Pages

Rabu, 19 Desember 2012

SP Kirim Tim Medis ke Solsel

 Direktur Keuangan PT Semen Padang  Epriliyono Budi melepas tim TRC gelombang ke
Padang, Padek—Setelah me­ngi­rim Tim Reaksi Cepat (TRC) ke lokasi bencana banjir bandang di Solok Selatan, Sabtu (15/12), pada Senin (17/12), Semen Padang kem­bali mengirim bantuan dan tim me­dis ke Nagari Pakan Rabaa, dan Nagari Pakan Rabaa Timur Ke­ca­matan Koto Parik Gadang Diateh, Solok Selatan.

Tim itu  yang terdiri dari  19 orang tim medis, dan tujuh orang TRC itu dilepas Direktur Keuangan Semen Padang Epriliyono Budi, dari Kantor Pusat Semen Padang.

Bantuan yang diturunkan kali ini terdiri dari 490 selimut, kompor 24 sumbu sebanyak 100, kuali menengah sebanyak 245, diregen minyak 5 liter sebanyak 245, mi­nyak tanah sebanyak 1.225 liter, dan mie instan 165 dus.

Direktur Keuangan Semen Pa­dang Epriliyono Budi me­nyam­pai­kan terimakasihnya pada semua ang­gota tim yang sudah bersedia turun ke lokasi bencana, sebagai bentuk perhatian pada masyarakat lingkungan.

“Terimakasih pada tim yang te­lah menjalankan misi peru­sa­ha­an, mem­bantu saudara-saudara kita ya­ng ditimpa musibah. Jaga ke­kom­pa­kan di lapangan, dan ini me­rupakan ujian bagi kepedulian Se­men Padang pada sesama,” kata Ep­ril.

Pada tim kedua ini, diturunkan layanan kesehatan rumah sakit lapangan/darurat, tenaga medis, dan obat-obatan. “Tim kedua ini akan berada di Solok Selatan hingga 19 Desember 2012. Sementara tim pertama akan kembali ke Padang, Selasa, 19 Desember 2012,” kata Kiki Warlansyah, Koordinator TRC yang didampingi Dainuri.

Sebelumnya, PT Semen Padang pada Sabtu malam (15/12) me­nu­runkan TRC ke Kabupaten Solok Selatan,  guna membantu korban banjir di Nagari Pakan Rabaa dan Nagari Pakan Rabaa Timur Keca­matan Koto Parik Gadang Diateh. Tim yang berjumlah 11 orang dan tiga orang driver itu selain me­nye­rahkan bantuan, juga terlibat lang­sung dalam melakukan reha­bi­litasi/pembersihan fasilitas umum di daerah itu.

Tim sejak Minggu telah me­nye­rahkan bantuan sebanyak 300 kg be­ras, 20 Dus Mie Instan, 100 ka­leng sarden dan 20 Dus air mineral kepada korban banjir. Selain itu, tim telah melakukan pem­ber­si­han fasilitas umum di Sungai Pagu.

Dari penilaian tim, korban ban­jir bandang masih memerlukan bantuan tenaga medis dan obat-obatan (obat kulit/gatal, diare, batuk, demam dan flu). Korban banjir juga membutuhkan selimut, kompor minyak tanah, kuali, dan mie instan terutama di Jorong Batang Lelo Banduang (6 kk) dan Jorong Sungai Pangkua (238 kk) Kiki melaporkan, untuk per­kem­ba­ngan data kerusakan berupa Sarana Pendidikan yang tergenang lumpur dan material batu dan kayu ada 3 unit; 1 SMK, 1 Madrasah, dan 1 SD. Sarana Kantor Pemerintahan; 1 kantor KUA. Jembatan putus ada 2 ; 1 di Jorong Pintu Kayu Gadang Nagari Pakan Rabaa Timur, dan 1 di jorong Sei Binuang Nagari Pakan Rabaa.

Menurutnya, kondisi fasilitas umum di daerah lokasi bencana pada umumnya sudah hampir se­lesai dibersihkan oleh tim tanggap da­rurat (SAR, BPBD, Private Sektor dan relawan) termasuk TRC Semen Padang Peduli, sehingganya tidak perlu lagi dikirimkan TRC Semen Padang

Peduli untuk Tahap II.

“Namun yang diperlukan saat ini adalah Tim Medis beserta obat-obatannya untuk penyakit pasca bencana banjir, yang dibantu oleh TRC Semen Padang dalam hal pembangunan Rumah Sakit La­pa­ngan dan pengamanan, yang akan didirikan di Jorong Sungai Pang­kua, Pakan Raba’a Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh,” katanya. (sih)

Pencarian Korban Galodo Dihentikan

Solsel, Padek—Empat hari se­telah dinyatakan hilang di­ter­jang galodo di kawasan Mang­gih Sapansalak, Nagari Pa­kan Rabaa Timur, Koto Pa­rik Gadang Diateh (KPGD) So­lok Selatan, pencarian jasad Da­sinan, 70, resmi dihentikan Pem­kab Solsel. Meski secara pro­sedural atau kelembagaan pen­c­arian dihentikan, tapi se­cara informal masyarakat tetap diperolehkan melanjutkan pen­carian.

”Secara kelembagaan, me­mang pencarian telah dihen­ti­k­an. Tapi masyarakat mau­pun tim Search and Rescue (SAR) daerah tetap masih boleh me­lanjutkan pencarian,” papar Sekkab Solsel Fachril Murad kepada Padang Ekspres, di Sol­­sel, kemarin (17/12). Peng­hen­­­tian pencarian ini, me­nu­rut Fachril Murad, sudah di­in­formasi kepada pihak ke­luar­ga korban dan wali nagari. 

Seperti diketahui, Dasinan dan Misriani (panggilan Simis), 35, ibu dan anak ini berniat menyelamatkan cucunya yang tinggal tak jauh dari rumah­nya. Baru beberapa menit be­rada di rumah, tiba-tiba ba­ngu­nan berukuran 5x6 meter per­segi itu dihantam galodo. Da­sinan dan Simis hanyut disapu galodo beserta rumahnya. Sabtu (15/12), jasad Simis berhasil ditemukan tim SAR sekitar 17 kilometer dari lokasi kejadian. Jasad Simis ditemukan dalam keadaan ter­je­pit di tumpukan kayu.

Di sisi lain, kondisi permukiman korban galodo Sungaipangkua, Nagari Pakan Rabaa Tengah mulai kondusif. Sebagian masyarakat mulai kembali ke rumah masing-masing. Namun sebagian lain tetap masih berjaga-jaga, khawatir banjir susulan datang lagi. Apalagi saat ini curah hujan di Solsel relatif tinggi. “Pintu rumah sudah hanyut akibat galodo, kami terpaksa tidur berdingin-dingin di terpal,” ujar Ses, warga Sungaipangku.

Lain lagi pengakuan Har. Hingga kemarin, dia sekeluarga masih mengungsi di rumah famili di kampung tetangga yang tidak terkena galodo. Bapak tiga anak itu mengaku masih khawatir bila terus bertahan di Sungaipangku.

Ada pula warga yang bingung menghuni ke mana karena rumahnya tertimbun lumpur tebal. Untunglah pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solsel cepat tanggap dan membantu menyemprot lumpur menggunakan armada pemadam kebakaran.

Mulai kemarin (17/12), Pemkab Solsel sudah menyalurkan bantuan kepada korban galodo di Sungaipangku, Pakan Rabaa Tangah dan Sapansalak, Pakan Rabaa Timur. Bantuan berupa peralatan memasak, kompor, dan perlengkapan rumah tangga lainnya itu, disalurkan by name by address (sesuai nama dan alamat).

