Selasa, 01 Oktober 2013
Senin, 30 September 2013
Penambang Tradisional yang Marasai
Tanggal 07 June 2013
(Trio Jenifran dan Guspayendri)
– MENYUSURI TAMBANG EMAS ILEGAL DI SOLOK SELATAN (4) — iang itu, asap
hitam membumbung tinggi. Beberapa orang terlihat sibuk di atas kapal
lanting. Mereka mencari emas dengan menyedot aliran Sungai Batang Hari.
Begitu pula, kapal keruk, kendatipun tidak terlihat beroperasi, tapi
tetap juga jadi ancaman bagi kelestarian alam Batang Hari.
Kapal keruk dan lanting bekerja secara
moderen. Kapal-kapal itu dengan mudah mengeruk dan menyedot pasir-pasir
yang bercampur biji besi. Lalu bagaimana nasib penambang yang bermodalan
dompeng dan mendulang?
“Tidak dapat apa-apa Pak, dalam satu bulan hanya mendapatkan lima gram, “ ujar Jhon, penambang emas di lokasi Batu Lauang, Sungai Batang Hari, Solok Selatan (Solsel) kepada Tim Singgalang, pekan lalu.
Nasib penambang ini memang jauh berbeda dengan penambang yang menggunakan ekskavator, kapal keruk dan lanting. Penambang yang menggunakan alat moderen tersebut bisa mendapatkan 50 gram, bahkan bisa mencapai 200 gram/bulan.
“Pendapatan kami hanya untuk makan saja. Itupun kadang-kadang tidak dapat apa-apa, “ ujar Rudi, penambang lainnya.
“Tidak dapat apa-apa Pak, dalam satu bulan hanya mendapatkan lima gram, “ ujar Jhon, penambang emas di lokasi Batu Lauang, Sungai Batang Hari, Solok Selatan (Solsel) kepada Tim Singgalang, pekan lalu.
Nasib penambang ini memang jauh berbeda dengan penambang yang menggunakan ekskavator, kapal keruk dan lanting. Penambang yang menggunakan alat moderen tersebut bisa mendapatkan 50 gram, bahkan bisa mencapai 200 gram/bulan.
“Pendapatan kami hanya untuk makan saja. Itupun kadang-kadang tidak dapat apa-apa, “ ujar Rudi, penambang lainnya.
Menurut penambang asal Kuranji, Padang
itu, penghasilan mulai menurun sejak terjadinya razia yang digelar
aparat kepolisian bersama tim terpadu. Meskipun menurun, ia bersama
teman-temannya tetap melakukan penambangan dengan menggunakan dompeng,
jika tidak dapur tidak berasap.
“Iya bagaimana lagi Pak, saya jauh-jauh dari Padang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, “ujar Rudi.
Penambang ini mengharapkan pada pemerintah Solok Selatan dan aparat kepolisian agar mengizinkan menggunakan dompeng untuk mengais rezeki di aliran Sungai Batang Hari. “Kemana lagi kami mencari rezeki Pak, hanya di sungai ini satu-satunya,” ujar penambang lainnya.
Pendulang
Lain lagi nasib pendulang. Di bawah terik matahari, mereka terus mengurai pasir dengan dulang yang terbuat dari urat kayu berbentuk lingkaran dan melengkung seperti kuali. Dulang itu digoyang-goyangkan dengan pelan dipermukaan air sungai.
Meskipun tidak ada kepastian untuk mendapatkan biji emas, kaum Hawa dan Adam itu tetap saja bersemangat mendulang. Mereka mendulang emas dari tumpukan pasir dan kerikil yang telah keluar dari kapal lanting.
“Kami hanya mendulang dari tumpakan pasir ini Pak. Kadang-kadang tidak ada dapat sama sekali,” ujar Murni, pendulang emas di aliran Batang Hari itu.
Menurut dia, pendapatannya tidak bisa dipatok. Untuk makan sehari-hari saja susah mendapatkannya. “Sudah susah sekarang, tidak seperti dulu,” ujar wanita paro baya itu sambil mengoyang-goyangkan dulangnya.
Pernyataan pendulang itu dibenarkan Irwan Sangir, tokoh masyarakat Muaro Sangir. Menurut dia, saat ini penambang emas main kucing-kucingan dengan aparat kepolisian. Jika ini dibiarkan berlama-lama, dikhawatirkan akan timbul masalah baru, sebab warga di aliran sungai hanya bermata pencarian tambang. Meskipun punya ladang, warga lebih memilih mencari emas.
“Kami minta persoalan ini diselesaikan dengan cepat, jika tidak akan timbul masalah lain,” ujar dia.
Selain itu, ia juga meminta pada aparat kepolisian dan Pemkab Solsel agar memperbolehkan kapal lanting dan dompeng beroperasi, kecuali kapal Cina.
Kapolres Solsel, AKBP Djoko Trisulo menuturkan pihaknya tetap memburu penambang yang menggunakan ekskavator, kecuali yang mengunakan lanting dan dompeng. “Kita tidak main-main, penambang yang menggunakan alat berat tidak dikasih ampun,” ujar dia.
Dikatakan, pihaknya telah mengamankan 58 unit ekskavator, dengan 11 tersangka. Selain itu, 20 penambang dinyatakan buron.
“Mudah-mudahan dengan adanya razia ini, aktivitas tambang ilegal dapat dicegah, “kata perwira menengah tersebut. (*)
“Iya bagaimana lagi Pak, saya jauh-jauh dari Padang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, “ujar Rudi.
Penambang ini mengharapkan pada pemerintah Solok Selatan dan aparat kepolisian agar mengizinkan menggunakan dompeng untuk mengais rezeki di aliran Sungai Batang Hari. “Kemana lagi kami mencari rezeki Pak, hanya di sungai ini satu-satunya,” ujar penambang lainnya.
Pendulang
Lain lagi nasib pendulang. Di bawah terik matahari, mereka terus mengurai pasir dengan dulang yang terbuat dari urat kayu berbentuk lingkaran dan melengkung seperti kuali. Dulang itu digoyang-goyangkan dengan pelan dipermukaan air sungai.
Meskipun tidak ada kepastian untuk mendapatkan biji emas, kaum Hawa dan Adam itu tetap saja bersemangat mendulang. Mereka mendulang emas dari tumpukan pasir dan kerikil yang telah keluar dari kapal lanting.
“Kami hanya mendulang dari tumpakan pasir ini Pak. Kadang-kadang tidak ada dapat sama sekali,” ujar Murni, pendulang emas di aliran Batang Hari itu.
Menurut dia, pendapatannya tidak bisa dipatok. Untuk makan sehari-hari saja susah mendapatkannya. “Sudah susah sekarang, tidak seperti dulu,” ujar wanita paro baya itu sambil mengoyang-goyangkan dulangnya.
Pernyataan pendulang itu dibenarkan Irwan Sangir, tokoh masyarakat Muaro Sangir. Menurut dia, saat ini penambang emas main kucing-kucingan dengan aparat kepolisian. Jika ini dibiarkan berlama-lama, dikhawatirkan akan timbul masalah baru, sebab warga di aliran sungai hanya bermata pencarian tambang. Meskipun punya ladang, warga lebih memilih mencari emas.
“Kami minta persoalan ini diselesaikan dengan cepat, jika tidak akan timbul masalah lain,” ujar dia.
Selain itu, ia juga meminta pada aparat kepolisian dan Pemkab Solsel agar memperbolehkan kapal lanting dan dompeng beroperasi, kecuali kapal Cina.
Kapolres Solsel, AKBP Djoko Trisulo menuturkan pihaknya tetap memburu penambang yang menggunakan ekskavator, kecuali yang mengunakan lanting dan dompeng. “Kita tidak main-main, penambang yang menggunakan alat berat tidak dikasih ampun,” ujar dia.
Dikatakan, pihaknya telah mengamankan 58 unit ekskavator, dengan 11 tersangka. Selain itu, 20 penambang dinyatakan buron.
“Mudah-mudahan dengan adanya razia ini, aktivitas tambang ilegal dapat dicegah, “kata perwira menengah tersebut. (*)
Tidak Benar Marinir Bekingi Tambang Emas
Tanggal 07 June 2013
PADANG – Komandan Lantamal II
Padang, Brigjen TNI (Mar) Soedarmien Soedar mengatakan tidak benar oknum
Marinir terlibat dalam kegiatan tambang emas ilegal di Solok Selatan
(Solsel).
Kepada Singgalang, Rabu (5/6), Danlantamal mengaku terkejut adanya informasi oknum Marinir membekingi tambang emas di Solok Selatan. “Tidak benar itu, tidak ada anggota saya terlibat dalam tambang emas itu,” kata dia mengklarifikasi berita yang mengatakan oknum Marinir terlibat ilegal mining di Solok Selatan.
