya.
Terkait pandangan masyarakat terhadap kinerja tim, Wabup Abdul Rahman memastikan, komitmen tim untuk memberantas illegal minning tetap berjalan. “Sementara itu, kita terus mengupayakan solusi-solusi terbaik untuk masyarakat Solok selatan,” katanya. (536)
H. Fachril Murad sendiri selaku ketua tim, mengaku timnya telah bekerja sesuai dengan amanat yang diembankan Bupati Solok Selatan H. Muzni Zakaria. “Tim ini, akan terus bekerja sampai persoalan illegal minning ini tuntas,” katanya kepada Singgalang, Selasa (18/6).
Hanya saja, setiap kerja yang dilakukan itu, tentu saja tidak semuanya bisa disampaikan kepada masyarakat. “Itu untuk kepentingan penertiban yang dilakukan tim,” tuturnya.
Disampaikan Fachril, sejauh ini aktivitas penambangan emas di Solok Selatan sudah jauh berkurang dari sebelumnya. Itu terlihat dari jumlah alat berat yang beroperasi yang sudah tidak sebanyak sebelumnya.
Upaya lain yang dilakukan adalah meminta pertanggung jawaban pihak penambang terhadap kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. “Data-data kerusakan sudah ada,” katanya.
Itu dilakukan bukan hanya oleh pihak penambang illegal, tapi juga oleh penambang berizin. “Ini akan kita bawa ke pengadilan. Saya sendiri yang akan mengadukannya nanti,” tegas Fachril.
Sementara itu, beberapa masyarakat yang ditemui Singgalang, belum melihat perubahan signifikan terhadap pemberantasan illegal minning. Banyak tempat yang selama ini menjadi lokasi pertambangan, tetap beroperasi. “Di Muko-muko, di Pinti Kayu utara, Batang Bangko dan lainnya, masih terlihat ekskavator meraung-raung menggali tanah menambang emas,” ungkap warga Padang Aro, Ed.
Disampaikan Ed, demikian juga di sepanjang batang sungai Batang Hari, kegiatan berlansung seperti biasanya. “Beberapa ekskavator dan kapal keruk masih terus bekerja. Pengusaha tambang terkesan tidak ada takut sama sekali,” paparnya.
Rapat lokasi WPR
Dalam kesempatan itu, ketua Tim terpadu pemberantasan illegal minning Solok Selatan, H. Fachril Murad, juga mengungkapkan bahwa dalam minggu ini pihaknya akan melakukan rapat dengan berbagai pihak terkait di Solok Selatan tentang penetapan lokasi Wilayah Pertambangan Rakyat.
“Ini adalah bentuk solusi yang kita carikan. WPR bukan hanya wacana, tapi kita sudah memasuki upaya penentuan lokasi yang mungkin,” katanya.
Wakil Bupati Solok Selatan, Abdul Rahman, yang ditemui wartawan, mengungkapkan bahwa kinerja tim terpadu terus dipantau. Hasil yang dicapai sejauh ini sudah cukup menggembirakan. “Ter lihat kan, penambangan liar mulai berkurang. Kalaupun masih ada, itu di tempat-tempat jauh yang sulit dijangkau. Jumlahnya pun tidak banyak,” katanya.
Terkait pandangan masyarakat terhadap kinerja tim, Wabup Abdul Rahman memastikan, komitmen tim untuk memberantas illegal minning tetap berjalan. “Sementara itu, kita terus mengupayakan solusi-solusi terbaik untuk masyarakat Solok selatan,” katanya. (536)
TPKU Maju, Makin Banyak Calon Wirausaha
Zulfadli — Maryetti, pengelola
tempat praktik keterampilan usaha (TPKU) Pondok Pesantren Al Manaar di
Akabiluru, Kabupaten Limapuluh Kota, bangga bercampur haru kala didaulat
menjadi pembicara di hadapan pengelola TPKU se-Sumatra, di Hotel The
Hills Bukittinggi akhir Mei lalu.
Betapa tidak, Maryetti dan kawan-kawan
TPKU yang dia kelola belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan,
namun dianggap sukses oleh Kementerian Koperasi dan UKM. Dia harus
bercerita kisah sukses dia dan rekannya mengelola TPKU. Berarti tidak
sia-sia mereka memperjuangkan TPKU yang diselenggarakan Pondok Pesantren
(pontren) Al Manaar sejak 2009.
Selama ekspos tersebut, Maryetti hanya mengungkapkan apa saja yang dilakukan sejak menerima bantuan TPKU dari kementerian. Dia buka rahasia seputar bagaimana mempertahankan tempat praktik keterampilan usaha di Al Manaar setelah dana bantuan dari kementerian terserap buat pembangunan gedung TPKU, pelatihan instruktur dan pembelajaran siswa.
Saat ini, TPKU dimanfatkan untuk tempat belajar keterampilan bagi santri. Pimpinan pontren yang telah ada sejak 1943, memutuskan pelajaran keterampilan jahit ini sebagai pelajaran muatan lokal.
“Alhamdulillah, kita tetap bisa memberdayakan sarana dan prasarana TPKU di pontren ini,” ujar Maryetti pada Singgalang, Senin (17/6).
Tak hanya itu, kehadiran TPKU bermanfaat sekali bagi pontren tersebut. Pengadaan baju seragam, hingga pakaian olahraga bagi 180 santri di sana bisa ditangani TPKU, sehingga keuntungan dari pengadaan itu bisa dimanfaatkan bagi kegiatan pontren lainnya.
TPKU pun bermanfaat bagi perekonomian pontren. Misalnya, gaji guru honor di Al Manaar terbantu oleh kegiatan ekonomi yang dilaksanakan.
Sukses dalam pengadaan seragam santri membuat Kemenag Limapuluh Kota mulai meliriknya sebagai pembuat seragam olahraga bagi pegawai kantor itu dalam rangka menghadapi Hari Amal Bakti Kemenag awal 2013.
“Kami bersyukur itu bisa kami tangani dengan baik. Alhamdulillah, dari pembicaraan sejauh ini, Kemenag masih mau menggandeng kami buat pengadaan seragam olahraga itudi 2014 nanti,” ungkap Maryetti.
Pada acara temu pengelola se-Sumatra TPKUyang dilaksanakan kementerian koperasi dan UKM di Hotel The Hills Bukittinggi itu, TPKU Al Manaar juga mendapat tawaran dari TPKU di Palembang dan Jambi untuk pengadaan seragam mereka. Pengelola TPKU di Bangkinang, juga kerap menghubungi Maryetti.
Katanya, mereka bertanya tentang pengadaan mesin, bahan dan hal-hal lainnya tentang pengelolaan 9 unit mesin konveksi olahraga yang dibantu kementerian dan tujuh unit mesin jahit standar yang dibeli pontren itu.