Bupati Solsel Muzni Zakaria didampingi Sekkab Solsel Fachril Murad mengatakan, distribusi bantuan dilakukan berdasarkan data-data korban yang telah dihimpun masing-masing kepala jorong. Agar distribusi bantuan tepat sasaran, petugas akan melakukan kros cek. “Kita tidak akan mengulur-ngulur waktu menyalurkan bantuan. Bantuan daro donatur mulai hari ini (kemarin, red), kita salurkan,” ungkap Muzni. (sih)
[ Red/Administrator ]

Selasa, 18 Desember 2012

PT SEML akan Patuhi Aturan

Solsel, Padek—PT. Supreme Energy Muara Laboh (SEML) me­ne­pati janjinya melanjutkan per­te­muan guna merespons aspirasi Forum Anak Nagari Pauhduo (An­pa­du) yang disampaikan pada 20 November lalu. Meski menyatakan tunduk pada semua aturan yang berkaitan dengan pengelolaan dan tanggungjawab perusahaan ter­ha­dap lingkungan hidup, tapi ma­na­jemen PT. SEML tidak mau mem­buat perjanjian tertulis (MoU) soal itu dengan masyarakat. Pasalnya, sudah menjadi kewajiban dan tang­gu­ngjawab perusahaan, apabila ke­giatan operasional perusahaan ber­dampak buruk bagi lingkungan.

“Sebagai perusahaan yang men­da­patkan izin dari pemerintah, PT.SEML akan mentaati segala peraturan yang ada selama mela­ku­kan operasi. Tapi, SEML tidak diatur atau diperintahkan membuat perjanjian dengan organisasi atau kelompok masyarakat tentang pe­lak­sanaan kewajiban SEML,” tegas Vice President Relation & She PT.SEML, Prijandaru Effendi di­dam­pingi Vice President Support PT.SEML Radikal Utama dalam pertemuan difasilitasi Pemkab Solok Selatan di aula Kantor Bupati Solok Selatan, Selasa (4/12).

Pertemuan sempat tegang, ka­rena dikawal ratusan aparat ke­ama­nan dari kepolisian, TNI, dan Sat Pol PP. Prijandaru Effendi me­nye­but­kan, perusahaanny berbadan hokum, terikat dan tunduk pada semua aturan hokum, termasuk masalah pengelolaan dan ta­ng­gung­ja­wab perusahaan terhadap ling­ku­ngan hidup. Ini diatur UU 32 Tahun 2009, UU 27 Tahun 2003, UU 7 Tahun 2004, UU 5 Tahun 1990, serta SK Bupati Solok Selatan Nomor 660.32.SK.UKL.UPL.V Ta­hun 2009.

Perwakilan warga, Ahmad Ja­linus mengatakan, pihaknya tidak me­nolak keberadaan PT.SEML. Ha­nya saja, mereka menyatakan perlu jaminan berupa MoU antara pe­ru­sahaan dengan masyarakat apabila terjadi dampak lingkungan di ke­mu­dian hari. “Selanjutnya pe­nga­kuan terhadap tanah ulayat Alam Pauh Duo. Perlu kami tegaskan, yang punya bukan KAN tapi 96 ninik mamak,” kata Ahmad.

Menanggapi itu, Prijandaru menegaskan, soal tanah ulayat diserahkan kepada Pemkab Solsel. Sebagai investor mereka beroperasi di tanah bekas Hak Guna Usaha (HGU) yang dikuasai negara. Wakil Bupati Solok Selatan Abdul Rah­man menjelaskan memang saat ini, status tanah di areal PT.SEML telah menjadi bekas HGU, dan masih dikuasai negara. Tidak bisa serta merta menjadi hak Pemkab atau masyarakat. Untuk mengalihkan statusnya perlu melewati prosedur panjang.

“Prosedur tersebut telah kita upayakan ke pusat. Bahkan tidak kurang 10 kali saya ke pusat me­ngu­rus status tanah di daerah kita yang masih berstatus bekas HGU dan dikuasai negara,”jelas Abdul Rahman. “Untuk kebutuhan pem­ba­ngunan perkantoran saja, Pem­kab Solsel masih kesulitan untuk men­cari lahan,” tambahnya.

Tokoh masyarakat yang juga mantan Bupati Solok periode 1975-1984, Hasan Basri yang juga hadir pada pertemuan itu menambahkan kalau membagikan sekitar dua hektare tanah mungkin bisa saja menjadi kewenangan bupati. Akan tetapi jika lebih dari itu, harus me­la­lui prosedur karena itu adalah aset ne­gara. “Kita sekarang mu­sya­warah un­tuk mufakat, ndak ado kusuik nan ndak sala­sai,”imbuh­nya.

Usai PT.SEML dan Pemkab Solsel memberikan penjelasan, akhirnya Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria menutup perte­muan. Sontak, warga Pauhduo kom­plain. Meski telah me­nga­cung­kan tangan untuk menyampaikan sesuatu, namun Bupati Solsel lang­sung mengakhiri pertemuan de­ngan mengucapkan salam. Belum selesai bupati mengucapkan salam, disambut teriakan dari warga Pau­duo, menyatakan tidak setuju acara ditutup.

Sekkab Solsel Fachril Murad mengatakan, PT.SEML sudah me­ngu­rus semua persyaratan investasi yang dibutuhkan sesuai aturan yang berlaku. Perusahaan juga sudah menyatakan kesiapan mereka me­nanggung semua risiko, jika di ke­mudian hari terjadi dampak pada lingkungan.

Soal ganti rugi, sudah selesai me­­reka penuhi dan tanah yang d­i­gu­na­kan merupakan bekas HGU. Di sam­­ping itu, perusahaan sudah me­nun­jukkan sikap promasyarakat de­ngan memberikan pula CSR un­tuk na­­gari, meski belum ber­ope­ra­si.(sih)
[ Red/Administrator ]

Kapolda Nyatakan Solsel Prioritas Janji Berantas Tambang Liar

Padang, Padek—Desakan Pemkab Solok Selatan (Solsel) meminta Pemprov dan Polda Sumbar turun tangan me­ner­­tibkan tambang emas ile­gal, akhirnya direspons Ka­pol­­da Sumbar Brigjend Pol Wah­­yu Indra Pramugari. Je­nde­­ral bin­tang satu itu mene­gas­kan pem­berantasan tam­ba­ng emas ilegal di Solsel menjadi prioritas Polda.

Lambannya penanganan tambang emas liar di Solsel, im­buhnya, akibat areal per­tam­bangan sulit dijang­kau dan ter­kendala angkutan menuju areal penambangan liar. ”Namun dalam waktu de­kat, Polda akan kembali melakukan penertiban ter­ha­dap para penambang emas liar di Solsel,” ungkap Kapol­da saat rapat fasilitasi pimpi­nan daerah, di Hotel Pange­ran Be­ach, kemarin (7/12).

Polda Sumbar sendiri su­dah satu setengah bulan melakukan penyuluhan ke­pa­da masyarakat untuk ti­dak melakukan pe­nam­bangan emas liar. ”Memang so­sia­li­sa­si itu masih belum efektif. Buktinya, saat kami meng­ha­lau para penambang liar (di Dhar­mas­raya, red), jus­tru terjadi perlawanan dari masyarakat,” ujarnya pada kesempatan yang dihadiri bupati, wali kota, ketua DPRD kabupaten dan kota, Danrem, serta pejabat dae­rah lainnya.

Persoalan tambang emas ilegal di Sumbar, menu­rut­nya, telah menarik perha­tian Komisi III dan Komisi VII DPR RI. Bahkan, Januari nan­ti dia dipa­nggil dua ko­mi­si itu un­tuk mem­bahas per­soa­lan tam­bang emas ilegal itu.

”Saya tidak akan pan­dang bulu menegakan atu­ran. Siapa pun yang terlibat, apakah itu masyarakat, pejabat dan aparat akan diberikan sanksi tegas. Saya tidak akan main-main untuk itu. Solsel menjadi prio­ritas kami,” ucapnya.

Keterbatasan mesin tem­pek, menurut Wahyu, juga menjadi persoalan tersendiri untuk ma­suk ke areal tam­bang. Polda Sum­bar sendiri baru memiliki satu unit me­sin tempek, paling kurang ha­rus ada tiga unit mesin tem­pek guna mengangkut per­sonelnya (1 mesin tempek bi­sa mengangkut  8 personel, red).

”Kami sudah upayakan me­minjam mesin tempek milik masyarakat sekitar. Namun, tak ada masyarakat mau memin­jamkan mesin tempeknya. Mu­dah-mu­da­han dalam waktu dekat, bisa kami dapatkan mesin tempek itu. Sehingga, kami bisa menjangkau seluruh areal pertambangan,” tuturnya.