Didampingi Asisten Intelijen, Kolonel Laut (E) Gatot Suprapto dan Danyonmarhanlan II, Mayor (Mar) Etwin Ramadhan, jenderal bintang satu itu mengatakan sebagai komandan TNI AL dan juga sebagai anggota Marinir, ia sangat menyesali tindakan orang-orang yang mengaku anggota Marinir tersebut. “Ini perbuatan yang tidak bisa ditolerir dan harus ditindak oleh aparat yang berwenang,” ujar dia.
Kepada Singgalang, Rabu (5/6), Danlantamal mengaku terkejut adanya informasi oknum Marinir membekingi tambang emas di Solok Selatan. “Tidak benar itu, tidak ada anggota saya terlibat dalam tambang emas itu,” kata dia mengklarifikasi berita yang mengatakan oknum Marinir terlibat ilegal mining di Solok Selatan.
Didampingi Asisten Intelijen, Kolonel Laut (E) Gatot Suprapto dan Danyonmarhanlan II, Mayor (Mar) Etwin Ramadhan, jenderal bintang satu itu mengatakan sebagai komandan TNI AL dan juga sebagai anggota Marinir, ia sangat menyesali tindakan orang-orang yang mengaku anggota Marinir tersebut. “Ini perbuatan yang tidak bisa ditolerir dan harus ditindak oleh aparat yang berwenang,” ujar dia.
Menurut Soedarmin, pihaknya sudah
menekankan pada seluruh prajurit TNI AL agar tidak melakukan tindakan di
luar hukum, apalagi melindungi atau membekingi kegiatan tambang ilegal.
Selain itu, anggota TNI Al dan Marinir tidak boleh sembarangan membawa senjata api ke luar markas komando, apalagi senjata api laras panjang. “Membawa senjata api itu tidak sembarangan ada aturannya dan semuanya tercatat serta jelas orangnya,” ujarnya.
Sekaitan dengan itu, pihaknya telah menurunkan tim ke lokasi tambang emas Solok Selatan guna menyelidiki orang yang mengaku anggota Marinir itu. “Kalau tertangkap akan diberikan tindakan tegas, sebab telah mencoreng institusi,” ujar Soedarmin lagi.
Komandan Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan (Danyonmarhanlan) II, Mayor (Mar) Etwin Ramadhan dengan tegas mengatakan tidak ada anggotanya terlibat dalam tambang emas ilegal itu. Semua anggotanya berada di markas komando dan tidak ada yang berada di luar.
Ketika diperlihatkan nama-nama oknum yang mengaku anggota Marinir itu, Mayor Etwin pun tidak menemukan semua nama tersebut anggotanya. “Tidak ada satupun nama-nama ini anggota Marinir,” ujar Etwin ketika melihat kertas yang berisikan nama-nama oknum TNI yang diduga membekingi tambang emas di Solsel.
Menurut dia, orang yang mengaku anggota Marinir itu sebuah permainan yang dilakukan orang tak bertanggung jawab, sehingga korps Marinir jelek di kalangan orang banyak.
“Ini harus ditindak tegas, sebab perbuatan orang itu telah mencoreng TNI Al dan Korps Marinir,” ujar Etwin.
Dia menegaskan, tidak ada anggotanya terlibat di lapangan, apalagi membekingi tambang emas tersebut. “Mohon diklarifikasi lagi ya, tidak benar itu dan tidak ada satupun anggota saya itu,” ujar Etwin. (101)
Selain itu, anggota TNI Al dan Marinir tidak boleh sembarangan membawa senjata api ke luar markas komando, apalagi senjata api laras panjang. “Membawa senjata api itu tidak sembarangan ada aturannya dan semuanya tercatat serta jelas orangnya,” ujarnya.
Sekaitan dengan itu, pihaknya telah menurunkan tim ke lokasi tambang emas Solok Selatan guna menyelidiki orang yang mengaku anggota Marinir itu. “Kalau tertangkap akan diberikan tindakan tegas, sebab telah mencoreng institusi,” ujar Soedarmin lagi.
Komandan Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan (Danyonmarhanlan) II, Mayor (Mar) Etwin Ramadhan dengan tegas mengatakan tidak ada anggotanya terlibat dalam tambang emas ilegal itu. Semua anggotanya berada di markas komando dan tidak ada yang berada di luar.
Ketika diperlihatkan nama-nama oknum yang mengaku anggota Marinir itu, Mayor Etwin pun tidak menemukan semua nama tersebut anggotanya. “Tidak ada satupun nama-nama ini anggota Marinir,” ujar Etwin ketika melihat kertas yang berisikan nama-nama oknum TNI yang diduga membekingi tambang emas di Solsel.
Menurut dia, orang yang mengaku anggota Marinir itu sebuah permainan yang dilakukan orang tak bertanggung jawab, sehingga korps Marinir jelek di kalangan orang banyak.
“Ini harus ditindak tegas, sebab perbuatan orang itu telah mencoreng TNI Al dan Korps Marinir,” ujar Etwin.
Dia menegaskan, tidak ada anggotanya terlibat di lapangan, apalagi membekingi tambang emas tersebut. “Mohon diklarifikasi lagi ya, tidak benar itu dan tidak ada satupun anggota saya itu,” ujar Etwin. (101)
Kompolnas Pantau Tambang Ilegal Solse
Berita Singgalang | Utama
lTanggal 13 June 2013
JANGAN ADA YANG DILINDUNGI :
Padang, Singgalang
Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) siap memantau penanganan tindak pidana penambangan emas ilegal di Solok Selatan.
“Kita akan pantau penanganannya oleh kepolisian. Jangan sampai ada yang dilindungi,” kata Komisioner Kompolnas, Hamidah Abdurrahman usai tatap muka dengan pejabat Polda Sumbar, perwakilan LSM, akademisi, tokoh masyarakat, tokoh agama dan wartawan di Mapolda Sumbar, Rabu (12/6).
Ia berharap ada elemen masyarakat yang menyampaikan laporan resmi ke Kompolnas, jika ada yang tidak beres dalam penegakan hukum kasus tersebut. “Kita tunggu laporannya,” ujarnya.
Pihaknya sudah mendapatkan beberapa informasi terkait proses hukum pelaku tambang
Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) siap memantau penanganan tindak pidana penambangan emas ilegal di Solok Selatan.
“Kita akan pantau penanganannya oleh kepolisian. Jangan sampai ada yang dilindungi,” kata Komisioner Kompolnas, Hamidah Abdurrahman usai tatap muka dengan pejabat Polda Sumbar, perwakilan LSM, akademisi, tokoh masyarakat, tokoh agama dan wartawan di Mapolda Sumbar, Rabu (12/6).
Ia berharap ada elemen masyarakat yang menyampaikan laporan resmi ke Kompolnas, jika ada yang tidak beres dalam penegakan hukum kasus tersebut. “Kita tunggu laporannya,” ujarnya.
Pihaknya sudah mendapatkan beberapa informasi terkait proses hukum pelaku tambang
emas itu, baik yang sudah dilimpahkan ke kejaksaan, maunpun yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).
Ia pun tak menampik kesan polisi masih separoh hati mengusutnya dengan hanya menindak pelaku di lapangan saja. Sementara sejumlah nama yang sempat disebut-sebut sebagai kaki tangan cukong, dan penyandang dana belum tersentuh. Bahkan ada nama yang masuk DPO tetapi belum juga ditangkap meski diinformasikan masih berkeliaran di Sumbar.
“Polisi harus profesional. Fungsi kami mengawasinya. Laporkan semua kepada kami, akan segera kita tindaklanjuti,” lanjut Hamidah.
Pihaknya pun berjanji proaktif memantau kinerja polisi dalam penanganan perkara itu, dan tidak tertutup kemungkinan Kompolnas merekomendasikan agar Kapolri melibatkan tim dari Mabes Polri.
“Bisa jadi ada kendala, dan perlu bantuan dari Mabes Polri agar bisa dituntaskan, dan semua pihak yang terlibat ditindak serta diproses hukum sesuai aturan yang berlaku.
Empat kasus
Selain sosialisasi tugas dan fungsi Kompolnas lebih jauh, kedatangan Hamidah ke Sumbar juga untuk mengklarifikasi empat laporan yang masuk ke Kompolnas dari Sumbar, masing-masing kasus penembakan bintara di Mapolresta Bukittingi, kekerasan terhadap tersangka di Mapolresta Limapuluh Kota, penggeledahan terhadap warga Mata Air, Padang yang mengaku dari Densus 88, dan pengrusakan pondok. “Untuk kasus Bukittinggi, kami mengapresiasi sikap Kapolda Sumbar yang mengambil keputusan mencopot Wakapolresta, dan ditarik ke Polda. Saya kira ini sebuah evaluasi yang cukup positif,” kata Hamidah.
Pihaknya melihat cukup beralasan bagi Wakapolresta Bukittinggi Kompol Arif Budiman untuk membela diri. “Persoalannya adalah yang dihadapi anak buahnya. Apakah sebegitu bahayanya ancaman, sehingga perlu mengeluarkan tembakan dengan peluru tajam. Ini yang terus digali,” lanjutnya.