Dalam acara gelar produk TPKU yang dilaksanakan di Makassar pada 19 Juni 2013, kementerian mengundang Al Manaar. TPKU itu satu-satunya wakil Sumbar yang diundang ke acara tersebut.
Menurut Maryetti, sukses dia mengelola TPKU tak lepas dari dukungan penuh Koperasi Pontren Al Manaar. Mereka beroperasi di bawah payung koperasi pontren. Koperasi yang mengelola ketika ada orderan berjumlah besar.
Dana dari koperasi dan uang muka dari pengorder itulah yang digunakan untuk pembeli bahan dan pembayar upah untuk usaha konveksi masyarakat yang digandeng dalam pengerjaan order dimaksud.
Selain itu, siswa yang sudah mahir menjahit bisa ikut pula mengerjakan orderan. Syaratnya tidak mengang gu pelajaran mereka. Dengan demikian, siswa kian bersemangat belajar menjahit.
Diakui Maryetti belum ada siswanya yang berusaha mandiri. Mereka umumnya diserap konveksi atau usaha jahit yang banyak tersebar di Payakumbuh, Bukittinggi dan daerah lainnya. Meski mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, kemahiran menjahit bisa mereka gunakan pula untuk penambah uang kuliah.
“Itu saja sudah membanggakan kami. Apalagi jika nantinya mereka bisa membuka usaha sendiri yang mempekerjakan alumni Al Manaar,” tegas Maryetti.
Pontren Iqra, di Tarusan Pesisir Selatan. Setelah dapat TPKU pada 2010 berupa 20 mesin jahit dan satu mesin obras senilai Rp100 juta. Dapat lagi bantuan Rp120 juta dari Kemenag. Peralatan TPKU Iqra bertambah 25 mesin jahit dan 1 mesin obras.
“Sebanyak 20 siswa kami dapat pelatihan pula dari Singer Padang. Sepuluh diantaranya sudah tamat dan mereka bekerja di berbagai usaha jahit dan sulaman di Pessel dan Padang,” ujar Oky Hardiyansah, Manajer TPKU Pontren Iqra.
Pontren Diniyyah Pasia Agam yang punya TPKU di bidang konveksi dan sulaman telah bisa menggaji empat pelatihnya dari usaha TPKU. Selain bisa memenuhi kebutuhan pontren, TPKU menjalin kerjasama dengan konvek si di sekitar lokasi mereka.
Hingga mereka saling menopang satu sama lainnya. Masyarakat atau pengusaha konveksi bisa memanfaatkan pemesinan di TPKU lewat sistem kerjasama yang saling menguntungkan.
Seperti tak mau kalah, MTI Paninggahan Solok, sebagai TPKU bungsu di Sumbar sudah dapat sinyal positif dari Kemenag Kabupaten Solok.
Pengelolanya, Murni K, yang baru menerima program ini pada 2012 telah diminta kesiapannya guna memenuhi orderan pakaian seragam untuk HAB 2014.
Lain pula kisah sukses. TPKU Pontren Ar Risalah di Aie Dingin Padang, mereka bisa melayani kebutuhan roti, serabi dan penganan lainnya bagi santri dan penghuni pontren itu yang sekitar 1.000 jiwa.
Mereka bisa membukukan pendapatan Rp1 juta per hari dan akan bertambah jika banyak kegiatan di Arrisalah.
“Pendapatan kami akan bertambah jika ada acara-acara di sekolah,” ujar Erna Tri Kusuma, Ketua Koperasi Ar-Risalah saat temu TPKU Sumbar di Aula Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar beberapa waktu lalu.
Erna mengungkapkan bagaimana pihak yayasan dan sekolah menyokong kegiatan TPKU ini.
Dukungan itu tak terlepas dari produk roti dan serabi TPKU dijamin halal, enak, sehat dan alami. Sehingga dari 7 bulan terakhir bila dira-rata ada Rp2 juta per bulan. Malah Januari lalu, mereka bisa menghasilkan Rp13 juta.
Hasil menggembirakan dari program tempat praktik keterampilan usaha (TPKU) yang dilaksanakan kementerian pada pondok pesantren (pontren) dan lembaga pendidikan perdesaan lainnya di Sumbar disambut gembira Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar, Achmad Charisma.
“Perkembangan ini amat menggembirakan. Artinya pontren atau lembaga pendidikan pedesaan yang dijadikan TPKU bisa menjadi tempat mendidik dan melatih wirausahawan baru,” ujar Achmad.
Achmad yang didampingi Kabid Pemberdayaan Usaha Koperasi, Erman, gembira terhadap ekspose potensi TPKU di Sumbar tersebut. Umumnya TPKU itu telah mampu memenuhi kebutuhan santri di pontren di mana TPKU itu berada. Ada yang bisa memenuhi permintaan seragam harian, ada pula yang menjadi mitra Kemenag di daerah mereka.
Peran pengurus yayasan, pemimpin pontren dan koperasi yang menaungi TPKU sangat strategis. Sikap positif mereka berkontribusi banyak terhadap pengembangan TPKU. Di Arrisalah, acara-acara yang dilaksanakan sekolah atau yayasan selalu memanfaatkan TPKU.
Menurut Achmad, perkem bangan bagus ini bermanfaat bagi para santri. Mereka tidak hanya mengandalkan jalan dakwah yang harus dilakoni setelah tamat belajar di pesantren. Mereka bisa menempuh jalan niaga untuk menopang kegiatan dakwah mereka. Atau tetap di jalur wirausaha bagi yang kurang mempunyai kemampuan berdakwah.
Dengan mempersiapkan para santri atau siswa di lembaga pendidikan perdesaan ini, kata Achmad, kementerian ingin mempersiapkan calon wirausaha baru sejak dini. Siswa di lembaga pendidikan menengah disuntikkan virus wirausaha agar mereka tidak hanya mengandalkan cari kerja setamat belajar.
Apa yang dikatakan Achmad sangat beralasan. Sebab harus dicari cara agar tingkat pengangguran terbuka di Indonesia umumnya dan di Sumbar khususnya bisa diku rangi dari waktu ke waktu.
Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia menurut data BPS pada 2011 adalah 8.319.779 orang. Mereka itu dikelompokkan atas pernah bekerja 2.106.542 dan tak pernah bekerja 5.213. 237.
Sementara di Sumbar pengangguran terbuka berjumlah 152.586 orang. Dari jumlah itu persentase pengangguran terbanyak disumbangkan oleh tamatan SMTA 10,98 persen dan SMK 9,59 persen. Kemudian disusul lulusan perguruan tinggi 7,75 persen dan SMP 7,22 persen.
Dengan komposisi seperti itu menggambarkan bahwa pendidikan formal belumlah memberikan jaminan bagi seseorang untuk diterima di dunia kerja. Sebabnya, pendidikan formal cenderung menempa siswanya dengan ilmu pengetahuan, bukan dengan keterampilan praktis.