Data Polda Sumbar, se­dikit­nya ada 30 daerah per­tam­ba­ngan rawan illegal minning. Di antaranya, Ka­rang Putih In­darung, Ta­ru­san, Pancungsoal, Surantih, Tapan, Lintaubuo, Lintaubuo Utara, Koto VII Ku­pi­tan, Pa­ngkalan, Gunung Omeh, Lembah Gumanti dan Lolo Kecamatan Pantai Cermin, Kecamatan Koto Parik Ga­dang, dan Kecamatan Sue Pagu.

”Dalam upaya zero illegal logging dan illegal Minning telah dibuat nota kese­pa­haman antara Direktorat Reserse Kri­minal Khusus Pol-da Sumbar den­gan Dinas Ke­hutanan Pro­vin­si Sumbar, Dinas ESDM Provinsi Sumbar dan Bapedalda Sumbar de­ngan Nomor 02/VII/2011/Ditreskrimsus, Nomor 522/1675/Dishut-2011, Nomor 540/1023/ESDM-2011, No­mor 660/14/BPDL-2011 Ta­ng­gal 26 Juli 2011 tentang Penanganan Tindak Pidana di bidang Ke­hu­tanan, Minerba dan Lingkungan Hidup Sum­bar,” ucapnya.

Ia menyebutkan, wila­yah rawan illegal logging di Sumbar ada 10 daerah. Rin­ciannya, Dharmasraya, Si­junjung, Solsel, Pesisir Se­latan, Agam, Pasaman Ba­rat, Pasaman, Limapuluh Kota, Solok dan Pa­da­ng­pa­riaman. Sedangkan wilayah rawan illegal minning Dhar­masraya, Sijunjung, Solsel, Pe­sisir Selatan, Pasaman Barat, Pasaman, Limapuluh Kota, So­lok dan Sawahlunto.

”Selama 2011 kegiatan pre emtif 155 kasus, pre­ventif 200 kasus, dan pe­ne­gakan hukum 41 kasus. Ta­hun ini, pre emtif dilakukan 160 kasus dan preven­tif 225 kasus, serta pene­gakan hukum 34 ka­sus,” ucap­nya.

Selama 2011 penegakan hu­kum yang dilakukan un­tuk illegal minning se­ba­nyak 53 kasus. Rinciannya Ditres­krimsus Polda Sumbar 4 kasus, Polresta Solok 1 ka­sus, Polres Sijunjung 11 kasus, Polres Pasaman 2 ka­sus, Polresta Sawahlunto 3 kasus, Polres Limapuluh Kota 7 kasus, Polres Solok Selatan 9 kasus. Sedangkan penegakan hukum terhadap illegal min­ning tahun 2012 sebanyak 21 kasus. Rin­cian­nya Dit­res­krimsus 2 kasus, Polres Pa­da­ng­pariaman2, Pol­res­ta Sa­wah­lunto 2 kasus, Polres Dharmasraya 10 kasus dan Pol­res Solok Selatan 5 kasus.

”Itu data penegakan hu­kum yang telah kami la­kukan. Kami bertekad untuk mewujudkan zero maksiat, narkoba, illegal logging dan Illegal minning di Sumbar. Kami juga berharap duku­ngan dari semua pihak un­tuk mewujudkan hal ter­sebut.

Dirjen Pemerintahan Umum Kemendagri I Made Su­wan­di mengingatkan agar dae­rah berhati-hati menge­lu­arkan izin pertambangan dan me­ngacu pada aturan. Kepala dae­rah perlu me­nge­cek lang­sung rekomendasi izin usaha per­tam­bangan yang diusulkan ke­pala Dinas Energi Sum­ber­daya Mineral (ESDM) setem­pat. ”Jangan terima laporan begitu saja. Bupati atau wali kota juga harus turun ke lapa­ngan dan perhatikan titik ko­or­­di­nat­nya. Jangan sampai izin dike­luar­kan tidak sesuai pe­ru­ntukan. Karena kepala daerah juga akan menjadi pesakitan di­buatnya. IUP itu kan kepala daerah yang tan­da tangan,” ucapnya. (*)

Solsel Daerah Kebangkitan Panas Bumi Wamen Kunjungi Pemboran Panas Bumi


Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Rubi Rubiandini bersama beberapa
Solsel, Padek—Wakil Men­teri Ener­gi Sumber Daya Mineral (ESDM) Rubi Rubiandini dan bebe­ra­pa pejabat Ke­men­trian ESDM ber­kun­jung ke lo­kasi pemboran eks­plo­rasi pa­nas bumi milik PT Supre­me Energy Muaralaboh (PT SEML) di wilayah kerja Liki Pinangawan, Solok Selatan, Kamis (13/12).

Kunjungan bertujuan meli­hat langsung perkem­bangan proyek panas bumi PT SEML yang sedang melakukan well testing ML-A1 atau uji sumur eksplorasi pertama.

Kegiatan well testing ber­tu­juan me­ngukur potensi dari su­mur terse­but. Ke­mudian, me­ngetahui karak­te­ristik flui­da reservoir. Data-data inilah yang diperlukan menentukan ni­­lai ekonomis dan kapasitas dari su­mur ML-A1. Setelah su­mur eks­plo­rasi pertama, pem­boran selan­jutnya penan­jakan su­mur eksplorsi ke-2 yang ren­ca­nanya akan dilakukan 15 De­­sember nanti. Apabila ber­hasil, ma­­ka akan menghasilkan ener­­gi listrik 220MW.

Wamen ESDM me­ng­ung­kap­kan pro­yek panas bumi PT SEML di Sol­sel merupakan pem­bangunan kem­bali in­dus­tri panas bumi yang su­dah 20 tahun tidak bergerak. Di Sol­sel juga merupakan uap pertama yang mulai ke luar setelah undang-un­dang panas bumi ada. “Jadi dimu­lai di Solsel akan menjadi sejarah kebang­ki­tan panas bumi Indonesia. Ka­rena setelah ini industri pa­nas bumi akan segera kem­bali bangun dan kemu­dian hidup,” ujarnya.

Adanya energi panas bumi, tam­bah wamen, akan mem­bawa Indonesia tidak hanya bergantung dari mi­nyak, gas, atau batubara, tapi juga dari energi terbarukan seperti air, mi­­kro hidro, mini hidro, angin, ma­ta­hari, dan termasuk panas bumi yang paling diharapkan memiliki ke­mampuan besar menghasilkan lis­trik. “Itu yang kita senang sekali, ka­rena ini tidak hanya penting bagi sol­sel, sumatera, tapi bagi indo­nesia,” katanya.

Rubi Rubiandini juga me­ngi­­ngatkan, dalam kegiatan me­­majukan pro­duktivitas ener­­gi panas bumi di So­lok Se­la­tan, perlu dilakukan ber­ba­gai ker­ja sama, dalam menjaga ke­les­­tarian alam dan kelang­su­ngan pro­duktivitas, seperti men­dirikan Se­kolah Me­ne­ngah Kejuruan. Di­siap­kan un­tuk tukang las, bubut, dalam men­ciptakan kader dan SDM yang le­bih baik nantinya untuk ke­­lang­su­ngan dan kesi­nam­bu­ngan pro­duk­tivitas PT SEML di Solok Selatan.

”Kita mesti bersama-sama me­lestarikan alam di sekitar pa­nas bumi ini, agar pro­dukti­vitas panas bumi ber­ja­lan baik. Hutan mesti tetap su­bur, tidak bo­leh ada penebangan liar, dan ka­pasitas air mesti terjaga. Hu­­tan penyangga utama da­lam men­jaga kebutuha air bagi pro­­duktivitas pa­nas bumi, un­tuk membetuk uap se­bagai sum­ber energi dalam me­man­faatkan panas bumi,” jelasnya.

Executive Managing Officer Supreme Energy Triharyo In­drawan Soesilo mengatakan pem­bangunan su­mur eks­plo­rasi dimaksudkan un­tuk me­ngu­kur potensi tenaga panas bu­­mi di wilayah tersebut yang nan­ti­n­ya diharapkan akan memiliki ka­pasitas sebesar 220MW.