Ia pun mengakui Bripka Elmi Waldi yang jadi korban penembakan mempunyai beberapa masalah kedinasan yang menyebabkan pembayaran gajinya tertunda. Hanya saja, pendekatan terhadap yang bersangkutan kemungkinan tidak tepat, sehingga memicu insiden yang tidak diharapkan.
Sementara kasus penggeledahan yang dilaporkan melibatkan Densus, tidak diketahui identitas yang melakukannnya. Kemudian untuk kekerasan terhadap tersangka dan perusakan pondok tidak juga ditemui pelanggaran yang signifikan di dalamnya. (aci)
Ia pun tak menampik kesan polisi masih separoh hati mengusutnya dengan hanya menindak pelaku di lapangan saja. Sementara sejumlah nama yang sempat disebut-sebut sebagai kaki tangan cukong, dan penyandang dana belum tersentuh. Bahkan ada nama yang masuk DPO tetapi belum juga ditangkap meski diinformasikan masih berkeliaran di Sumbar.
“Polisi harus profesional. Fungsi kami mengawasinya. Laporkan semua kepada kami, akan segera kita tindaklanjuti,” lanjut Hamidah.
Pihaknya pun berjanji proaktif memantau kinerja polisi dalam penanganan perkara itu, dan tidak tertutup kemungkinan Kompolnas merekomendasikan agar Kapolri melibatkan tim dari Mabes Polri.
“Bisa jadi ada kendala, dan perlu bantuan dari Mabes Polri agar bisa dituntaskan, dan semua pihak yang terlibat ditindak serta diproses hukum sesuai aturan yang berlaku.
Empat kasus
Selain sosialisasi tugas dan fungsi Kompolnas lebih jauh, kedatangan Hamidah ke Sumbar juga untuk mengklarifikasi empat laporan yang masuk ke Kompolnas dari Sumbar, masing-masing kasus penembakan bintara di Mapolresta Bukittingi, kekerasan terhadap tersangka di Mapolresta Limapuluh Kota, penggeledahan terhadap warga Mata Air, Padang yang mengaku dari Densus 88, dan pengrusakan pondok. “Untuk kasus Bukittinggi, kami mengapresiasi sikap Kapolda Sumbar yang mengambil keputusan mencopot Wakapolresta, dan ditarik ke Polda. Saya kira ini sebuah evaluasi yang cukup positif,” kata Hamidah.
Pihaknya melihat cukup beralasan bagi Wakapolresta Bukittinggi Kompol Arif Budiman untuk membela diri. “Persoalannya adalah yang dihadapi anak buahnya. Apakah sebegitu bahayanya ancaman, sehingga perlu mengeluarkan tembakan dengan peluru tajam. Ini yang terus digali,” lanjutnya.
Ia pun mengakui Bripka Elmi Waldi yang jadi korban penembakan mempunyai beberapa masalah kedinasan yang menyebabkan pembayaran gajinya tertunda. Hanya saja, pendekatan terhadap yang bersangkutan kemungkinan tidak tepat, sehingga memicu insiden yang tidak diharapkan.
Sementara kasus penggeledahan yang dilaporkan melibatkan Densus, tidak diketahui identitas yang melakukannnya. Kemudian untuk kekerasan terhadap tersangka dan perusakan pondok tidak juga ditemui pelanggaran yang signifikan di dalamnya. (aci)
Polres Solsel Amankan Kayu Ilegal
Tanggal 15 June 2013
SOLSEL — Sebanyak dua truk kayu
yang diduga hasil illegal logging, diamankan tim buser Polres Solok
Selatan, Kamis (13/6) di dua lokasi berbeda.
Satu truk diamankan di daerah Bidar Alam
Kecamatan Sangir, bermuatan lima kubik kayu jenis meranti. Satu truk
lagi di daerah Padang Air Dingin, bermuatan enam kubik kayu berjenis
banio.
Kedua truk berikut muatan dan sopirnya diamankan di Mapolres Solok selatan di Padang Aro.
Penangkapan itu merupakan gebrakan perdana AKBP Nanang Putu Wardianto yang baru menjabat menjabat Kapolres sejak dua hari lalu. “Ini komitmen kepolisian untuk memberantas illegal logging dan illegal minning di Solok Selatan,” ungkap Kapolres Nanang kepada wartawan, Jumat (14/6) di ruang kerjanya.
Sebelumnya, Kapolda Brigjen Noer Ali, dalam wawancara dengan Singgalang beberapa waktu lalu memang menyampaikan pekerjaan rumah pertama bagi Kapolres ba ru di Solok Selatan adalah pem berantasan illegal logging.
Disampaikan Nanang, penangkapan dua truk bermuatan kayu tersebut, dilakukan dalam operasi tim buser Polres pada Kamis malam (13/6). Setelah menyisiri jalur-jalur yang diduga rute pengangkutan kayu hasil illegal logging, tim berhasil mengamankan dua truk bermuatan kayu jenis meranti dan banio.
Polisi masih terus melakukan pengembangan. Terutama menyangkut pemilik dan tempat tujuan kayu-kayu tersebut. Dua sopir truk, A (54), warga Sampu dan N (32) warga Padang Alai.
Nanang Putu Wardianto, juga menyampaikan upaya pemberantasan illegal logging akan terus dilakukan di wilayah kerjanya. Laporan masyarakat dan informasi berbagai pihak akan terus ditindaklanjuti. (536)
Penangkapan itu merupakan gebrakan perdana AKBP Nanang Putu Wardianto yang baru menjabat menjabat Kapolres sejak dua hari lalu. “Ini komitmen kepolisian untuk memberantas illegal logging dan illegal minning di Solok Selatan,” ungkap Kapolres Nanang kepada wartawan, Jumat (14/6) di ruang kerjanya.
Sebelumnya, Kapolda Brigjen Noer Ali, dalam wawancara dengan Singgalang beberapa waktu lalu memang menyampaikan pekerjaan rumah pertama bagi Kapolres ba ru di Solok Selatan adalah pem berantasan illegal logging.
Disampaikan Nanang, penangkapan dua truk bermuatan kayu tersebut, dilakukan dalam operasi tim buser Polres pada Kamis malam (13/6). Setelah menyisiri jalur-jalur yang diduga rute pengangkutan kayu hasil illegal logging, tim berhasil mengamankan dua truk bermuatan kayu jenis meranti dan banio.
Polisi masih terus melakukan pengembangan. Terutama menyangkut pemilik dan tempat tujuan kayu-kayu tersebut. Dua sopir truk, A (54), warga Sampu dan N (32) warga Padang Alai.
Nanang Putu Wardianto, juga menyampaikan upaya pemberantasan illegal logging akan terus dilakukan di wilayah kerjanya. Laporan masyarakat dan informasi berbagai pihak akan terus ditindaklanjuti. (536)
Kinerja Tim Terpadu Mulai Dipertanyakan
Tanggal 19 June 2013
SOLSEL — Ketua tim terpadu
pemberantasan illegal minning Solok Selatan, H. Fachril Murad, akan
membawa persoalan pengrusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan
ke wilayah hukum. Persiapan untuk itu tengah dilakukan.
Namun terkait tindakan penertiban yang
dilakukan, beberapa masyarakat Solok Selatan mulai mempertanyakan
kinerja tim terpadu. Masyarakat menilai, semenjak terbentuk empat bulan
silam, gaung tim yang dipimpin lansung sekdakab Solok Selatan, H.
Fachril Murad itu, tidak terlalu bergema.
H. Fachril Murad sendiri selaku ketua tim, mengaku timnya telah bekerja sesuai dengan amanat yang diembankan Bupati Solok Selatan H. Muzni Zakaria. “Tim ini, akan terus bekerja sampai persoalan illegal minning ini tuntas,” katanya kepada Singgalang, Selasa (18/6).
Hanya saja, setiap kerja yang dilakukan itu, tentu saja tidak semuanya bisa disampaikan kepada masyarakat. “Itu untuk kepentingan penertiban yang dilakukan tim,” tuturnya.
Disampaikan Fachril, sejauh ini aktivitas penambangan emas di Solok Selatan sudah jauh berkurang dari sebelumnya. Itu terlihat dari jumlah alat berat yang beroperasi yang sudah tidak sebanyak sebelumnya.
Upaya lain yang dilakukan adalah meminta pertanggung jawaban pihak penambang terhadap kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. “Data-data kerusakan sudah ada,” katanya.
Itu dilakukan bukan hanya oleh pihak penambang illegal, tapi juga oleh penambang berizin. “Ini akan kita bawa ke pengadilan. Saya sendiri yang akan mengadukannya nanti,” tegas Fachril.
Sementara itu, beberapa masyarakat yang ditemui Singgalang, belum melihat perubahan signifikan terhadap pemberantasan illegal minning. Banyak tempat yang selama ini menjadi lokasi pertambangan, tetap beroperasi. “Di Muko-muko, di Pinti Kayu utara, Batang Bangko dan lainnya, masih terlihat ekskavator meraung-raung menggali tanah menambang emas,” ungkap warga Padang Aro, Ed.