Oleh karena itu, perlu diupayakan program yang bisa mempersiapkan siswa di tingkat pendidikan menengah bisa bekerja. Minimal dengan keterampilan yang dia punyai, dia bisa menjadikannya sebagai penopang hidup. Bahkan bukan tak mungkin mereka membuka lapangan kerja bagi yang lainnya.
Hal inilah yang dituju oleh Kementerian Koperasi dan UKM ketika menggelindingkan program TPKU ini sejak 2006. Ternyata pada banyak tempat di Indonesia, TPKU tumbuh subur. Mereka tidak hanya memberdayakan santri, namun juga usaha masyarakat di sekitarnya.
Bayangkan sejak 2006 sudah lebih dari 26 TPKU di Sumbar, dan 1.209 se-Indonesia. Jika masing-masing TPKU bisa mendidik 10 siswa, berarti sudah ada 260 calon wirausaha baru di Sumbar dan 12.090 di Indonesia.
Kalaupun sebagian mereka melanjutkan ke perguruan tinggi, nantinya mereka akan dihadapkan lagi pada program kewirausahaan nasional yang digagas kementerian.
Kini sudah banyak mahasiswa yang buka usaha. Lewat modal sendiri atau patungan dengan rekannya. Mereka potensial direkrut dalam program kewirausahaan nasional.
Bahkan setelah dapat gelar sarjana pun mereka juga bisa ditarik menjadi sarjana wirausaha. Dengan cara ini, kian banyak calon wirausaha baru yang berpotensi membuka lapangan kerja baik bagi dirinya sendiri, keluarga atau masyarakat luas. (*)
Selama ekspos tersebut, Maryetti hanya mengungkapkan apa saja yang dilakukan sejak menerima bantuan TPKU dari kementerian. Dia buka rahasia seputar bagaimana mempertahankan tempat praktik keterampilan usaha di Al Manaar setelah dana bantuan dari kementerian terserap buat pembangunan gedung TPKU, pelatihan instruktur dan pembelajaran siswa.
Saat ini, TPKU dimanfatkan untuk tempat belajar keterampilan bagi santri. Pimpinan pontren yang telah ada sejak 1943, memutuskan pelajaran keterampilan jahit ini sebagai pelajaran muatan lokal.
“Alhamdulillah, kita tetap bisa memberdayakan sarana dan prasarana TPKU di pontren ini,” ujar Maryetti pada Singgalang, Senin (17/6).
Tak hanya itu, kehadiran TPKU bermanfaat sekali bagi pontren tersebut. Pengadaan baju seragam, hingga pakaian olahraga bagi 180 santri di sana bisa ditangani TPKU, sehingga keuntungan dari pengadaan itu bisa dimanfaatkan bagi kegiatan pontren lainnya.
TPKU pun bermanfaat bagi perekonomian pontren. Misalnya, gaji guru honor di Al Manaar terbantu oleh kegiatan ekonomi yang dilaksanakan.
Sukses dalam pengadaan seragam santri membuat Kemenag Limapuluh Kota mulai meliriknya sebagai pembuat seragam olahraga bagi pegawai kantor itu dalam rangka menghadapi Hari Amal Bakti Kemenag awal 2013.
“Kami bersyukur itu bisa kami tangani dengan baik. Alhamdulillah, dari pembicaraan sejauh ini, Kemenag masih mau menggandeng kami buat pengadaan seragam olahraga itudi 2014 nanti,” ungkap Maryetti.
Pada acara temu pengelola se-Sumatra TPKUyang dilaksanakan kementerian koperasi dan UKM di Hotel The Hills Bukittinggi itu, TPKU Al Manaar juga mendapat tawaran dari TPKU di Palembang dan Jambi untuk pengadaan seragam mereka. Pengelola TPKU di Bangkinang, juga kerap menghubungi Maryetti.
Katanya, mereka bertanya tentang pengadaan mesin, bahan dan hal-hal lainnya tentang pengelolaan 9 unit mesin konveksi olahraga yang dibantu kementerian dan tujuh unit mesin jahit standar yang dibeli pontren itu.
Dalam acara gelar produk TPKU yang dilaksanakan di Makassar pada 19 Juni 2013, kementerian mengundang Al Manaar. TPKU itu satu-satunya wakil Sumbar yang diundang ke acara tersebut.
Menurut Maryetti, sukses dia mengelola TPKU tak lepas dari dukungan penuh Koperasi Pontren Al Manaar. Mereka beroperasi di bawah payung koperasi pontren. Koperasi yang mengelola ketika ada orderan berjumlah besar.
Dana dari koperasi dan uang muka dari pengorder itulah yang digunakan untuk pembeli bahan dan pembayar upah untuk usaha konveksi masyarakat yang digandeng dalam pengerjaan order dimaksud.
Selain itu, siswa yang sudah mahir menjahit bisa ikut pula mengerjakan orderan. Syaratnya tidak mengang gu pelajaran mereka. Dengan demikian, siswa kian bersemangat belajar menjahit.
Diakui Maryetti belum ada siswanya yang berusaha mandiri. Mereka umumnya diserap konveksi atau usaha jahit yang banyak tersebar di Payakumbuh, Bukittinggi dan daerah lainnya. Meski mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, kemahiran menjahit bisa mereka gunakan pula untuk penambah uang kuliah.
“Itu saja sudah membanggakan kami. Apalagi jika nantinya mereka bisa membuka usaha sendiri yang mempekerjakan alumni Al Manaar,” tegas Maryetti.
Pontren Iqra, di Tarusan Pesisir Selatan. Setelah dapat TPKU pada 2010 berupa 20 mesin jahit dan satu mesin obras senilai Rp100 juta. Dapat lagi bantuan Rp120 juta dari Kemenag. Peralatan TPKU Iqra bertambah 25 mesin jahit dan 1 mesin obras.
“Sebanyak 20 siswa kami dapat pelatihan pula dari Singer Padang. Sepuluh diantaranya sudah tamat dan mereka bekerja di berbagai usaha jahit dan sulaman di Pessel dan Padang,” ujar Oky Hardiyansah, Manajer TPKU Pontren Iqra.
Pontren Diniyyah Pasia Agam yang punya TPKU di bidang konveksi dan sulaman telah bisa menggaji empat pelatihnya dari usaha TPKU. Selain bisa memenuhi kebutuhan pontren, TPKU menjalin kerjasama dengan konvek si di sekitar lokasi mereka.
Hingga mereka saling menopang satu sama lainnya. Masyarakat atau pengusaha konveksi bisa memanfaatkan pemesinan di TPKU lewat sistem kerjasama yang saling menguntungkan.
Seperti tak mau kalah, MTI Paninggahan Solok, sebagai TPKU bungsu di Sumbar sudah dapat sinyal positif dari Kemenag Kabupaten Solok.
Pengelolanya, Murni K, yang baru menerima program ini pada 2012 telah diminta kesiapannya guna memenuhi orderan pakaian seragam untuk HAB 2014.