”Rata-rata, satu sumur bisa meng­­hasilkan 7MW sampai 8MW. Tapi pengukuran su­mur ini hasilnya baru bisa di­ke­tahui beberapa hari ke de­pan,” katanya.

Tahap eksploitasi, lanjut dia, meng­habiskan dana inves­ta­si sebe­sar 40 persen dari total investasi Rp 7 triliun. Per­se­r­oan setidaknya harus me­nyiap­kan kas sebesar US$100 juta untuk mendanai proses eks­ploitasi tersebut.

“Pembangunan sumur me­me­r­lukan US$6 juta hingga US$8 juta. Un­tuk me­mini­ma­lisir resiko dan le­bih ekonomis, kita upayakan mela­kukan sedi­kit pengeboran,” katanya.

Kata dia, ML-A1 dan ML-B1 adalah rangkaian dari pem­bo­ran 4-6 sumur eks­plorasi un­tuk mbuktikan adanya sum­ber panas bumi yang cukup un­tuk mem­bangun pem­bang­kit listrik tenaga pa­nas bum­i (pltp) se­besar 2x110 MW. Jang­­ka waktu di­perlukan un­tuk pem­boran eks­plorasi ter­­se­but berkisar antara 6 hingga 9 bu­lan. Proyek PLTP Liki Pi­na­ngawan Mua­ralabuh me­ru­pa­kan proyek na­sional dan ter­masuk da­lam program pece­patan pem­bangunan lis­­trik 10.000 MW tahap II.

Acara kunjungan diakhiri pe­nanaman pohon trambesi se­cara simbolis oleh wamen. “Energi panas bumi sangat me­merlukan hutan agar pas­o­kan air di dalam tanah tetap ter­jaga,” imbuh Tri Haryo.

Bupati Solsel Muzni Za­karia me­ngatakan bahwa solsel bang­­ga sangat men­dukung ada­­­nya proyek panas bu­mi ini. Se­­bagai daerah baru Bupati Muz­­ni Zakaria juga meng­ha­rapkan agar PT. SEML ikut ser­ta mem­ba­ngun jalan, tidak ha­nya mengaspal ja­lan yang di­­pa­kai PT. SEML. Begi­tu­pula peng­gunaan areal GOR yang di­­­pinjam­kan kepada PT. SEML. ”Ka­pan dika­bulkan ya ter­serah, kita juga pa­ham bah­wa ini baru awal,” ujar Muz­ni.

Menurutnya, SEML akan men­­jadi kekuatan baru dalam m­e­­maju­kan pertumbuhan per­­­ekono­mian Sum­bar, khu­susnya Solok Selatan. “Jika ada hal-hal yang menjadi pro­blema di tengah-tengah mas­yarakat, ma­ri kita bicarakan baik-baik.  Rah­mat Allah yang diberikan ke­pada So­lok Selatan ini mesti kita jaga, kita man­f­aatkan se­baik-baiknya untuk ke­­pen­ti­ngan kesejahteraan rak­yat In­do­nesia, termasuk yang ada di dae­rah ini,” ungkapnya. (*)
[ Red/Administrator

Ibu-Anak Digulung Galodo Hantam Solsel, Ribuan Warga Mengungsi


Potongan kayu-kayu besar ikut terseret galodo
Solsel, Padek—Bencana tak henti-hen­tinya mendera Sumbar. Kamis ma­lam (13/12), galodo menghantam ra­tu­san permukiman warga, Keca­matan Koto Parik Gadang Diateh (KPGD), Ka­bupaten Solok Selatan (Solsel). Dua orang dilaporkan hilang ter­seret lumpur tebal bercampur kayu gelondongan, dua rumah ha­nyut dan ribuan jiwa mengungsi ke tempat lebih aman dari amukan air bah setinggi dua meter tersebut.

Dua warga hilang itu Dan­sinan, 70, dan Simis, 35, warga Mang­gih Jorong Sapansalak, Pin­­tikayu, Nagari Pakan Rabaa Ti­mur, KPGD. Saat kejadian pu­kul 23.30, ibu dan anak itu ber­niat menyelamatkan cucu­nya yang tinggal tak jauh dari ru­mah­nya. Baru beberapa me­nit bera­da di rumah, tiba-tiba bangunan ber­ukuran 5x6 me­ter persegi itu di­hantam ga­l­odo. Dansinan dan Si­mis ha­nyut disapu galodo be­serta rumahnya.

Sedangkan cucu yang di­cari, rupanya telah lebih dulu diselamatkan menantunya, Am­ra, 32. “Saya sempat meli­hat Amak hanyut bersama ru­mah. Tapi apa daya, ndak bisa saya tolong,” ujar Amra yang ma­sih terlihat shock.

Dalam waktu bersamaan, ban­­jir bandang juga me­ne­r­jang ratusan permukiman pen­­­duduk di Jorong Su­ngai­pang­­kua, Na­gari Pakan Rabaa Ta­ngah, KPGD. Galodo mem­bawa material lumpur hitam dan kayu gelondongan ber­uku­ran besar menyapu rumah w­ar­ga. Akibat­nya, 75 rumah ru­sak berat dan 100 rumah ru­sak ringan. Warga terpaksa me­ngungsi karena rumah me­reka terendam lum­pur setinggi dua meter.

Pantauan Padang Ekspres, pin­tu, dinding dan kaca jen­dela ru­mah warga umum­nya jebol di­hantam galodo. Per­a­bot ru­mah tangga seperti ba­rang elektronik, kursi, tem­pat ti­dur, terendam lumpur. Tak bisa lagi digunakan. Hingga Ju­mat (14/12) pukul 15.00, war­ga masih kerja keras mem­­bersihkan rumah dari lum­pur. “Rumah saya rusak berat,” ujar Ref, warga Sungaipangku, sam­­bil menunjuk rumahnya yang terendam lumpur.

Satu unit rumah yang dipe­run­­tukkan sebagai tempat per­kumpulan kelompok tani di Su­ngaipangku, juga hanyut diseret galodo.

Hen, 42, warga Sungai­pang­ku, menceritakan, begitu men­dengar dentuman keras dari atas bukit di belakang ru­mahnya, dia langsung mem­bo­yong anak dan istrinya naik ke atas bukit. Lima menit se­telah be­rada di atas bu­kit, Hen meli­hat dengan mata ke­palanya sen­­­diri galodo me­nerjang ka­wa­­san Sungaipangku. Ga­lodo da­­tang dua tahap. Tahap per­ta­­ma, den­tumannya tidak ter­lalu ke­ras. Kemudian hening se­­jenak. Lalu datang galodo ke­dua de­ngan dentuman keras me­­libas per­mukiman bak tsunami.

“Hanya beberapa helai pa­kaian kami bawa. Nyawa harus di­selamatkan terlebih dulu, har­ta benda soal belakangan,” ce­­rita Hen sembari me­nga­ta­kan satu jem­batan dekat ru­mah­nya am­bruk dan tidak da­pat diper­gu­nakan lagi. Ra­tu­san hektare sa­wah, rata de­ngan lumpur.

Data yang dihimpun dari Kan­tor Wali Nagari Pakan Ra­baa Timur, di Manggih Jo­rong Sa­pansalak, satu rumah hi­lang, lima rumah rusak pa­rah, dan 10 rumah  rusak ringan. Galodo juga merusak areal per­sawahan masyarakat di Mang­gih, Muaro, dan Ngalau In­dah. Sekitar 75 hektare sa­wah dinyatakan rusak parah, dan 50 hektar lagi rusak ri­ngan. Sebanyak 8 ekor kam­bing warga hanyut

Wali Nagari Pakan Rabaa Ti­mur, Rusdi Katik Marajo me­ngungkapkan, Rusdi me­n­si­nyalir galodo terjadi akibat ak­tivitas pembalakan hutan sejak 10 tahun lalu. “Dulu, di sini cukup marak penebangan ka­yu. Tidak sedikit kayu yang ke­luar dari  sini menjadi komo­di­ti ekspor. Saya mem­per­ki­ra­kan kayu yang keluar dari si­ni mencapai 500 kubik per hari. Aki­bat ulah 10 tahun lalu, se­ka­rang kami yang menang­gung bencananya,” kata Rusdi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solsel mencatat, selain rumah rusak di Sungaipangku, galodo juga menyebabkan satu masjid rusak. Kepala BPBD Solsel, Hamudis memperkirakan, kerugian akibat galodo di Sungaipangku mencapai Rp 500 juta. Angka itu belum ter­masuk kerugian perabotan rumah masyarakat yang rusak.