Disampaikan Ed, demikian juga di sepanjang batang sungai Batang Hari, kegiatan berlansung seperti biasanya. “Beberapa ekskavator dan kapal keruk masih terus bekerja. Pengusaha tambang terkesan tidak ada takut sama sekali,” paparnya.
Rapat lokasi WPR
Dalam kesempatan itu, ketua Tim terpadu pemberantasan illegal minning Solok Selatan, H. Fachril Murad, juga mengungkapkan bahwa dalam minggu ini pihaknya akan melakukan rapat dengan berbagai pihak terkait di Solok Selatan tentang penetapan lokasi Wilayah Pertambangan Rakyat.
“Ini adalah bentuk solusi yang kita carikan. WPR bukan hanya wacana, tapi kita sudah memasuki upaya penentuan lokasi yang mungkin,” katanya.
Wakil Bupati Solok Selatan, Abdul Rahman, yang ditemui wartawan, mengungkapkan bahwa kinerja tim terpadu terus dipantau. Hasil yang dicapai sejauh ini sudah cukup menggembirakan. “Ter lihat kan, penambangan liar mulai berkurang. Kalaupun masih ada, itu di tempat-tempat jauh yang sulit dijangkau. Jumlahnya pun tidak banyak,” katanya.
Terkait pandangan masyarakat terhadap kinerja tim, Wabup Abdul Rahman memastikan, komitmen tim untuk memberantas illegal minning tetap berjalan. “Sementara itu, kita terus mengupayakan solusi-solusi terbaik untuk masyarakat Solok selatan,” katanya. (536)
H. Fachril Murad sendiri selaku ketua tim, mengaku timnya telah bekerja sesuai dengan amanat yang diembankan Bupati Solok Selatan H. Muzni Zakaria. “Tim ini, akan terus bekerja sampai persoalan illegal minning ini tuntas,” katanya kepada Singgalang, Selasa (18/6).
Hanya saja, setiap kerja yang dilakukan itu, tentu saja tidak semuanya bisa disampaikan kepada masyarakat. “Itu untuk kepentingan penertiban yang dilakukan tim,” tuturnya.
Disampaikan Fachril, sejauh ini aktivitas penambangan emas di Solok Selatan sudah jauh berkurang dari sebelumnya. Itu terlihat dari jumlah alat berat yang beroperasi yang sudah tidak sebanyak sebelumnya.
Upaya lain yang dilakukan adalah meminta pertanggung jawaban pihak penambang terhadap kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. “Data-data kerusakan sudah ada,” katanya.
Itu dilakukan bukan hanya oleh pihak penambang illegal, tapi juga oleh penambang berizin. “Ini akan kita bawa ke pengadilan. Saya sendiri yang akan mengadukannya nanti,” tegas Fachril.
Sementara itu, beberapa masyarakat yang ditemui Singgalang, belum melihat perubahan signifikan terhadap pemberantasan illegal minning. Banyak tempat yang selama ini menjadi lokasi pertambangan, tetap beroperasi. “Di Muko-muko, di Pinti Kayu utara, Batang Bangko dan lainnya, masih terlihat ekskavator meraung-raung menggali tanah menambang emas,” ungkap warga Padang Aro, Ed.
Disampaikan Ed, demikian juga di sepanjang batang sungai Batang Hari, kegiatan berlansung seperti biasanya. “Beberapa ekskavator dan kapal keruk masih terus bekerja. Pengusaha tambang terkesan tidak ada takut sama sekali,” paparnya.
Rapat lokasi WPR
Dalam kesempatan itu, ketua Tim terpadu pemberantasan illegal minning Solok Selatan, H. Fachril Murad, juga mengungkapkan bahwa dalam minggu ini pihaknya akan melakukan rapat dengan berbagai pihak terkait di Solok Selatan tentang penetapan lokasi Wilayah Pertambangan Rakyat.
“Ini adalah bentuk solusi yang kita carikan. WPR bukan hanya wacana, tapi kita sudah memasuki upaya penentuan lokasi yang mungkin,” katanya.
Wakil Bupati Solok Selatan, Abdul Rahman, yang ditemui wartawan, mengungkapkan bahwa kinerja tim terpadu terus dipantau. Hasil yang dicapai sejauh ini sudah cukup menggembirakan. “Ter lihat kan, penambangan liar mulai berkurang. Kalaupun masih ada, itu di tempat-tempat jauh yang sulit dijangkau. Jumlahnya pun tidak banyak,” katanya.
Terkait pandangan masyarakat terhadap kinerja tim, Wabup Abdul Rahman memastikan, komitmen tim untuk memberantas illegal minning tetap berjalan. “Sementara itu, kita terus mengupayakan solusi-solusi terbaik untuk masyarakat Solok selatan,” katanya. (536)
Takut Bermasalah : BLSM Solsel Belum Dibagi
Solok Selatan – Singgalang
Penyaluran Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) untuk 9.188 rumah tangga miskin (RTM) di tujuh kecamatan di Solok Selatan, mungkin baru dapat disalurkan September. Pemerintah saat ini sedang berkutat mencari siapa yang mesti bertanggung jawab menyalurkannya.
Dana itu ditransfer pemerintah pusat ke kantor pos. Kepala Kantor Pos Muara Labuh Asril Rabu (17/7), mengatakan ia menunggu data perubahan yang akan diberikan Pemda Solok Selatan.
“Sebagai pihak penyalur dana, kami tentu tidak punya wewenang menentukan siapa dan kapan akan diserahkan dana BLSM tersebut,” katanya.
Sepanjang ada perintah dan sesuai prosedur penyaluran, pihaknya segera akan menyalurkan. Tapi dari kondisi yang terjadi saat kini, Asril yakin, penyaluran dana BLSM untuk Solok Selatan baru bisa dilakukan September nanti.
Penyaluran Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) untuk 9.188 rumah tangga miskin (RTM) di tujuh kecamatan di Solok Selatan, mungkin baru dapat disalurkan September. Pemerintah saat ini sedang berkutat mencari siapa yang mesti bertanggung jawab menyalurkannya.
Dana itu ditransfer pemerintah pusat ke kantor pos. Kepala Kantor Pos Muara Labuh Asril Rabu (17/7), mengatakan ia menunggu data perubahan yang akan diberikan Pemda Solok Selatan.
“Sebagai pihak penyalur dana, kami tentu tidak punya wewenang menentukan siapa dan kapan akan diserahkan dana BLSM tersebut,” katanya.
Sepanjang ada perintah dan sesuai prosedur penyaluran, pihaknya segera akan menyalurkan. Tapi dari kondisi yang terjadi saat kini, Asril yakin, penyaluran dana BLSM untuk Solok Selatan baru bisa dilakukan September nanti.
Tidak berani
Wali Nagari Alam Pauh Duo Zainal Abidin misalnya, dia tidak akan berani ikut campur untuk penyaluran dana BLSM kali ini kalau tidak ada rekomendasi dari pejabat di kabupaten. Ini sudah menjadi kesepakatan tingkat kecamatan.
Hal yang sama juga diungkapkan Camat Pauh Duo Surya Nurbantani kepada Singgalang Rabu (17/7). Pihaknya saat kini menunggu surat dari kabupaten.
Sementara itu, beberapa orang wali nagari di Kecamatan Sungai Pagu menjelaskan, mereka sebagai ujung tombak pemerintahan, justru bisa jadi sasaran tembak jika salah menyalurkan.
Seharusnya sebelum pendistribusian Kartu Perlindungan Sosial untuk masyarakat miskin, hendaknya pemerintahan paling bawah dilibatkan, walau penyaluran dananya lewat kantor pos.
Wali Nagari Alam Pauh Duo Zainal Abidin misalnya, dia tidak akan berani ikut campur untuk penyaluran dana BLSM kali ini kalau tidak ada rekomendasi dari pejabat di kabupaten. Ini sudah menjadi kesepakatan tingkat kecamatan.
Hal yang sama juga diungkapkan Camat Pauh Duo Surya Nurbantani kepada Singgalang Rabu (17/7). Pihaknya saat kini menunggu surat dari kabupaten.
Sementara itu, beberapa orang wali nagari di Kecamatan Sungai Pagu menjelaskan, mereka sebagai ujung tombak pemerintahan, justru bisa jadi sasaran tembak jika salah menyalurkan.
Seharusnya sebelum pendistribusian Kartu Perlindungan Sosial untuk masyarakat miskin, hendaknya pemerintahan paling bawah dilibatkan, walau penyaluran dananya lewat kantor pos.
Siasati
Sementara itu, Kabag Kesra Sekretariat Daerah Solsel Alwis mengatakan, seharusnya para wali nagari, jorong harus mampu menyiasati permasalahan BLSM. Kalau memang ada temuan tidak sesuainya penerima, kenapa tidak ditagguhkan saja.