Lain pula kisah sukses. TPKU Pontren Ar Risalah di Aie Dingin Padang, mereka bisa melayani kebutuhan roti, serabi dan penganan lainnya bagi santri dan penghuni pontren itu yang sekitar 1.000 jiwa.
Mereka bisa membukukan pendapatan Rp1 juta per hari dan akan bertambah jika banyak kegiatan di Arrisalah.
“Pendapatan kami akan bertambah jika ada acara-acara di sekolah,” ujar Erna Tri Kusuma, Ketua Koperasi Ar-Risalah saat temu TPKU Sumbar di Aula Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar beberapa waktu lalu.
Erna mengungkapkan bagaimana pihak yayasan dan sekolah menyokong kegiatan TPKU ini.
Dukungan itu tak terlepas dari produk roti dan serabi TPKU dijamin halal, enak, sehat dan alami. Sehingga dari 7 bulan terakhir bila dira-rata ada Rp2 juta per bulan. Malah Januari lalu, mereka bisa menghasilkan Rp13 juta.
Hasil menggembirakan dari program tempat praktik keterampilan usaha (TPKU) yang dilaksanakan kementerian pada pondok pesantren (pontren) dan lembaga pendidikan perdesaan lainnya di Sumbar disambut gembira Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar, Achmad Charisma.
“Perkembangan ini amat menggembirakan. Artinya pontren atau lembaga pendidikan pedesaan yang dijadikan TPKU bisa menjadi tempat mendidik dan melatih wirausahawan baru,” ujar Achmad.
Achmad yang didampingi Kabid Pemberdayaan Usaha Koperasi, Erman, gembira terhadap ekspose potensi TPKU di Sumbar tersebut. Umumnya TPKU itu telah mampu memenuhi kebutuhan santri di pontren di mana TPKU itu berada. Ada yang bisa memenuhi permintaan seragam harian, ada pula yang menjadi mitra Kemenag di daerah mereka.
Peran pengurus yayasan, pemimpin pontren dan koperasi yang menaungi TPKU sangat strategis. Sikap positif mereka berkontribusi banyak terhadap pengembangan TPKU. Di Arrisalah, acara-acara yang dilaksanakan sekolah atau yayasan selalu memanfaatkan TPKU.
Menurut Achmad, perkem bangan bagus ini bermanfaat bagi para santri. Mereka tidak hanya mengandalkan jalan dakwah yang harus dilakoni setelah tamat belajar di pesantren. Mereka bisa menempuh jalan niaga untuk menopang kegiatan dakwah mereka. Atau tetap di jalur wirausaha bagi yang kurang mempunyai kemampuan berdakwah.
Dengan mempersiapkan para santri atau siswa di lembaga pendidikan perdesaan ini, kata Achmad, kementerian ingin mempersiapkan calon wirausaha baru sejak dini. Siswa di lembaga pendidikan menengah disuntikkan virus wirausaha agar mereka tidak hanya mengandalkan cari kerja setamat belajar.
Apa yang dikatakan Achmad sangat beralasan. Sebab harus dicari cara agar tingkat pengangguran terbuka di Indonesia umumnya dan di Sumbar khususnya bisa diku rangi dari waktu ke waktu.
Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia menurut data BPS pada 2011 adalah 8.319.779 orang. Mereka itu dikelompokkan atas pernah bekerja 2.106.542 dan tak pernah bekerja 5.213. 237.
Sementara di Sumbar pengangguran terbuka berjumlah 152.586 orang. Dari jumlah itu persentase pengangguran terbanyak disumbangkan oleh tamatan SMTA 10,98 persen dan SMK 9,59 persen. Kemudian disusul lulusan perguruan tinggi 7,75 persen dan SMP 7,22 persen.
Dengan komposisi seperti itu menggambarkan bahwa pendidikan formal belumlah memberikan jaminan bagi seseorang untuk diterima di dunia kerja. Sebabnya, pendidikan formal cenderung menempa siswanya dengan ilmu pengetahuan, bukan dengan keterampilan praktis.
Oleh karena itu, perlu diupayakan program yang bisa mempersiapkan siswa di tingkat pendidikan menengah bisa bekerja. Minimal dengan keterampilan yang dia punyai, dia bisa menjadikannya sebagai penopang hidup. Bahkan bukan tak mungkin mereka membuka lapangan kerja bagi yang lainnya.
Hal inilah yang dituju oleh Kementerian Koperasi dan UKM ketika menggelindingkan program TPKU ini sejak 2006. Ternyata pada banyak tempat di Indonesia, TPKU tumbuh subur. Mereka tidak hanya memberdayakan santri, namun juga usaha masyarakat di sekitarnya.
Bayangkan sejak 2006 sudah lebih dari 26 TPKU di Sumbar, dan 1.209 se-Indonesia. Jika masing-masing TPKU bisa mendidik 10 siswa, berarti sudah ada 260 calon wirausaha baru di Sumbar dan 12.090 di Indonesia.
Kalaupun sebagian mereka melanjutkan ke perguruan tinggi, nantinya mereka akan dihadapkan lagi pada program kewirausahaan nasional yang digagas kementerian.
Kini sudah banyak mahasiswa yang buka usaha. Lewat modal sendiri atau patungan dengan rekannya. Mereka potensial direkrut dalam program kewirausahaan nasional.
Bahkan setelah dapat gelar sarjana pun mereka juga bisa ditarik menjadi sarjana wirausaha. Dengan cara ini, kian banyak calon wirausaha baru yang berpotensi membuka lapangan kerja baik bagi dirinya sendiri, keluarga atau masyarakat luas. (*)
Polres Solsel Amankan Kayu Ilegal
Tanggal 15 June 2013
SOLSEL — Sebanyak dua truk kayu
yang diduga hasil illegal logging, diamankan tim buser Polres Solok
Selatan, Kamis (13/6) di dua lokasi berbeda. Satu truk diamankan di daerah Bidar Alam
Kecamatan Sangir, bermuatan lima kubik kayu jenis meranti. Satu truk
lagi di daerah Padang Air Dingin, bermuatan enam kubik kayu berjenis
banio. Kedua truk berikut muatan dan sopirnya diamankan di Mapolres Solok selatan di Padang Aro. Penangkapan itu merupakan gebrakan perdana AKBP Nanang Putu Wardianto
yang baru menjabat menjabat Kapolres sejak dua hari lalu. “Ini komitmen
kepolisian untuk memberantas illegal logging dan illegal minning di
Solok Selatan,” ungkap Kapolres Nanang kepada wartawan, Jumat (14/6) di
ruang kerjanya. Sebelumnya, Kapolda Brigjen Noer Ali, dalam wawancara dengan Singgalang
beberapa waktu lalu memang menyampaikan pekerjaan rumah pertama bagi
Kapolres ba ru di Solok Selatan adalah pem berantasan illegal logging. Disampaikan Nanang, penangkapan dua truk bermuatan kayu tersebut,
dilakukan dalam operasi tim buser Polres pada Kamis malam (13/6).