Korban galodo telah diban­tu nasi bungkus, selimut, tikar dan makanan siap saji. Polisi dan TNI terlibat langsung da­lam masa tanggap darurat mem­bantu masyarakat me­nying­kirkan material galodo. Dua nagari yang dihantam galodo itu terletak di tepi bukit.

Bupati Solok Selatan Muz­ni Zakaria usai meninjau dua lo­­kasi bencana mengatakan, ga­­lodo terjadi akibat curah hu­jan tinggi dan berlangsung la­ma sehingga Sungai Pang­kuah tak mampu menampung de­bit air. Selain itu, daerah ali­ran su­ngai juga telah gundul akibat pe­nebangan.

Kepala Pusat Pengendalian Ope­rasi Badan Pe­nang­gula­ngan Bencana Dae­rah (BPBD) Sum­bar, Ade Edward me­nye­bu­t­kan, ini galodo ke­dua di Sol­s­el setelah tahun 1992. Pada 20 tahun lalu, galodo lebih be­sar pernah terjadi di Jorong Su­ngaipangku, Pakan Rabaa, serta Jorong Pinti Kayu dan Jo­­rong Sapan Salak, Kana­garian Pakan Rabaa Timur, Kecamatan KPGD.

Setelah mengamati material yang dibawa air bah, Ade men­duga bencana ini akibat keru­sa­kan hutan di hulu su­ngai. Ma­teri­al itu menum­puk di hulu su­ngai, dan baru ke­marin ter­bawa arus air yang besar. (sih)

Kerugian Galodo Rp 9,6 M Jasad Misriani Ditemukan Terjepit


-
Solsel, PadekGalodo meng­hantam Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh (KPGD), Ka­bupaten Solok Selatan  (Solsel), Kamis malam  (13/12), tak hanya mengakibatkan korban jiwa, namun juga mengakibatkan kerugian pisik mencapai Rp 9,6 miliar.

Kemarin (16/12), upaya pen­carian terhadap korban hilang terseret galodo di Manggih Sapansalak, Nagari Pakan Rabaa Timur, KPGD, membuahkan hasil.

 Sekitar pukul 10.30, je­nazah Simis, 35 (Misriani) dite­mukan oleh tim SAR di Lu­buak­si­kapuak Sungai Batang Hari atau sekitar 17 kilometer dari titik kejadian.

 Untuk me­nuju lokasi ter­se­but, jarak tem­puhnya mencapai enam jam perjalanan.

Informasi yang berhasil di­himpun di lapangan, korban ditemukan dalam keadaan ter­je­pit di tumpukan kayu. Sulitnya medan, membuat proses eva­kuasi makin membutuhkan waktu panjang. Sekitar pukul 14.00 korban baru dapat dieva­kuasi ke ambulans, dan langsung di­bawa ke Puskesmas Pa­kan­rabaa, KPGD untuk divisum.

Usai divisum, jenazah lalu diserahkan kepada pihak ke­luar­ga. Menurut Wali Nagari Pakan Rabaa Timur, jenazah Simis akan dikebumikan pada hari itu juga pukul 16.30 di pandan per­kuburan keluarga di Sa­pan­sa­lak. Mengingat, jena­zah kor­ban sudah mulai lunak.

 Masyarakat setempat turun ber­sama-sama men­ye­leng­ga­ra­kan proses pemakaman.

Sementara jasad Dasinan, 70, korban hilang lainnya yang juga ibu Simis sampai tadi ma­lam masih dalam pencarian.

Sewaktu kejadian, ibu dan anak warga Manggih Jorong Sapansalak, Pintikayu, Nagari Pakan Rabaa Timur, KPGD ini berniat menyelamatkan cucunya yang tinggal tak jauh dari rumah­nya. Baru beberapa menit be­rada di rumah, tiba-tiba ba­ngu­nan berukuran 5x6 meter per­segi itu dihantam galodo. Da­sinan dan Simis hanyut disapu galodo beserta rumahnya.

Sedangkan cucu yang dicari, rupanya telah lebih dulu dise­la­matkan menantunya, Am­ra, 32. “Saya sempat melihat Amak ha­nyut bersama rumah. Tapi apa­ daya, ndak bisa saya tolong,” ujar Amra yang masih terlihat shock.

Di sisi lainnya, korban ga­lodo di  Sungaipangkua, Na­gari Pakan Rabaa Tangah, KPGD, ke­marin masih terlihat mem­bersihkan sisa galodo yang me­nerjang rumah mereka. Mes­ki dalam kondisi lelah tak terkata, me­reka tetap terus berupaya agar rumah dapat ditempati kembali.

Capai Rp9,6 M

Kepala BPBD Solsel Ha­mu­dis menyebutkan bahwa ke­ru­gian sementara akibat galodo mencapai Rp9,6 miliar. K­e­ru­gian itu meliputi, kerusakan rumah warga sebesar Rp 925 juta, fasilitas umum Rp 6,23 mi­liar, materi Rp 1,5 miliar, dan sawah seluas 150 ha sebesar Rp 450 juta.

Hamudis menegaskan, data itu masih bersifat sementara dan bisa bertambah, karena jaja­rannya masih mendata di la­pa­ngan. Selain itu, tambah Ha­mudis, galodo me­ngakibatkan 32 rumah rusak berat, 27 rusak sedang dan 80 rusak ringan, 121 ru­mah terendam dan dua ha­nyut. Khusus fasilitas umum mengalami kerusakan, gorong-gorong dua unit, jembatan dua unit, satu sekolah rusak sedang, tiga rusak ringan, serta satu kan­tor kelompok tani rusak berat.

Hamudis menyebutkan pi­hak­nya sudah menetapkan ta­nggap darurat 14 hari. Namun, masa tanggap darurat ini bisa saja berkurang jika rehabilitasi bisa lebih cepat dari peren­canaan. Pihaknya juga sudah mengerahkan lima alat berat untuk menyingkirkan lumpur sekitar rumah warga dan nor­malisasi Sungai Pangkur dan Su­ngai Binuang yang aliran airnya meluap sampai ke pemukiman penduduk.

Sebanyak dua armada pe­ma­­dam kebakaran juga dike­rahkan ke lokasi untuk mem­bantu warga menyingkirkan lum­pur. Sedangkan PDAM se­tem­­pat juga mengerahkan dua truk tangki air guna memenuhi ke­butuhan air bersih warga.

Pemkab setempat terlihat su­dah mendirikan pos pos dapur umum dan pelayanan kesehatan di Masjid Raya Sungai Pangkur. Bantuan berbentuk uang dapat disalurkan melalui rekening rehabilitasi dan rekosntruksi Solsel dengan nomor: 0000­5544.01.000144.30.8 BRI Uni Lubukgadang. Atau laungsung dikirim ke Posko Bencana Alam di Kantor Camat KPGD ber­lamat di Nagari Pakan Rabaa. (sih)

Wamen: Bupati Harus Berani Seret ke Hukum Pembeking Tambang Liar

-
Solsel, Padek—Persoalan tambang liar masih menjadi polemik di Solok Selatan. Pem­kab dan pihak terkait di Solsel tak mampu membendung tam­­­bang liar yang makin ma­rak. Pasalnya, kuat dugaan praktik ilegal tersebut dibe­kingi oknum berseragam.

Terhadap hal itu, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Rubi Rubiandini menegaskan, jika ada niat dan kemauan, Pemkab Solses pasti bisa mem­­be­ran­tasnya. “Adanya dugaan pem­bekingan tidak bisa jadi alasan, kare­na semua orang sama di mata hukum,” kata Rubi Ru­biandini ke­pada pers saat uji su­mur eks­plorasi perta­ma geo­termal di Sol­sel, ak­hir pekan lalu. 