“Mereka itu kan aparatur pemerintahan yang terendah dan memiliki kejelasan tugas dalam pemerintahan. Kenapa pula kita harus saling menyalahkan dan meminta kami yang di kabupaten ini menurunkan surat tentang bolehnya dana ini dibagikan,” katanya.
“Kenapa pula para wali dan jorong tidak punya keberanian untuk menetapkan status yang sebenarnya siapa yang miskin di daerahnya itu.”
Alwis sangat berharap segera saja dana BLSM dibagikan oleh pihak kantor pos.
Di tempat terpisah Kadis Sosnakertrans Erwin Ali didampingi stafnya Rosnani menuturkan ia segera akan meminta Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) menyerahkan data masyarakat yang rentan sosial di kecamatannya.
“Dalam waktu dekat kami akan upayakan meluruskan permasalahan yang terjadi saat kini,” katanya. (534)
Sementara itu, Kabag Kesra Sekretariat Daerah Solsel Alwis mengatakan, seharusnya para wali nagari, jorong harus mampu menyiasati permasalahan BLSM. Kalau memang ada temuan tidak sesuainya penerima, kenapa tidak ditagguhkan saja.
“Mereka itu kan aparatur pemerintahan yang terendah dan memiliki kejelasan tugas dalam pemerintahan. Kenapa pula kita harus saling menyalahkan dan meminta kami yang di kabupaten ini menurunkan surat tentang bolehnya dana ini dibagikan,” katanya.
“Kenapa pula para wali dan jorong tidak punya keberanian untuk menetapkan status yang sebenarnya siapa yang miskin di daerahnya itu.”
Alwis sangat berharap segera saja dana BLSM dibagikan oleh pihak kantor pos.
Di tempat terpisah Kadis Sosnakertrans Erwin Ali didampingi stafnya Rosnani menuturkan ia segera akan meminta Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) menyerahkan data masyarakat yang rentan sosial di kecamatannya.
“Dalam waktu dekat kami akan upayakan meluruskan permasalahan yang terjadi saat kini,” katanya. (534)
Sekda Solsel akan Mundur
PADANG — Didapat kabar Sekda
Solsel Fachri Murad segera angkat koper. Penyebabnya, ia tidak
dilibatkan dalam mutasi dan pelantikan pejabat. Padahal, ia adalah ketua
Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat).
Fachri yang dikontak tadi malam, tidak mau banyak berkomentar. Namun ia
mengakui pengangkatan pejabat baru tidak melalui rapat Baperjakat.
“Kasihan kita dengan bupati. Padahal beliau sedang di luar daerah,” kata
Fachril yang mengaku sudah mengundang kepala BKD untuk rapat, tapi yang
bersangkutan tidak datang.
Tadi malam, sumber Singgalang di kantor gubernur menyebutkan, Fachri sudah melapor ke Gubernur Irwan Prayitno. “Saya belum dengar informasi itu,” kata Bupati Muzni Zakaria. Muzni akan menelusuri informasi tersebut.
Fachri dibawa lalu saja oleh Kepala BKD setempat dalam memilih dan melantik pejabat. Menurut aturan, hal itu harus melalui sidang baperjakat.
Menurut PP 13/2002 pasal 16 ayat 4, yang jadi ketua baperjakat di kabupaten adalah sekda. Karena itu, Fachri merasa ditinggal dan segera mundur dari jabatan. Pejabat baru di Solsel yang jadi masalah itu sudah dilantik Jumat oleh Wakil Bupati Abdul Rahman. (004) Singgalang
Tadi malam, sumber Singgalang di kantor gubernur menyebutkan, Fachri sudah melapor ke Gubernur Irwan Prayitno. “Saya belum dengar informasi itu,” kata Bupati Muzni Zakaria. Muzni akan menelusuri informasi tersebut.
Fachri dibawa lalu saja oleh Kepala BKD setempat dalam memilih dan melantik pejabat. Menurut aturan, hal itu harus melalui sidang baperjakat.
Menurut PP 13/2002 pasal 16 ayat 4, yang jadi ketua baperjakat di kabupaten adalah sekda. Karena itu, Fachri merasa ditinggal dan segera mundur dari jabatan. Pejabat baru di Solsel yang jadi masalah itu sudah dilantik Jumat oleh Wakil Bupati Abdul Rahman. (004) Singgalang
Dua Walinagari Solsel ke Istana
SOLSEL – Walinagari Alam Pauh Duo
Kecamatan Pauh Duo, Zainal Abidin, dan Walinagari Lubuk Malako Kecamatan
Sangir Jujuan Kabupaten Solok Selatan, Rustam Sangir diundang ke Istana
Negara mengikuti upacara HUT RI ke 68 di Istana Negara, sesuai undangan
kantor Kementrian Kehutanan RI No. S.448/Luh-2/2013 tentang pemanggilan
peserta temu karya.
Duo Walinagari pintar ini diundang ke Istana sekaligus menerima hadiah
atas keberhasilan mereka menjalankan tugas sebagai walinagari dalam
membangun nagari.
Walinagari Alam Pauh Duo Zainal Abidin berhasil memenangkan lomba hutan berbasis nagari tingkat Nasional (Wana Lestari) tahun 2013. Sementara Walinagari Lubuk Malako Rustam Sangir berhasil memenangkan lomba keluarga sakinah tingkat nasional tahun 2013.
Keduanya sudah harus berada di Jakarta, Kamis (15/8). Sebelum penyerahan hadiah, kedua walinagari ini juga akan mengikuti Sidang Paripurna DPR-RI, kemudian mengikuti upacara HUT RI di Istana Negara dan terakhir mengikuti ramah tamah dengan Presiden RI.
Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria didampingi Wakil Bupati Abdul Rahman saat melepas keberangkatan kedua walinagari ini di kantornya, Selasa (13/8) mengatakan, kita patut berbangga kepada walinagari Alam Pauh Duo dan Lubuk Malako karena mereka sudah sering membawa nama baik Solok Selatan di tingkat nasional.
Buktinya, tahun ini dua orang walinagari di Solok Selatan mewakili Sumatra Barat untuk berangkat ke Istana dan menerima sejumlah hadiah yang sudah dimenangkan. ‘’Ini juga merupakan kemajuan yang luar biasa bagi Solok Selatan untuk membangun daerah yang kaya dengan hasil bumi ini,’’ kata bupati.
Diharapkan, untuk tahun-tahun berikutnya, bagi walinagari yang belum berhasil dan belum mempunyai kesempatan, bekerjalah sesuai dengan yang diharapkan sehingga bisa pula untuk berprestasi ditingkat nasional seperti walinagari Lubuk Malako dan Alam Pauh Duo ini.
Zainal Abidin dan Rustam Sangir, kepada Singgalang sebelum berangkat, Selasa (13/8) di Padang Aro mengatakan, ini merupakan sebuah penghargaan yang tinggi baginya dan ini tidak terlepas dari kerja sama dan dukungan masyarakat. ‘’Keberhasilan kami menginjakkan kaki di Istana adalah keberhasilan masyarakat Solok Selatan,’’ katanya. (204)
Walinagari Alam Pauh Duo Zainal Abidin berhasil memenangkan lomba hutan berbasis nagari tingkat Nasional (Wana Lestari) tahun 2013. Sementara Walinagari Lubuk Malako Rustam Sangir berhasil memenangkan lomba keluarga sakinah tingkat nasional tahun 2013.
Keduanya sudah harus berada di Jakarta, Kamis (15/8). Sebelum penyerahan hadiah, kedua walinagari ini juga akan mengikuti Sidang Paripurna DPR-RI, kemudian mengikuti upacara HUT RI di Istana Negara dan terakhir mengikuti ramah tamah dengan Presiden RI.
Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria didampingi Wakil Bupati Abdul Rahman saat melepas keberangkatan kedua walinagari ini di kantornya, Selasa (13/8) mengatakan, kita patut berbangga kepada walinagari Alam Pauh Duo dan Lubuk Malako karena mereka sudah sering membawa nama baik Solok Selatan di tingkat nasional.
Buktinya, tahun ini dua orang walinagari di Solok Selatan mewakili Sumatra Barat untuk berangkat ke Istana dan menerima sejumlah hadiah yang sudah dimenangkan. ‘’Ini juga merupakan kemajuan yang luar biasa bagi Solok Selatan untuk membangun daerah yang kaya dengan hasil bumi ini,’’ kata bupati.
Diharapkan, untuk tahun-tahun berikutnya, bagi walinagari yang belum berhasil dan belum mempunyai kesempatan, bekerjalah sesuai dengan yang diharapkan sehingga bisa pula untuk berprestasi ditingkat nasional seperti walinagari Lubuk Malako dan Alam Pauh Duo ini.