Setelah menyisiri jalur-jalur yang diduga rute pengangkutan kayu hasil
illegal logging, tim berhasil mengamankan dua truk bermuatan kayu jenis
meranti dan banio. Polisi masih terus melakukan pengembangan. Terutama menyangkut pemilik
dan tempat tujuan kayu-kayu tersebut. Dua sopir truk, A (54), warga
Sampu dan N (32) warga Padang Alai.
Nanang Putu Wardianto, juga menyampaikan upaya pemberantasan illegal logging akan terus dilakukan di wilayah kerjanya. Laporan masyarakat dan informasi berbagai pihak akan terus ditindaklanjuti. (536)
Nanang Putu Wardianto, juga menyampaikan upaya pemberantasan illegal logging akan terus dilakukan di wilayah kerjanya. Laporan masyarakat dan informasi berbagai pihak akan terus ditindaklanjuti. (536)
Bos Tambang Belum Tersentuh
Padang Ekspres • Jumat, 21/06/2013
Padang, Padek—Walaupun
telah mengantongi sejumlah nama bos tambang emas ilegal di Solok
Selatan, tapi hingga kemarin Polda Sumbar belum juga menangkap bos illegal mining tersebut.
Sebelumnya, Polda Sumbar sudah menetapkan
20 nama bos tambang yang melakukan praktik tambang emas ilegal di
aliran Batang Hari Solsel ke dalam daftar pencarian orang (DPO). Sejauh
ini, baru 10 orang operator ekskavator yang ditangkap.
Kabid Humas Polda Sumbar AKBP Syamsi
mengatakan, Polda Sumbar masih terus melakukan penyelidikan terhadap
20 orang bos tambang tersebut dan melacak keberadaan bos-bos tersebut.
Anehnya, meski sudah menjadikan mereka
DPO, Polda tidak mau merilis nama 20 orang tersebut. “Kita masih terus
menyelidiki, 20 orang yang sudah masuk ke dalam DPO tersebut. Saat ini,
berkas 10 orang operator ekskavator pertambangan ilegal sudah diserahkan
ke Kejari Solsel,” tambah Syamsi.
Syamsi menegaskan, Polda Sumbar sedikit pun tidak akan memberi toleransi terhadap bos dan pelaku praktik illegal mining lainnya di Solsel dan di wilayah lainnya di Sumbar.
Seluruh laporan dan berkas kasus terkait praktik illegal mining
yang telah diterima oleh Polda dipastikan diusut tuntas dan tidak akan
ditutupi proses hukumnya. “Komitmen kita sudah jelas, bahwa tidak ada
toleransi bagi pelaku praktik illegal mining,” tegas Syamsi.
Sementara itu, Kapolres Solsel AKBP Nanang
Putu Wardianto mengatakan, hingga kini penyidik Polres Solsel masih
terus menyelidiki 20 orang bos tambang yang telah jadi DPO. “Penyidik
sedang bekerja mengumpulkan informasi, kita sama-sama berusaha
mengungkap keberadaan 20 orang bos tambang ini,” ujar Nanang.
Soal informasi adanya ekskavator yang telah ditangkap dan diberi police line
oleh polisi dinyatakan hilang, Nanang belum mau memberikan
penjelasan. “Tim kita sedang turun ke lokasi untuk mengecek
kebenarannya,” ujar Nanang. (w)
Depot Air Isi Ulang tak Kantongi Izin Dinkes Solsel Imbau Masyarakat Konsumsi Air yang Dimasak
Padang Ekspres • Sabtu, 29/06/2013 10:58 WIB • Nenengsih • 97 klik
Solsel, Padek—Masyarakat
Kabupaten Solok Selatan dihimbau hati-hati mengkonsumsi air minum.
Sebanyak 33 anak mengalami diare dan sakit perut karena diduga
keracunan air minum. Sebagian anak saat ini masih menjalani perawatan di
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Solsel. Sisi lain, puluhan depot air isi
ulang di Solsel, belum mengantongi izin dari dinas kesehatan setempat.
“Kami masih menunggu hasil dari
labor dari Dinas Kesehatan Solsel. Apakah sakitnya memang karena air
minum atau karena faktor udara. Dugaan (karena air minum-red) yang
mengarah ke sana memang ada. Tapi kepastiannya kita tunggu saja dari
Dinkes. Besok (hari ini-red) hasilnya mungkin sudah sampai kepada kita,”
ungkap Direktur RSUD Solsel, Aminah Jaelani, Kamis (27/6).
Gejala yang dialami oleh pasien
menurut Aminah antara lain diare dan sakit perut. Pada umumnya pasien
tersebut adalah anak berusia di bawah 12 tahun.
Kepala Dinas Kesehatan Solsel
Novirman saat dikonfirmasi mengungkapkan 33 pasien yang dilaporkan
oleh pihak RSUD tersebut merupakan akumulasi jumlah pasien yang
dicurigai keracunan air minum selama dua pekan terakhir. Terhadap hal
itu, sejak Kemarin (27/6) Dinkes telah menurunkan tim untuk mengambil
sampel air di depot air isi ulang untuk di tes labor.
“Kita akan memeriksa seluruh
depot yang ada di Solsel. Sampelnya kita ambil nanti kita tes labor.
Kalau memang terbukti tidak laik sehat, maka akan segera kita
rekomendasikan depot tersebut untuk ditutup,” tegas Novirman didampingi
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL)
Rossa Yulfiano dan Kasi P2PL Abdul Haris saat ditemui di ruang kerjanya.
Penutupan depot air isi ulang
nantinya akan berkoordinasi dengan SKPD terkait seperti Kantor
Pelayanan Umum dan Perizinan (KPUP), Sat Pol PP, dan Kepolisian.
Catatan Dinkes Solsel, saat ini
di Solsel terdapat 55 depot air isi ulang. Dari jumlah tersebut hanya
26 depot yang laik sehat atau telah mengantongi rekomendasi dari Dinas
Kesehatan Solsel. Sedangkan 29 lainnya belum mendapatkan sertifikat
laik sehat. Namun, 29 depot ini tetap beroperasi. Ada yang telah
beroperasi sejak dua bulan lalu, bahkan ada yang sudah beroperasi dua
tahun terakhir.
“Dari 26 yang sudah keluar rekomendasi Dinkes, 14 diantaranya habis masa berlaku,” imbuh Rossa Yulfiano.
Dinas kesehatan Solsel melalui
Puskesmas mengimbau kepada masyarakat untuk sementara waktu hanya
mengkonsumsi air yang dimasak. Bila terpaksa harus mengkonsumsi air
galon, maka air galon yang sudah dibuka masih boleh diminum hanya 1x24
jam. Dari segi fisik juga perlu dicermati apakah air tidak berbau, tidak
berasa dan tidak berwarna. “Selama belum keluar hasil labor tentang
mana depot yang airnya laik konsumsi, sebaiknya masyarakat minum air
yang dimasak sendiri di rumah,” harap Novirman.