Seperti diberi­ta­kan sebe­lumnya, Pem­­­kab Solsel me­nyatakan sudah tak mampu mengatasi tambang liar di Solsel. Berbagai cara yang diupayakan Pemkab tak kun­jung membuahkan hasil. Ak­tivitas penambangan emas tanpa izin tetap marak.

Sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat Solsel, ketidakberdayaan Pem­kab Solsel menertibkan tam­bang emas liar karena sarat kepentingan sejumlah oknum.

Saat lawatannya ke Solsel akhir pekan lalu, Rubi Ru­biandini menegaskan, Pem­kab harus meng­hen­tikan aktivitas tam­bang emas liar. “Se­be­nar­nya semua ada di ta­ngan bupati.

Pemkab me­mili­ki alasan kuat me­ner­tibkan tambang emas liar itu. Misal, adanya Rencana Ta­ta Ruang Wilayah (RTRW) yang telah diatur oleh Pemkab. Soal ke­ter­li­batan ok­num pejabat ataupun apa­rat, saya tegaskan tidak ada orang yang kebal dengan hu­kum. Men­teri pun kalau ber­salah tetap da­pat dijerat dengan hokum,” tegasnya.

Bupati Solsel Muzni Zaka­ria saat dikonfirmasi tentang penghentian yang disarankan Wamen, mengatakan akan berkoordinasi dulu dengan gubernur. Sebab, persoalan tambang emas liar tidak hanya di Solsel, tapi di sejumlah daerah tetangga.

Sebelumnya diberitakan, pada akhir Oktober, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mela­kukan inspeksi mendadak ke sub daerah aliran sungai (DAS) Batang Hari di Solok Selatan. Dalam sidak itu, gubernur melihat ratusan eskavator disembunyikan di semak-se­mak. Mereka kocar-kacir me­ninggalkan lokasi penam­ba­ngan begitu mendengar sirene mobil polisi yang mengawal gubernur.

Informasinya, ada ratusan eskavator yang melakukan penambangan di sini tiap hari. Diperkirakan lebih dari 3.000 tenaga kerja melakukan akti­vitas di lokasi tambang liar,” ujar Irwan Prayitno ketika itu.

Dari investigasi di lapa­ngan, kebutuhan setiap ope­rasional eskavator Rp 50 juta per 200 jam, dan biaya ope­rasionalnya Rp 16 juta. Hasil rata-rata per hari produksi emas lebih kurang 6-10 ons, ada rata-rata setiap lokasi ini mendapat 4-5 kg emas murni dengan nilai Rp 4-5 miliar per bulan.

Pemkab Solok Selatan (Sol­­sel) benar-benar tak ber­daya menertibkan illegal min­ning (penambangan liar) di daerah aliran sungai (DAS) Batang Hari. Daripada diang­gap me­lakukan pembiaran, Pemkab Solsel memilih me­nye­rahkan tanggung jawab penertiban penambangan ile­gal kepada Pemprov Sumbar. Fachril Mu­rad mengatakan, ada sekitar 470 alat berat beroperasi mela­kukan penambangan di DAS Batang Hari di Solsel.

“Kami sudah menyurati Gubernur bahwa kami sudah tak sanggup melakukan pener­tiban tambang liar di Solok Selatan. Kami minta Pemprov untuk membantunya,” ujar Sekkab Solsel Fa­chril Murad pada akhir Oktober lalu.

Fachril Murad menga­ta­kan, ada sekitar 470 alat berat ber­operasi melakukan pe­nam­bangan di DAS Batang Hari di Solsel. (*) 

[ Red/Administrator ]

AKIBAT TABRAK SEKOLAH, PIKAP TERJUN KE SAWAH DUA TEWAS, DUA KRITIS


Solsel, Padek—Jumlah ko­r­ban tewas sia-sia di jalan raya se­lama arus mudik dan balik pa­da Idul Fitri 1433 Hijriah, te­rus bertambah. Kemarin (27/8), kecelakaan maut ter­jadi di ja­lan raya Mua­ralabuh, Ka­bu­pa­ten Solok Selatan (Sol­sel). M­o­­bil pikap Colt T120S jung­kir ba­lik ke sawah, setelah me­na­brak dinding gedung  Ta­man Ka­nak-Kanak (TK) di ka­wasan La­dangbatiak, Ba­tuang­ba­ja­wek, Jorong Sungaikalu 2, Na­­gari Pakanrabaa Utara, Ke­ca­ma­tan Koto Parik Gadang Di­ateh.
Aulia Rahman, 22, korban se­lamat kepada Padang Eks­pres mengatakan, sebelum pe­ris­tiwa nahas itu terjadi, jalan ra­ya cukup sepi. Dia me­m­per­kirakan kecepatan pikap ha­nya sekitar 50-60 km/jam. Tapi tiba-tiba, Aulia yang duduk di bak mobil terperanjat. Mobil yang dikendarai mamaknya me­nabrak dinding tembok se­kolah TK, lalu berguling ke sawah.
“Yang naik mobil tersebut ada lima orang. Tiga duduk di de­pan dan dua di belakang,” ung­kap Aulia saat ditemui di ruang IGD Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Solsel.
Lima orang penumpang pi­kap, termasuk sopir tercatat ma­sih satu keluarga. Mereka hen­dak berlebaran ke kam­pung ke Sariak Alahan Tigo, Pin­tikayu, Pakan Rabaa Timur, KPGD.
Tiga orang yang duduk di depan adalah Jamaris, 50 (sopir), Ides, 20, dan Aseh, 70. Sedangkan di bangku belakang, Aulia Rahman dan Mawardi, 40.
Dalam kecelakaan itu, Aseh dan Mawardi meninggal di tempat. Ides dan Jamaris kritis. Sedangkan Aulia Rahman mengalami luka robek di kepala, lutut dan jari kaki. Lima korban kecelakaan itu sempat dilarikan ke Puskesmas Pakanrabaa, selanjutnya dirujuk ke RSUD Solsel.
Sekitar pukul 12.30, jenazah Mawardi diberangkatkan ke kediamannya di Tanjungharapan, Lubuk Gadang Timur, Sangir. Sedangkan jenazah Aseh disemayamkan di kediamannya di Sungaisungkai, Sangir Balai Janggo. Sementara Ides dan Jamaris, dipindahkan ke kelas II dan III setelah mendapat perawatan di IGD.
Jamaris, sopir pikap, saat dimintai keterangan oleh polisi tampak masih lemas. Dia berusaha mengingat detik-detik sebelum kecelakaan. Ketika itu, Jamaris mengaku sempat pusing sebelum akhirnya menabrak dinding gedung TK.
Kapolres Solok Selatan AKBP Djoko Trisulo mengatakan telah meninjau tempat kejadian peristiwa (TKP) siang kemarin. Djoko memperkirakan setidaknya ada empat penyebab kecelakaan; akibat kondisi kendaraan, kondisi jalan, faktor alam, dan faktor manusia atau kelalaian. “Pikap tidak boleh menjadi angkutan penumpang,” ujarnya. Catatan Polres Solsel, selama Lebaran atau Operasi Ketupat, ada dua kasus kecelakaan lalu lintas di Solok Selatan.
Sebelumnya, Dinas Perhubungan Sumbar dan Polda Sumbar melarang penggunaan kendaraan barang untuk angkutan penumpang selama Lebaran. Fakta di lapangan, masih banyak ditemui kendaraan barang baik truk maupun pikap digunakan sebagai angkutan penumpang di jalan-jalan Sumbar selama Lebaran lalu. (sih) http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=33818