Zainal Abidin dan Rustam Sangir, kepada Singgalang sebelum berangkat, Selasa (13/8) di Padang Aro mengatakan, ini merupakan sebuah penghargaan yang tinggi baginya dan ini tidak terlepas dari kerja sama dan dukungan masyarakat. ‘’Keberhasilan kami menginjakkan kaki di Istana adalah keberhasilan masyarakat Solok Selatan,’’ katanya. (204)
Pemkab Solsel Terima 100 CPNS
PADANG — Tahun ini, Pemerintah
Kabupaten Solok Selatan menerima 100 calon pegawai negeri sipil (CPNS)
dari pelamar umum. Formasi itu terdiri untuk tenaga guru 31, tenaga
kesehatan 18 dan teknis 51.
Bupati Muzni Zakaria dalam pengumuman CPNS yang diterima Singgalang tadi
malam menyatakan, seluruh proses seleksi tidak dipungut biaya apapun.
Seleksi dilakukan dalam dua tahap yakni seleksi administrasi dan Tes
Kompetensi Dasar (TKD).
Pelaksanaan Tes bagi pelamar umum dilaksanakan menggunakan sistem Lembar Jawaban Komputer (LJK) serentak seluruh Indonesia pada 3 November. Tempat dan waktu pelaksanaan tes bagi peserta yang telah lulus seleksi administrasi diatur dalam pemberitahuan selanjutnya.
Pengumuman dan informasi lain yang berkaitan dengan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil dapat dilihat melalui website sscn.bkn.go.id atau www.solselkab.go.id, media massa atau papan pengumuman BKD Solok Selatan.
Pengumuman akhir kelulusan pelamar CPNS Daerah Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, akan disampaikan melalui website www.solselkab.go.id dan media massa lain yang ditentukan.
Pelamar adalah lulusan dari perguruan tinggi negeri atau swasta yang jurusan/fakultas/program studinya sudah terakreditasi A dan B dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) paling rendah 2,70 pada skala 4.
Pelaksanaan Tes bagi pelamar umum dilaksanakan menggunakan sistem Lembar Jawaban Komputer (LJK) serentak seluruh Indonesia pada 3 November. Tempat dan waktu pelaksanaan tes bagi peserta yang telah lulus seleksi administrasi diatur dalam pemberitahuan selanjutnya.
Pengumuman dan informasi lain yang berkaitan dengan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil dapat dilihat melalui website sscn.bkn.go.id atau www.solselkab.go.id, media massa atau papan pengumuman BKD Solok Selatan.
Pengumuman akhir kelulusan pelamar CPNS Daerah Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, akan disampaikan melalui website www.solselkab.go.id dan media massa lain yang ditentukan.
Pelamar adalah lulusan dari perguruan tinggi negeri atau swasta yang jurusan/fakultas/program studinya sudah terakreditasi A dan B dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) paling rendah 2,70 pada skala 4.
Pelamar wajib memiliki alamat email dan nomor HP yang aktif untuk mengikuti proses rekrutmen CPNS Kabupaten Solok Selatan.
Setiap pelamar harus mendaftar melalui website pendaftaran nasional dengan alamat sscn.bkn.go.id dimulai dari 14 September – 28 September. Cetak tanda bukti pendaftaran.
Peserta wajib mengirimkan berkas lamaran kepada panitia paling lambat 28 September sudah diterima di Pos Muara Labuh pukul 16.00 WIB. (014)
Setiap pelamar harus mendaftar melalui website pendaftaran nasional dengan alamat sscn.bkn.go.id dimulai dari 14 September – 28 September. Cetak tanda bukti pendaftaran.
Peserta wajib mengirimkan berkas lamaran kepada panitia paling lambat 28 September sudah diterima di Pos Muara Labuh pukul 16.00 WIB. (014)
Jaga Hutan, Solsel Rekrut 40 Pemuda
SOLSEL – Solok Selatan akan
merekrut 40 pemuda nagari untuk dijadikan Petugas Pengamanan dan
Pelindung hutan Berbasis Nagari (PPHBN). Upaya itu dilakukan, mengingat
jumlah polisi kehutanan yang ditugaskan hanya 10 orang. Sementara luas
hutan yang harus diawasi mencapai puluhan ribu hektare. Proses
rekrutmen, tengah dilakukan Dishutbun bersama pemerintah nagari.
Kabid Perlindungan dan Pengamanan Hutan Dushutbun, Hamdani, meyakini rekruitmen itu akan berdampak besar terhadap kelestarian hutan, sebab akan menjadikan masyarakat nagari terlibat secara aktif dalam menjaga dan melindungi hutan.
“Kalau masyarakat nagari bersama-sama yang menjaga hutan dengan ujung tombaknya para pemuda yang terpilih sebagai petugas PPHBN, tentu pembalakan liar dan pemanfaatan hutan secara sembrono akan diantisipasi,” ungkap Hamdani, Rabu (25/9) pada Singgalang.
Dikatakan Hamdani, di Solok Selatan, peran aktif masyarakat dalam menjaga hutan menggembirakan. Salah satunya, masyarakat Nagari Pauh Duo.
Hutan nagari di Jorong Simancung dengan luas sekitar 660 hektare, terjaga dengan baik. Bahkan pada tahun ini, Walinagari Pauh Duo, Zainal Abidin ditetapkan sebagai pemenang lomba wana Tata Lestari untuk kategori walinagari peduli hutan.
Sosialisasi
Sosialisasi manfaat dan fungsi hutan lindung, digelar oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Solok Selatan. Targetnya, menumbuhkan kesadaran pada masyarakat akan arti penting hutan dalam kehidupan. Pemateri dihadirkan dari Dinas kehutanan Sumatra Barat dan dari Solok Selatan. “Kita berharap masyarakat sadar akan arti pentingnya hutan,” kata Hamdani.
Peserta kegiatan terdiri dari pemuka masyarakat dan pemuda nagari di Kenagarian Pauh Duo. Setelah di Pauh Duo, kegiatan serupa juga akan digelar di Nagari Pulakek Koto Baru dalam waktu dekat. (536)
Kabid Perlindungan dan Pengamanan Hutan Dushutbun, Hamdani, meyakini rekruitmen itu akan berdampak besar terhadap kelestarian hutan, sebab akan menjadikan masyarakat nagari terlibat secara aktif dalam menjaga dan melindungi hutan.
“Kalau masyarakat nagari bersama-sama yang menjaga hutan dengan ujung tombaknya para pemuda yang terpilih sebagai petugas PPHBN, tentu pembalakan liar dan pemanfaatan hutan secara sembrono akan diantisipasi,” ungkap Hamdani, Rabu (25/9) pada Singgalang.
Dikatakan Hamdani, di Solok Selatan, peran aktif masyarakat dalam menjaga hutan menggembirakan. Salah satunya, masyarakat Nagari Pauh Duo.
Hutan nagari di Jorong Simancung dengan luas sekitar 660 hektare, terjaga dengan baik. Bahkan pada tahun ini, Walinagari Pauh Duo, Zainal Abidin ditetapkan sebagai pemenang lomba wana Tata Lestari untuk kategori walinagari peduli hutan.
Sosialisasi
Sosialisasi manfaat dan fungsi hutan lindung, digelar oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Solok Selatan. Targetnya, menumbuhkan kesadaran pada masyarakat akan arti penting hutan dalam kehidupan. Pemateri dihadirkan dari Dinas kehutanan Sumatra Barat dan dari Solok Selatan. “Kita berharap masyarakat sadar akan arti pentingnya hutan,” kata Hamdani.
Peserta kegiatan terdiri dari pemuka masyarakat dan pemuda nagari di Kenagarian Pauh Duo. Setelah di Pauh Duo, kegiatan serupa juga akan digelar di Nagari Pulakek Koto Baru dalam waktu dekat. (536)
3.000 Pelamar Tersingkir 23.035 Orang Daftar CPNS di Solsel
Solsel, Padek—Pelamar
calon pegawai negeri sipil (CNPS) Kabupaten Solok Selatan mulai
deg-degan menunggu hasil verifikasi berkas lamaran. Meski belum
semua diverifikasi, namun panitia seleksi CPNS menemukan lebih 3.000
pelamar tidak memenuhi syarat (TMS).
Pelamar yang masuk dalam kategori TMS
berarti tidak lolos seleksi administrasi atau tidak diperkenankan
mengikuti ujian CPNS. Nama-nama pelamar TMS itu akan diumumkan pada
pekan depan, setelah seluruh berkas diverifikasi.
Hari terakhir pendaftaran (28/9), jumlah pelamar online
CPNS Solsel menembus angka 23.035 orang. Dari jumlah tersebut, hanya
15.166 pelamar yang mengirimkan berkas. Rinciannya, tenaga guru
sebanyak 7.010 berkas, tenaga kesehatan 2.059 berkas dan teknis
sebanyak 6.097 berkas.
Berdasarkan jumlah berkas yang telah
diverifikasi oleh panitia, terdapat 3.000-an pelamar tidak memenuhi
syarat alias bakal gagal melaju ke lokasi ujian.
“Kita masih memverifikasi berkas lamaran.