Novirman menyayangkan ulah para
pengusaha depot yang tetap beroperasi meski tak mengantongi laik
sehat. Ada juga depot yang langsung menguji sendiri sampel airnya ke
Padang, lalu mendapatkan hasil tes labor atau rekomendasi dari labor
tersebut. Padahal, sesuai aturan, Dinkes setempatlah yang berwenang
mengeluarkan rekomendasi laik sehat. Dinkes mencurigai, bisa saja
sampel yang dibawa langsung oleh pengusaha depot ke Padang, bukanlah
sampel air yang di akan diproduksi di depot.
Dinkes juga mengingatkan bila
sebuah depot telah mengantongi laik sehat maka biasanya pada brand
akan tertera nomor laik sehat dari Dinkes. Misalnya,
nomor:090/2063/P2P-PL/LHS/Dink es/2011. (*)
Sungai di Solsel Tercemar
Solsel, Padek—Kantor
Lingkungan Hidup Solok Selatan memastikan sungai di daerahnya banyak
yang tercemar. Selain akibat penambangan emas, juga akibat galian C.
Sungai-sungai itu positif terdeteksi zat kimia (mercuri) yang dapat
membunuh ekosistem sungai dan pencemaran sungai.
Hal itu disampaikan Kepala
Kantor KLH Solsel, Hapison setelah uji labor sampel air sungai di 19
sungai besar di Solsel. Analisis yang dilakukan KLH Solsel untuk
memastikan dampak pencemaran sungai di kawasan illegal mining (pertambangan emas liar) dibandingkan aliran sungai yang tidak berpotensi emas.
“Satu dari 19 air sungai yang
diambil sampelnya, positif terdeteksi zat kimia (mercuri) yang dapat
membunuh ekosistem sungai dan pencemaran sungai, yaitu Batang Bangko,”
ujarnya kepada Padang Ekspres, Kamis (27/6).
Batang Bangko merupakan
satu-satunya sungai penghasil emas yang bisa dicek sampel airnya oleh
KLH Solsel. Sementara 18 sungai lainnya yang bukan kawasan tambang
emas juga ada yang tercemar. Penyebabnya, galian C (tambang pasir) dan
faktor alam. 18 sungai lainnya itu di antaranya, Batang Sangir Sampu 1,
Batang Sangir Sampu 2, Batang Liki Puskesmas 1, Batang Liki Puskesmas
2, Batang Liki Sei Barameh.
Kemudian, Batang Sangir Atas,
Batang Sangir Bawah, Batang Ganeh, Batang Kunyit, Batang Jujuan SS2,
Outlet Ipal, Batang Ganeh KSI, Batang Ikur, Batang Suliti, Batang Suliti
Balun, Muaro Suliti, Pinang Pulakek, dan Batang Pinang Awan.
Kata Hapison, Batang Hari, Batang Gumanti, dan Muaro Sangir (kawasan illegal mining)
tidak dilakukan uji sampel di KLH Solsel karena sungai tersebut masuk
pengawasan Pemprov Sumbar dan Pusat Pengelolaan Eko Radior (PPE) dari
KLH.
Menurut Hapison, tiga sungai
itu diduga terancam mercuri atau zat kimia yang dapat membunuh ekosistem
sungai dan merusak air sungai, akibat pertambangan liar.
Zat kimia yang digunakan
penambang dapat mempengaruhi koordinat air, elevasi sungai (ketinggian
dari permukaan laut), kedalaman rata-rata sungai, kecepatan arus, debit
air, cuaca lingkungan, cahaya, suhu angin, kecepatan angin, suhu udara,
suhu air, bau, warna, dan lapisan minyak air sungai.
“Dampak lain terhadap sungai,
yakni RH, BOD, COD, DO, TSS, dan TDS. Bila elemen ini terganggu, maka
dapat mengancam ekositem sungai dan mutu air. Sayang kita tak memiliki
kewenangan dalam analisis uji labor sungai di kawasan pertambangan
liar,” ungkap Hapison kepada wartawan.
Direktur Eksekutif Walhi
Sumbar, Khalid Syaifullah mengungkapkan, aktivitas tambang liar memang
telah menyebabkan pencemaran sungai di hulu Batang Hari hingga ke
Dharmasraya. Ini menyebabkan sedimentasi sungai dan kadar mercuri
melampau batas.
Dia menyebut pengambilan
sampel hingga uji labor di aliran Batang Hari bukan hanya kewenangan
Pemprov Sumbar, tapi juga Pemkab Solsel.
“Pemkan Solsel harus cepat tanggap sebelum datang bencana atau meracuni sungai di kabupaten tetangga hingga Jambi,” jelasnya. (mg20)
48.461 Siswa Madrasah Sumbar Dapat Bantuan
Padang, Padek—Sumbar
mendapatkan kuota bantuan siswa miskin (BSM) sebanyak 48.461 orang.
Dengan rincian, untuk Madrasah Ibtidaiyah 11.677 orang, Madrasah
Tsanawiyah (MTs) 25.663 orang dan Madrasah Aliyah 11.101 orang.
Penyaluran BSM dilakukan dalam
dua semester tahun pelajaran. BSM tersebut dapat dimanfaatkan untuk 4
kegiatan, yakni pembelian buku tulis, baju seragam dan perlengkapan
sekolah, tranportasi ke madrasah dan keperluan lain yang berkaitan
dengan pembelajaran di madrasah.
Asisten II Setprov Sumbar,
Syafrial didampingi Kepala Biro Bina Sosial, Eko Faisal mengatakan,
dari 2,7 juta siswa dan pelajar yang diberikan bantuan siswa miskin oleh
pemerintah, sebanyak 48.461 ribu untuk Sumbar.
Ia menyebutkan, 40 persen orangtua siswa madrasah adalah golongan keluarga tidak mampu.
Banyak siswa miskin tidak
sanggup melanjutkan pendidikan karena harus mengeluarkan biaya
transportasi, seragam, sepatu, buku tulis dan biaya lainnya. Untuk itu,
diberikan BSM agar siswa miskin memperoleh akses pelayanan pendidikan,
mencegah angka putus sekolah dan menarik siswa miskin untuk bersekolah,
membantu siswa miskin memenuhi kebutuhan individual dalam kegiatan
pembelajaran dan mendukung penutasan wajib belajar pendidikan dasar
sembilan tahun dan tingkat menegah atas.
Adapun mekanisme pengusulan
calon penerima BSM, yakni membawa kartu KPS/BSM ke sekolah. Selanjutnya,
sekolah merekap, mengusulkan penerima kartu dan nonkartu sebelum
diserahkan ke Kantor Kemenag kabupaten/kota untuk diusulkan ke Kanwil
Kemenag provinsi.