ANGKA PUTUS SEKOLAH TINGGI


Wajah pendidikan Kabupaten Solok Selatan, masih buram. Dua periode pemerintahan definitif di daerah ujung selatan Sumbar itu, angka putus sekolah masih tinggi, terutama di daerah pedalaman.
Kawasan yang jangkauannya sulit, di antaranya sejumlah jorong di Nagari Pakan Rabaa Utara, Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh (KPGD). Secara administratif, nagari di gerbang utara Solsel itu terdiri dari sembilan jorong. Ulu Suliti, Tanjung Limo Kapeh, Pasampantimur, Batangpasampan, Sungaikalu I, Koto Baru Sungai Kalu I, Pulaibungkuak, Batuangbajawek, dan Sungaikalu II. Dari sembilan jorong (desa) itu, terdapat empat jorong yang fasilitas pendidikan dasarnya (SD) saja tidak ada sama sekali. Tanjung Limo Kapeh, Koto Baru Sungai Kalu I, Pulai Bungkuak, dan jorong Batuangbajawek.
Anak-anak yang ingin mengecap pendidikan, terpaksa bersekolah di kampung tetangga. Tentu saja dengan konsekwensi, berjalan kaki beberapa kilometer. Sebab, angkutan umum memang tidak ada. Jalan yang mesti ditempuh pun, hanya jalan tanah dan berlumpur, meskipun cuaca tidak hujan.
Murid dari Tanjung Limo Kapeh, biasanya sekolah di SD Batang Pasampan. Jarak yang mesti mereka lalui setiap hari, mencapai 2 Km lebih. Terjalnya jalan sudah menjadi hal biasa. Begitupula bocah-bocah dari jorong Koto Baru Sungai Kalu I, bersekolah di kampung tetangga Sungaikalu I.
Perjalanan setiap paginya lebih dari 3 km. Diperparah lagi dengan akses jalan yang sangat tidak bersahabat. Membuat sepatu dan seragam sekolah tak pernah bersih dari percikan becek.
Catatan kantor wali nagari setempat, jumlah penduduk Pakan Rabaa Utara sebanyak 6.165 jiwa atau 1.848 Kepala Keluarga (KK). Menurut Plt sekretaris nagari, Andrinal, warga yang tidak tamat SD angkanya mencapai 30 persen dari total jumlah penduduk. Sedangkan warga yang lulusan sarjana, katanya masih hitungan jari.
”Sarana pendidikan di sini hanya terdapat tujuh buah SD dan dua buah SMP,” tutur Andrinal saat ditemui Padang Ekspres di kantornya, Senin (25/4).
Kalau ingin melanjutkan sekolah tingkat SMA menurut lelaki itu, masyarakat Pakan Rabaa Utara mesti ke pusat pemerintahan kecamatan. Belasan kilometer dari Pakan Rabaa Utara. Biasanya, siswa dari sana terpaksa kos, mengingat jarak yang cukup memakan waktu.
“Tidak heran kalau di sini masih banyak yang tidak tamat SD dan yang hanya sekolah sampai SD,” imbuhnya meyakinkan. Pendidikan sepertinya masih menjadi barang langka di daerah tersebut. Masyarakat setempat sangat berharap adanya penambahan unit sekolah baru. Terutama di jorong yang tidak ada SD. (*) http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=2465

Minggu, 16 Desember 2012

SOLOK SELATAN BERDUKA

Saturday, 15 December 2012 00:00 

SOLSEL- Wilayah Solok Selatan kembali dilanda banjir. Kali ini 175 unit rumah terendam lumpur, 75 unit rusak berat, 100 unit rusak ringan dan sebuah jembatan putus. Dua warga dilaporkan hilang.
Hujan lebat melanda Kabupaten Solok Selatan sejak Kamis (13/12) sore menyebabkan banjir bandang (galodo) di dua nagari di Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh, dan banjir di Jorong Kampuang Tarandam Kecamatan Sungai Pagu.
Banjir di daerah itu disebabkan curah hujan yang tinggi sehingga Sungai Batang Pangkua dan Sungai Batang Binuang di Nagari Pakan Rabaa, Sungai Sapan Salak di Nagari Pakan Rabaa Timur dan Batang Suliti di Jorong Kampuang Tarandam Nagari Pasar Muara Labuh meluap.

Air mulai meluap pada Kamis (13/12) sekitar pukul 22.00 wib. Akibatnya, dua warga Jorong Manggis, ibu dan anak, Rajinan (70) dan Simis (35) di Nagari Pakan Rabaa Timur hanyut terseret aliran sungai Sapan Salak. Mereka dinyatakan hilang dan sampai berita ini dituliskan, korban belum ditemukan.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok Selatan mencatat, banjir terjadi di Jorong Kampung Tarandam Nagari Pasar Muara Labuh Kecamatan Sungai Pagu. Namun, daerah ini sudah menjadi langganan banjir setiap meluapnya Sungai Batang Bangko dan Sungai Batang Suliti. Tidak ada dampak yang signifikan di jorong ini.

Kepala BPBD Solok Selatan Hamudis kepada Haluan, Jumat (14/12) menjelaskan, hujan di Jorong Sungai Pangkur Nagari Pakan Rabaa, dan Jorong Manggis Nagari Pakan Rabaa Timur Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh menyebabkan galodo.

Menurut keterangan Hamudis, di Nagari Pakan Rabaa, 175 unit rumah warga terendam lumpur, 100 unit rumah mengalami rusak ringan, dan 75 unit rumah rusak berat. Selain itu, banjir bandang juga menyebabkan sebuah jembatan Sungai Pangkur senilai Rp500 juta putus, tiga unit fasilitas umum berupa bangunan sekolah mengalami kerusakan dan terendam lumpur dan pasir. Tidak hanya itu, di Pakan Rabaa ini banjir juga menyebabkan tertimbunnya 12,5 ha sawah satu bulan tanam, dan pos kelompok tani ikut diseret Sungai Batang Pangkua. Kerugian diperkirakan sekitar Rp600 juta lebih.

Di Jorong Manggis Nagari Pakan Rabaa Timur, hujan lebat menyebabkan air bah. Dua orang terseret aliran sungai, mereka adalah anak dan ibu yang hendak mengunjungi rumah anaknya Siel dan suaminya Amrah yang tinggal di Jorong Manggis.

Sekretaris Nagari Pakan Rabaa Timur Nasril menjelaskan, air bah datang menghondoh nagarinya sekitar pukul 00.00 dini hari. Adapun dua orang warganya yang hanyut terseret air bah karena ingin mendatangi rumah familinya dengan tujuan mengingatkan bahwa air sungai sudah mulai meluap.

“Malang bagi Rajinan dan anaknya Simis, ketika ia hendak mengingatkan anaknya agar secepatnya mengungsi karena air sudah meluap. Sesampai rahinan di rumah siel, air bah datang seketika. Rajinan dan Simis ikut terseret air bah bersama rumah milik Siel dan Amrah,” ujarnya.
Adanya fasilitas sekolah yang ditimbun lumpur dan pasir, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Solok Selatan Fidel Effendi mengatakan, ada tiga sekolah yang terendam lumpur. Yaitu, Sekolah Dasar Negeri 09 Sungai Pangkur yang roboh pagar belakang dan depan, MTSN Sungai Pangkur yang digenangi lumpur dan pasir, dan SMAN 5 Solok Selatan digenangi air.
“Fasilitas sekolah sudah dibersihkan, semoga pada Sabtu (15/12) para siswa sudah mulai belajar. Sedangkan untuk siswa SD, mereka akan mengikuti ujian pada Senin (17/12) depan,” kata Kadispen Fidel Effendi.
Pencarian Korban Hanyut
Dua orang warga Ibu dan Anak Rajinan (70) dan Simis (35) masyarakat Jorong Manggis Nagari Pakan Rabaa Timur Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh hilang terbawa arus banjir bandang.
Sekretaris Nagari Pakan Rabaa Timur Nasril mengatakan, Rajinan dan Simis ingin memberitahukan kepada Siel dan Amra yang merupakan anak dari Rajinan bahwa air sudah naik.
Akan tetapi sampai di rumah tersebut, Siel dan suaminya sudah menginap ke rumah familinya di tempat yang lebih tinggi. Namun, naas bagi Rajinan dan Simis saat memasuki rumah anaknya itu, banjir bandang lansung menghantam.
Ia mengatakan, rumah permanen berukuran 7x9 meter milik pasangan Siel dan Amra yang dihantam banjir bandang rata dengan tanah. Pencarian terhadap Rajinan dan Simis sudah dimulai oleh masyarakat setempat pada pagi saat banjir sudah mulai surut.
Pada Jumat (14/12) pagi, masyarakat sudah melakukan penyisiran sungai Batang Sapan Salak guna melakukan pencarian. Tetapi belum membuahkan hasil.
Sedangkan Kapolres Solok Selatan AKBP Djoko Trisulo mengatakan, pencarian orang hilang tersebut kemungkinan akan menggunakan bantuan anjing pelacak. "Untuk kepastian adanya anjing pelacak yang bisa diturunkan, kita akan melakukan koordinasi dengan Polda Sumatera Barat," pungkasnya.
Pada Jumat (14/12) sore pencarian oleh Tim dari BPBD dihentikan sementara untuk menyusun strategi pencarian di hari berikutnya. Akan tetapi, masyarakat setempat masih tetap melakukan pencarian dua warga yang hilang tersebut.
Bantuan Pemda sudah disalurkan, Bupati Solok Selatan H Muzni Zakaria bersama Dinas Sosial dan Badan Penaggulangan Bencana Daerah sudah menyalurkan bantuan sembako untuk masa tanggap darurat berupa makanan pokok. Dari BPBD Solsel disalurkan makanan siap saji 100 bungkus, matrass 50 paket, tikar 50 paket, dan nasi bungkus 1000 buah. Selain itu, akan didirikan dua dapur umum di lokasi banjir bandang di Nagari Pakan Rabaa Timur. (h/col/met) http://haluanriaupress.com