Ada sekitar seribuan lagi yang sedang diverifikasi,” kata Kepala Bidang
Mutasi Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Solok Selatan M
Appraisal, yang juga panitia seleksi CPNS Solsel, Minggu (29/9).
Penyebab TMS antara lain karena indeks
prestasi kumulatif (IPK) pelamar tidak mencukupi, usia sudah lebih
dari standar yang ditetapkan, kualifikasi pendidikan tidak sesuai
formasi, serta mendaftar online lebih dari satu kali.
Informasi yang dirangkum Padang Ekspres,
ada sejumlah pelamar terpaksa melakukan registrasi berkali-kali karena
tak kunjung mendapatkan bukti nomor registrasi. “Jaringan internet di
sini susah. Berulang kali dimasukkan data registrasi, ndak
juga muncul nomor registrasi tu. Ya terpaksa sampai 8 kali
mendaftar,” ungkap Lia, 27, pelamar dari jurusan matematika yang
berdomisili di Pakansalasa, Pauhduo, Solok Selatan.
Bagi pelamar yang melakukan pendaftaran lebih dari sekali di online,
menurut Appraisal, berkas lamarannya akan ditangguhkan terlebih dahulu
dan untuk sementara masuk kategori TMS. Sedangkan pelamar yang
jelas-jelas tidak memenuhi persyaratan, sudah pasti masuk kategori TMS.
“Kalau kuota CPNS yang memenuhi syarat (MS) belum terpenuhi, maka kita akan entry lagi data yang mendaftar online lebih dari sekali. Kita utamakan dulu yang MS. Dalam minggu ini kita kejar entry data yang MS, untuk disampaikan ke Badan Kepegawaian Negara (BKN),” imbuhnya.
Bagi peserta yang lolos verifikasi,
panitia akan menyuratinya via pos, sesuai alamat yang dilampirkan
pelamar. Sedangkan pelamar berstatus TMS, akan diumumkan di website, solselkab.go.id.
Catatan panitia CPNS Solsel, kuota formasi
CPNS yang telah terpenuhi di antaranya adalah formasi bidan, guru
pendidikan agama Islam (PAI), guru matematika dan guru bahasa Inggris
SMP. Formasi yang paling sepi peminat masih berada pada formasi
inspektur migas. Hanya terisi oleh sekitar dua orang pelamar. (*)
KPU Tenggat Caleg Seminggu Rapikan Atribut Pemasangan Baliho
Solsel, Padek—Komisi
Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Solok Selatan melakukan koordinasi
dengan Pemkab Solok Selatan terkait banyaknya pelanggaran pemasangan
atribut alat peraga bakal calon legislatif (bacaleg) di daerah seribu
rumah gadang itu.
Ketua KPUD Solsel Robert Cenedy menjelaskan, sejak
dikeluarkan daftar calon legislatif tetap (DCT) caleg DPRD daerah
hingga tingkat pusat, baliho, atau atribut kampanye sudah banyak
menyalahi aturan di Solsel.
“Pemasangan atribut kampanye masih ada yang menyalahi
aturan dari berbagai parpol, namun KPUD telah sosialisasikan ke Pemkab
Solsel dan dinas terkait soal pelanggaran tersebut. Sebelum tenggat
waktu 28 September 2013, bagi caleg yang melanggar segera menertibkan
baliho masing-masing,” tegasnya Senin (23/9) di Padangaro.
Berdasarkan Peraturan KPU Tahun 2013 Pasal 17 Ayat 1
tentang Pemasangan atau Penempatan Atribut Kampanye, kata Robert
Cenedy, agar tidak ditempatkan pada tempat umum. Yakni tempat ibadah,
rumah sakit atau tempat-tempat pelayanan kesehatan, gedung pemerintah,
lembaga pendidikan, jalan-jalan protokol, dan jalan bebas hambatan.
Namun sepanjang jalan raya Solok Selatan, sejumlah baliho
terpajang di berbagai tempat umum. Di depan gadung sekolah, masjid dan
lainnya. Sesuai peraturan terbaru KPU, ditetapkan satu kenagarian satu
baliho dengan ukuran 3 x 4 meter. Juga diharapkan baliho yang terpajang
tidak sesuai aturan, segera dicabut sebelum dilakukan pembongkaran oleh
dinas terkait.
“Setelah sosialisasi ini, jika masih ada pelanggaran itu
tugasnya panwaslu dan dinas terkait. Kita harap baliho yang terpampang
jelang pemilihan umum nanti tertib, sehingga tidak ada saling
menyalahkan. Demi terwujudnya pemilu aman dan kondusif di Solok
Selatan,” katanya.
Masrianto, 37, warga Sangir meminta agar baliho di depan
gedung sekolah, masjid, puskesmas dibongkar caleg bersangkutan sebelum
dibongkar masyarakat.
“Kami harap jangan ada lagi wajah caleg dipajang di depan
masjid atau gedung sekolah, karena mengganggu peribadatan masyarakat
dan peserta didik,” sebutnya. (mg20)
CPNS Keluhkan Surat Akreditasi Pelamar di Solsel Tembus 19.000 Orang
Solsel, Padek—Pendaftaran
tes calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun ini di Sumbar, benar-benar
membeludak. Di Solok Selatan (Solsel), hingga Minggu (22/9),
total pelamar yang telah melakukan registrasi online sudah mencapai 19.000 orang.
Panitia seleksi CPNS Solsel mewanti-wanti para pelamar agar
berhati-hati saat mengisi data registrasi. Sebab, informasi yang
dicantumkan saat registrasi, akan dicocokkan dengan berkas lamaran.
Bila tidak sesuai, berkas lamaran dinilai tidak memenuhi syarat (TMS).
“Di antara TMS itu, misalnya IPK yang dicantumkan saat registrasi
berbeda dengan IPK di berkas transkrip nilai pelamar,” tutur Panitia
Seleksi CPNS Solsel, Admi Zulkhairi.
Admi menambahkan, hingga kemarin, telah ada ribuan pelamar yang telah
mengirimkan berkas lamaran. Dari hasil verifikasi, ditemui sejumlah
berkas yang TMS. Terhadap berkas pelamar yang TMS, panitia belum
melakukan entri data.
Ada dua kemungkinan penyebab kesalahan tersebut. Bisa jadi pelamar
memang salah memasukkan data dan bisa jadi pemalsuan data. “Kalau
pelamar salah mengisi Nomor Induk Kependudukan (NIK), mungkin bisa
dimaklumi. Tapi kalau umur, IPK, ya TMS jadinya. Begitu pula akreditasi
jurusan pelamar, baik kampus negeri maupun swasta diharuskan melampirkan
bukti akreditasi di berkas yang dikirimkan,” imbuhnya.
Meski pendaftar sudah mencapai 19.000 orang, namun kuota setiap
formasi belum penuh. Kuota masing-masing formasi 100 orang. Artinya,
satu formasi, kuota dasarnya 100. Bila total yang tersedia 100 formasi,
maka total kuota 10.000 orang. Angka ini mengacu pada jumlah berkas yang
diverifikasi panitia, bukan pada jumlah pelamar yang telah registrasi online.
Jika dalam satu formasi kuotanya tidak terpenuhi, maka sisa jatah
kuota formasi tersebut akan dialihkan ke formasi lain. Misalnya, formasi
untuk teknik sipil hanya diisi dua pelamar. Sedangkan kuota dasar
formasi teknik sipil adalah 100 orang, maka kelebihan jatah kuota
formasi tersebut dialihkan ke formasi lain.
Kabid Mutasi dan Perlengkapan BKD Solsel, Ampraisal mengatakan,
hingga Minggu (22/9), total berkas yang masuk ke panitia berjumlah 3.228
pelamar. Rinciannya tenaga guru 1.442 pelamar, tenaga kesehatan 530
pelamar, dan teknis 1.266 pelamar.
Sulit Dapatkan Surat Akreditasi
Sementara itu, pelamar mengeluhkan sulitnya mengakses situs
pendaftaran CPNS Solsel dan persyaratan surat keterangan akreditasi
perguruan tinggi. “Saya sudah tiga hari mendaftar, hingga kini belum
juga bisa. Stres jadinya,” ujar Sisri, seorang pelamar kepada Padang Ekspres, Minggu (22/9) di Padangaro.
Sedangkan Yandri, pelamar lainnya mengaku sudah datang ke kampus
untuk minta surat keterangan akreditasi jurusan, tapi tidak berhasil.
“Pihak kampus tidak menyediakan blanko akreditasi. Bagaimana saya mau
mendaftar jika syaratnya kurang lengkap,” terang tamatan Universitas
Indonesia ini.