Untuk Madrasah Ibtidaiyah
(MI) kelas I menerima Rp 245 ribu. Selain kelas I menerima Rp 425 ribu.
Untuk jenjang MTs kelas VII sebesar Rp 295 ribu. Selain kelas VII
menerima Rp 575 ribu. Sementara itu, untuk jenjang MA kelas X sampai
XII mendapatkan Rp 700 ribu. Penyaluran BSM akan dilakukan dalam 2
semester tahun pelajaran. Semester 1 disalurkan pada bulan Mei, Juni,
Agustus, September. Sedangkan semester kedua pada Januari, Maret, April,
Juni, Juli.
“Pemanfaatan dana BSM dapat
dipergunakan untuk pembelian buku dan alat tulis, pembelian baju seragam
dan perlengkapan sekolah, pembayaran transportasi ke madrasah dan
keperluan lain yang berkaitan dengan pembelajaran madrasah,” ujarnya.
BSM ini bagian dari program
percepatan dan perluasan perlindungan sosial (P4S). Program P4S
berupa subsidi beras untuk keluarga miskin, program keluarga harapan
(PKH) dan BSM. “Untuk PKH, setahu saya masih dalam pembahasan terkait
kuota dan mekanisme penyalurannya,” ujarnya.
Sementara untuk raskin, ada
penambahan pagu selama 3 bulan. Rumah tangga sasaran (RTS) tak berubah.
“Biasanya masyarakat hanya menerima 12 kali setahun, sekarang 15 kali
setahun,” ujarnya.
Pagu raskin tambahan
disalurkan bulan Juni, Juli dan September. Setiap bulan dilakukan 2
kali penyaluran dengan total 30 kg. Mekanisme penyaluran raskin
disempurnakan dengan menggunakan sistem kartu perlindungan sosial
(KPS). Penyaluran raskin bulan Juni masih menggunakan mekanisme lama.
Pada Juli nanti, penyaluran raskin dengan sistem kartu.
Total penerima raskin tahun
ini 275.431 RTS. Adapun jumlah pagu raskin Sumbar sebanyak 49.577.580
kg. Dengan rincian, Kepulauan Mentawai 10.303 kg, Pesisir Selatan
24.298 kg, Solok 22.828 kg, Sijunjung 11.999 kg, Tanahdatar 18.634 kg,
Padangpariaman 21.794 kg, Agam 26.235 kg, Limapuluh Kota 24.946 kg,
Pasaman 20.193 kg, Solok Selatan 9.188 kg, Dharmasraya 9.566 kg,
Pasaman Barat 26.652 kg, Padang 30.474 kg, Kota Solok 2.507 kg,
Sawahlunto 1.114 kg, Padangpanjang 2.359 kg, Bukittinggi 2.644 kg,
Payakumbuh 6.383 kg dan Pariaman 3.314 kg.
“Jumlah RTS-PM (Rumah Tangga
Sasaran Penerima Manfaat) setiap kota dan kabupaten ditetapkan
berdasarkan data PPLS 2011 yang dikelola dalam basis data terpadu oleh
Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K),” ucapnya.
Dia mengatakan, raskin
disalurkan Bulog ke titik distribusi. RTS membawa KPS ke titik titik
distribusi untuk membeli raskin seharga Rp 1.600/kg.
Bagaimana dengan bantuan
lansung subsidi masyarakat (BLSM) termasuk program kompensasi khusus,
sama dengan program infrastruktur dasar. “Kalau BLSM, kantor pos yang
menyalurkannya. Kami juga tidak tahu berapa kuota masyarakat Sumbar
yang mendapatkannya, karena tak pernah kami diberitahukan. Mungkin
karena waktunya sangat kasip. Kalau data BLSM, kantor pos yang lebih
tahu,” ujarnya. (ayu)
Dua Hektar Hutan Terbakar
Padang Ekspres • Selasa, 25/06/2013
Solsel, Padek—Dalam
sehari, dua peristiwa kebakaran areal hutan kembali terjadi di Solok
Selatan. Yakni sekitar dua lahan hutan kosong di Golden Arm, Nagari
Lubukgadang Kecamatan Sangir pukul 14.15 WIB dan di Jorong Kotogadang,
Nagari Lubukmalako, Kecamatan Sangirjujuan, sekitar 150 meter persegi
pada pukul 14.30 WIB, Senin (24/6).
“Peristiwa kebakaran tersebut terjadi,
akibat api unggun sisa pembakaran sampah dilokasi perladangan warga
diterbangkan angin kencang. Sehingga api menyebar di beberapa titik
dan menghanguskan dua hektar lahan kosong di pusat Pengujian Kendaraan
bermotor hanya beberapa meter dari kantor DPRD Solok Selatan,” jelas
Hamudis Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solsel kepada
Padang Ekspres, di Padangaro.
Di tengah hangatnya terik matahari, angin
pun bertiup kencang, sehingga api mudah menjalar diberbagai titik.
Namun dalam waktu 45 menit, dua unit mobil pemadam kebakaran dan 15
orang personil yang dikerahkannya mampu mematikan api yang berkobar
tersebut.
Prioritas titik api yang terlebih dahulu
dipadamkan, yakni dilokasi pemukiman warga. Agar kobaran sijago merah
itu, tidak mencapai lokasi rumah warga. Kemudian dititik lokasi Balai
Pengujian Kendaraan Bermotor (BPKB), dalam waktu 15 menit api mampu
dilumpuhkan. “Usai pemadaman di titik pemukiman warga dan di lokasi
BPKB, kemudian pemadaman selanjutnya di lokasi lahan kosong,”ungkap
Hamudis.
Amukan api yang terjadi di Nagari
Lubukmalako, Kecamatan Sangir Jujuan, berasal dari sisa pembuangan
serbuk sarkel (tempat pengolahan kayu). Akibatnya menghanguskan
sekitar 150 meter persegi areal hutan yang berada di daerah perbukitan.
Peristiwa itu tidak menimbulkan korban jiwa.
“Pemadam kebakaran dibantu warga, camat
dan wali nagari memadamkan api tersebut. Kita berterima kasih atas
partisipasi warga yang mau menyelamatkan hutan yang lalap api,”jelasnya.
Jumat (21/6) lalu, dua peristiwa kebakaran
juga menghanguskan setidaknya 3,5 hektar perkebunan rakayat di Solok
Selatan. Yakni di Mudiak Lolo, Nagari Pakanrabaa, Kecamatan KPGD dua
hektar dan di Sampu, Nagari Lubuk Gadang Utara, Kecamatan Sangir 1,5
hektar. “Ini juga akibat pembakaran sampah dan api unggun,” katanya.