Dua Warga Hilang

SOLSEL- Wilayah Solok Selatan kembali dilanda banjir. Kali ini 175 unit rumah terendam lumpur, 75 unit rusak berat, 100 unit rusak ringan dan sebuah jembatan putus. Dua warga dilaporkan hilang.
Hujan lebat melanda Kabupaten Solok Selatan sejak Kamis (13/12) sore menyebabkan banjir bandang (galodo) di dua nagari di Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh, dan banjir di Jorong Kampuang Tarandam Kecamatan Sungai Pagu.
Banjir di daerah itu disebabkan curah hujan yang tinggi sehingga Sungai Batang Pangkua dan Sungai Batang Binuang di Nagari Pakan Rabaa, Sungai Sapan Salak di Nagari Pakan Rabaa Timur dan Batang Suliti di Jorong Kampuang Tarandam Nagari Pasar Muara Labuh meluap.

Air mulai meluap pada Kamis (13/12) sekitar pukul 22.00 wib. Akibatnya, dua warga Jorong Manggis, ibu dan anak, Rajinan (70) dan Simis (35) di Nagari Pakan Rabaa Timur hanyut terseret aliran sungai Sapan Salak. Mereka dinyatakan hilang dan sampai berita ini dituliskan, korban belum ditemukan.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok Selatan mencatat, banjir terjadi di Jorong Kampung Tarandam Nagari Pasar Muara Labuh Kecamatan Sungai Pagu. Namun, daerah ini sudah menjadi langganan banjir setiap meluapnya Sungai Batang Bangko dan Sungai Batang Suliti. Tidak ada dampak yang signifikan di jorong ini.

Kepala BPBD Solok Selatan Hamudis kepada Haluan, Jumat (14/12) menjelaskan, hujan di Jorong Sungai Pangkur Nagari Pakan Rabaa, dan Jorong Manggis Nagari Pakan Rabaa Timur Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh menyebabkan galodo.

Menurut keterangan Hamudis, di Nagari Pakan Rabaa, 175 unit rumah warga terendam lumpur, 100 unit rumah mengalami rusak ringan, dan 75 unit rumah rusak berat. Selain itu, banjir bandang juga menyebabkan sebuah jembatan Sungai Pangkur senilai Rp500 juta putus, tiga unit fasilitas umum berupa bangunan sekolah mengalami kerusakan dan terendam lumpur dan pasir. Tidak hanya itu, di Pakan Rabaa ini banjir juga menyebabkan tertimbunnya 12,5 ha sawah satu bulan tanam, dan pos kelompok tani ikut diseret Sungai Batang Pangkua. Kerugian diperkirakan sekitar Rp600 juta lebih.

Di Jorong Manggis Nagari Pakan Rabaa Timur, hujan lebat menyebabkan air bah. Dua orang terseret aliran sungai, mereka adalah anak dan ibu yang hendak mengunjungi rumah anaknya Siel dan suaminya Amrah yang tinggal di Jorong Manggis.

Sekretaris Nagari Pakan Rabaa Timur Nasril menjelaskan, air bah datang menghondoh nagarinya sekitar pukul 00.00 dini hari. Adapun dua orang warganya yang hanyut terseret air bah karena ingin mendatangi rumah familinya dengan tujuan mengingatkan bahwa air sungai sudah mulai meluap.

“Malang bagi Rajinan dan anaknya Simis, ketika ia hendak mengingatkan anaknya agar secepatnya mengungsi karena air sudah meluap. Sesampai rahinan di rumah siel, air bah datang seketika. Rajinan dan Simis ikut terseret air bah bersama rumah milik Siel dan Amrah,” ujarnya.
Adanya fasilitas sekolah yang ditimbun lumpur dan pasir, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Solok Selatan Fidel Effendi mengatakan, ada tiga sekolah yang terendam lumpur. Yaitu, Sekolah Dasar Negeri 09 Sungai Pangkur yang roboh pagar belakang dan depan, MTSN Sungai Pangkur yang digenangi lumpur dan pasir, dan SMAN 5 Solok Selatan digenangi air.
“Fasilitas sekolah sudah dibersihkan, semoga pada Sabtu (15/12) para siswa sudah mulai belajar. Sedangkan untuk siswa SD, mereka akan mengikuti ujian pada Senin (17/12) depan,” kata Kadispen Fidel Effendi.
Pencarian Korban Hanyut
Dua orang warga Ibu dan Anak Rajinan (70) dan Simis (35) masyarakat Jorong Manggis Nagari Pakan Rabaa Timur Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh hilang terbawa arus banjir bandang.
Sekretaris Nagari Pakan Rabaa Timur Nasril mengatakan, Rajinan dan Simis ingin memberitahukan kepada Siel dan Amra yang merupakan anak dari Rajinan bahwa air sudah naik.
Akan tetapi sampai di rumah tersebut, Siel dan suaminya sudah menginap ke rumah familinya di tempat yang lebih tinggi. Namun, naas bagi Rajinan dan Simis saat memasuki rumah anaknya itu, banjir bandang lansung menghantam.
Ia mengatakan, rumah permanen berukuran 7x9 meter milik pasangan Siel dan Amra yang dihantam banjir bandang rata dengan tanah. Pencarian terhadap Rajinan dan Simis sudah dimulai oleh masyarakat setempat pada pagi saat banjir sudah mulai surut.
Pada Jumat (14/12) pagi, masyarakat sudah melakukan penyisiran sungai Batang Sapan Salak guna melakukan pencarian. Tetapi belum membuahkan hasil.
Sedangkan Kapolres Solok Selatan AKBP Djoko Trisulo mengatakan, pencarian orang hilang tersebut kemungkinan akan menggunakan bantuan anjing pelacak. "Untuk kepastian adanya anjing pelacak yang bisa diturunkan, kita akan melakukan koordinasi dengan Polda Sumatera Barat," pungkasnya.
Pada Jumat (14/12) sore pencarian oleh Tim dari BPBD dihentikan sementara untuk menyusun strategi pencarian di hari berikutnya. Akan tetapi, masyarakat setempat masih tetap melakukan pencarian dua warga yang hilang tersebut.
Bantuan Pemda sudah disalurkan
Bupati Solok Selatan H Muzni Zakaria bersama Dinas Sosial dan Badan Penaggulangan Bencana Daerah sudah menyalurkan bantuan sembako untuk masa tanggap darurat berupa makanan pokok. Dari BPBD Solsel disalurkan makanan siap saji 100 bungkus, matrass 50 paket, tikar 50 paket, dan nasi bungkus 1000 buah. Selain itu, akan didirikan dua dapur umum di lokasi banjir bandang di Nagari Pakan Rabaa Timur. (h/col/met)