Hamudis pun menghimbau, agar warga tidak membakar sampah disembarang
tempat atau pun membuang puntung rokok, karena dampaknya juga
merugikan masyarakat itu sendiri. (mg20)
Pertanian Solsel Dinilai Gagal Puluhan Ha Sawah Gagal Panen
Solsel, Padek —Puluhan
hektare sawah di Solok Selatan gagal panen, akibat serangan hama
keong, tikus, kelangkaan pupuk, faktor irigasi dan dampak cuaca ektrem
di daerah penghasil beras itu. Dinas Pertanian Solsel dinilai petani,
gagal mempertahankan swasembada pengan beras surplus di Solok
Selatan.
Pantauan Padang Ekspres di
lapangan, dari 9.540 hektare lahan pertanian padi sawah di Bumi
Sarantau Sasurambi, diperkirakan 95 hektare gagal panen. Ini menyebabkan
pasokan beras 2013 bakal berkurang. Dinas Pertanian pun belum
merespons ancaman ini.
Yakni di Kecamatan Sangir,
Sangir Jujuan, KPGD, Pauh Duo, Sungaipagu dan lainnya. “Petani mulai
rugi, hasil panen padi sawah berkurang. Dinas Pertanian cuek-cuek
saja,” ungkap salah seorang penyuluh pertanian yang namanya tidak mau
disebutkan, Minggu (30/6) di Padangaro.
Ernita, 39, petani Sungaipagu menyebutkan sejak awal penanaman padi, hama keong terus menyerang sawahnya.
Saat padi menguning tikus pun merusak, sebelum memanen padi rebah dan buahnya beterbangan akibat angin badai bulan lalu.
“Petani mengeluh tahun ini
gagal panen. Biasanya saya panen padi permusim 4 ton, tapi kini hanya
2,5 ton. Bila dampak tersebut terus terjadi, Solsel bakal kurang pasokan
beras,” jelasnya.
Ketua Kelompok Tani Sangir,
Safli Hendri mengaku kecewa terhadap Dinas Pertanian Solok Selatan,
karena tak merespons keluhan masyarakat tani di daerah itu. Petani
mengeluh, puluhan hektare sawah gagal panen sejak Januari 2013.
“Kita kecewa dengan dinas
pertanian yang kurang memperhatikan petani, tanpa ada petani lumbung
padi Solsel bakal kosong,” katanya.
Biasanya dalam satu hektare,
petani bisa menghasilkan 2 hingga 3 ton panen padi sawah. Namun sejak
Januari 2013, mereka hanya memanen sekitar 1 ton padi. Akibat faktor
irigasi yang tidak diperbaiki, kelangkaan pupuk, serangan hama tikus,
hama keong dan pengaruh angin badai atau cuaca ektrem di Solsel.
Safli mengatakan, Solsel yang sudah menjadi lumbung padi di tingkat nasional, akan terancam kehilangan beras.
Terpisah, Kepala Dinas
Pertanian Solsel, Yul Amri menjelaskan soal ancaman hama keong
sebaiknya petani mengeringkan sawah usai ditanam. Pihaknya dalam hal
ini, berjanji akan meningkatkan keterampilan bercocok tani yang baik.
Diakuinya, Dinas Pertanian
sebelum mencanangkan program burung hantu untuk mengusir tikus, tapi
karena keterbatasan anggaran dana program itu gagal. Untuk
mengantisipasi tikus, diharapkan petani berburu tikus pihak dinas pun
telah menyediakan racun untuk membunuh hama tersebut.
Kata Yul Amri, dari 34 saluran
irigasi yang rusak, sekitar 10 saluran irigasi bakal diperbaiki yakni
seluas 1.700 hektare dengan anggaran dana APBD Solsel 2013 Rp1,7
miliar.
Yul menjelaskan, pasokan pupuk
memang tidak sebanding dengan kebutuhan petani, apalagi petani mandiri
atau petani yang tidak tergabung dalam kelompok tani.(*)
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumbar hingga hari terakhir masa uji publik
Padang, Padek—Komisi
Pemilihan Umum (KPU) Sumbar hingga hari terakhir masa uji publik
terhadap daftar calon legislatif sementara (DCS) Kamis (27/6), hanya
mencatat tiga laporan pengaduan.
“Pengaduan yang kami terima
hanya bacaleg di kabupaten/kota, bukan DCS untuk DPRD Sumbar,” ungkap
Ketua Pokja Pendaftaran Caleg KPU Sumbar, Agus Catur Rianto kepada Padang Ekspres, kemarin.
Dari tiga pengaduan itu, dua di
antaranya menyangkut dugaan korupsi dan satu lagi menyangkut perilaku
bacaleg. Yakni, perilaku bacaleg salah satu partai di Bukittinggi, di
Padang dan di Solok Selatan terkait dugaan korupsi. Pengaduan
masyarakat itu sudah dikirim ke KPU masing-masing melalui fax siang kemarin.
Agus Catur enggan menyebutkan
nama ketiga bacaleg itu. “Kalau ingin mencari tahu, silakan cek saja di
KPU masing-masing,” ulas Catur.
Sedangkan DCS DPRD Sumbar,
Catur menyebutkan tidak ada. “Kami sejak awal telah mengimbau masyarakat
berperan aktif memberikan masukan terhadap DCS yang telah diumumkan.
Namun, hanya satu tanggapan yang masuk,” ujarnya.
Rekomendasi Bawaslu
Sementara itu, menyangkut
rekomendasi Bawaslu Sumbar soal Yetti Saputri, bacaleg Gerindra dapil
Sumbar IV (Pasbar-Pasaman) agar KPU memasukkan nama bacaleg itu ke
dalam daftar calon tetap (DCT) untuk caleg DPRD Sumbar, belum diputuskan
KPU Sumbar.
Alasannya, sebut Catur, KPU
masih mempelajari rekomendasi Bawaslu yang diterima beberapa hari
lalu tersebut. Setelah dipelajari, komisioner memplenokannya untuk
menentukan sikap,” terang Catur lagi.
Dihubungi terpisah, Wakil
Sekretaris DPD Gerindra Sumbar, Hidayat menyambut gembira rekomendasi
yang dikeluarkan Bawaslu Sumbar terhadap kadernya yang akan maju ke
DPRD Sumbar melalui dapil Sumbar IV tersebut.
“Hasil rekomendasi itu
menunjukkan Bawaslu Sumbar memahami duduk persoalan yang dilaporkan
partainya. Ini sekaligus menunjukan adanya perbedaan persepsi dari
KPU Sumbar dalam memahami aturannya sendiri terkait pencalonan caleg,”
kata Hidayat.
Bila rekomendasi itu tidak
ditanggapi, pihaknya akan menempuh jalur hukum. “Saya masih berpikiran
positif, KPU bakal menerima penegasan Bawaslu itu, sehingga bacaleg
Yetti Saputri jelas kedudukannya,” kata Hidayat. (*)
Langganan:
Postingan (Atom)