Hal senada dikatakan Supriyanda Nusa, pelamar lainnya. “Bila datang
ke kampus, butuh waktu enam hari pulang pergi. Dan belum tentu juga,
surat tersebut akan selesai cepat. Syarat ini, terlalu berlebihan,”
sesal tamatan STKIP Pelita Bangsa, Sumatera Utara itu. “KemenPAN perlu
mengkaji ulang syarat surat keterangan akreditasi ini,” harap
Srimardona, tamatan Universitas Jambi ini. (sih/mg20)
Pimpinan DPRD tak Hadir, Paripurna Batal
Solsel, Padek—Para wakil rakyat
di DPRD Solok Selatan kembali berulah. Gara-gara tiga pimpinan DPRD
setempat tidak hadir, rapat paripurna pertanggungjawaban APBD 2012
batal dilaksanakan kemarin.
Paripurna yang sedianya menyampaikan pemandangan umum fraksi
terhadap nota pengantar Ranperda pertanggungjawaban APBD tahun 2013,
kemarin (19/9), terpaksa ditunda.
Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Solok Selatan, Sukrial Syukur
menjelaskan, pimpinan DPRD ada tiga orang. Bila tidak hadir ketua DPRD,
wakil ketua I dan II harus hadir. Namun, yang terjadi kemarin, ketiga
pimpinan lepas tanggung jawab. Bahkan, handphone dimatikan sehingga komunikasi terputus.
”Saat ditelepon masuk, tapi ndak diangkat. Pesan yang dikirim juga ndak dibalas. Seharusnya ini ndak perlu terjadi jika ada koordinasi di antara pimpinan DPRD,” jelas Sukrial Syukur kepada Padang Ekspres, kemarin (19/9).
Karena batal, masing-masing fraksi langsung menyerahkan
pandangan umum mereka terhadap eksekutif. Artinya, pada paripurna
yang akan dilaksanakan hari ini (20/9), agendanya hanya jawaban dari
pemerintah daerah.
Diakui politisi Partai Golkar itu, pada tahun ini banyak anggota
DPRD tidak memenuhi disiplin di akhir jabatannya. Masuk kantor
bila ambil gaji. Minimal kehadiran anggota DPRD dalam keseluruhan
agenda DPRD wajib hadir 45 persen.
“Kita dipilih rakyat, bekerjalah dan sampaikanlah aspirasi rakyat
itu. Demi kemajuan daerah, jangan setelah terpilih lupa segalanya,”
ungkap Syukrial.
Syukrial menilai sikap pimpinan dewan itu memalukan dan melanggar
tata tertib aturan dalam agenda paripurna. “Kita akan cek seluruh
anggota DPRD yang melanggar disiplin. Akan diberi peringatan, jika
tidak mempan, kita rekomendasikan untuk diberhentikan saja sebagai
wakil rakyat,” jelasnya.
Ketika dikonfirmasi ke para pimpinan DPRD, tidak ada yang bisa
dihubungi. Sekretaris DPRD Solok Selatan, Aswis menjelaskan, sesuai PP
Nomor 16 Tahun 2010 dan Tata Tertib DPRD Nomor 1 Tahun 2010, rapat
paripurna harus dipimpin ketua DPRD .
“Karena rapat hari ini (kemarin, red) tiga pimpinan tidak ada yang
datang, yaitu Ketua DPRD Khairunnas, Wakil Ketua Suhaimi dan
Edisusanto, sesuai ketentuan paripurna wajib dibatalkan,” katanya.
Aswis menyebut Ketua DPRD Solsel tidak hadir karena ada dinas ke
Padang. Sedangkan Wakil Ketua DPRD Suhaimi ada urusan keluarga ke
Pulaupunjung, Dharmasraya. Sementara Wakil Ketua Edi Susanto tidak
bisa dihubungi.
“Tiga hari sebelum paripurna, saya sudah surati ketiga pimpinan
DPRD, bahkan sudah saya ingatkan melalui lisan. Saya sudah konsultasi
dengan Ketua BK DPRD, bahwa paripurna wajib ditunda,” bebernya.
Asisten I Bidang Pemerintahan, Efiyandri menyayangkan sikap pimpinan DPRD seingga agenda paripurna ditunda.
Pengamat politik dari Universitas Andalas, Asrinaldi menilai,
hal ini terjadi karena banyak politisi tidak menyadari tanggung
jawab mereka sebagai pejabat publik. Menurut dia, seharusnya pejabat
mendahulukan kepentingan masyarakat dibanding kepentingan pribadi
dan keluarga.
”Itu adalah konsekuensi jadi pejabat publik. Mereka dibayar untuk mendahulukan kepentingan masyarakat,” ujar Asrinaldi.
”Agar tidak terjadi terus menerus, masyarakat harus menghukum
politisi malas dan tidak bertanggung jawab dengan tidak memilih mereka
kembali,” serunya. (mg20/adi)
Senin, 19 Agustus 2013
Dulangku Hilang, Emasku Lenyap
22 April 2013, 10:46
0 komentar | Dibaca: 303
Seni Teater SMAN 3 Kabupaten Solok Selatan (Foto: HaluanMedia.com)
“Dulangku Hilang,
Emasku Lenyap” merupakan sebuah cerita dalam seni teater SMAN 3
Kabupaten Solok Selatan. Drama ini dimainkan pada lomba FL2SN
se-Kabupaten Solok Selatan. Teater kebanggaan sekolah pimpinan Syamsuria
itu, memenangkan perlombaan pada tingkat pertama. Tema yang sama akan
ditampilkan kembali oleh tim teater SMAN 3 Solsel dalam Festival dan
Lomba seni siswa nasional (lomba FL2SN tingkat provinsi pada Mei 2013
mendatang.
Teater yang diasuh oleh Siswandi dan Hasriyal ini memilih tema
tentang tambang emas, karena isu tersebut sedang hangat-hangatnya
dibahas di tingkat Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat, dan
bahkan sudah sampai ke Kaukus DPR-DPD RI.
Pemain dalam seni teater tersebut hanyalah enam orang. Yaitu, Gina
Katrun Nada sebagai Mande, Wiki Wulandari sebagai Ayum, Anugrah Bobi
Pratama sebagai Dulang, Satrian Sastra sebagai Mamak, serta pemain
figuran Fahmi Zikra dan Sukra, teman si Dulang. Drama yang telah
dimainkan dalam FL2SN tersebut merupakan ide cerita dari Siswandi, S.Sn,
dipanggungkan pertama kalinya pada 5 April di Gedung PGRI Disdik Solsel
di Padang Aro.
Pembina Teater SMAN 3 Solok Selatan Hasriyal menceritakan, alur
cerita dimulai dari kisah kehidupan Dulang dengan mandenya. Dulang
merupakan satu-satunya anak lelaki dari pejuang kemerdekaan. Ayahnya
telah lama meninggal, maka tinggallah dia dengan mande yang buta dan
saeorang adik perempuannya bernama Ayum. Mereka hidup dalam kekurangan.
Rumah centang perenang, dan terkesan kumuh.
Ketika Dulang terputus sekolahnya karena tidak ada biaya, ia
berkeinginan untuk merawat ibunya. Hari demi hari ia lewati dengan
kehidupan yang sulit. Suatu ketika, Dulang berkeinginan membahagiakan
mandenya. Karena daerahnya yang kaya emas, maka Dulang dengan dua orang
temannya pergi ke lokasi pertambangan mendulang emas. Dorongan bagi
Dulang untuk pergi ke lokasi tambang emas, karena ingin membantu orang
tua menafkahi keluarga. Mandenya yang ditinggal suami, dan kini dalam
kondisi buta, sedangkan adiknya akan sekolah. Desakan itulah yang
memotivasi Dulang pergi manambang emas, yaitu ingin mengoperasi mata
mande dan ingin menyengolahkan adiknya.
Dalam drama tersebut, Dulang sudah berbulan-bulan pergi ke lokasi
tambang, namun tidak ada kabar beritanya. Mande dan adik Dulang setiap
hari menanyakan kepada orang-orang yang juga menambang emas di lokasi
tambang. Akan tetapi tidak seorang pun yang mengetahuinya. Dalam
kondisi tertekan penuh kesedihan itu, datanglah mamak si Dulang ke rumah
Mande. Ia ingin menggadaikan harta pusaka, berupa tanah warisan.
Dialog demi dialog, dengan kondisi tidak berdaya mande si Dulang
kalah dari perebutan warisan itu. Padahal, sang mande ingin
mempertahankan tanah tersebut karena mengingat anak perempuannya Ayum
masih ada. Lagi pula, jika tanah tersebut dijual mamak, bagaimana dengan
si Dulang yang belum pulang menambang. Apakah ia setuju atau tidak,
tetapi mamak tidak peduli.
Akhir cerita, Dulang datang ke mimpi mandenya. Dalam mimpi itulah
Dulang menyampaikan bahwa dirinya sudah tidak ada lagi (meninggal
dunia-red). Mendapatkan mimpi yang demikian, mande langsung menceritakan
kepada putrinya, adik si Dulang bernama Ayum. Merekapun meratapi
bersama, sembari mengucapkan “dulangku hilang, emasku lenyap.”
Yang menarik isu dalam drama teater SMAN 3 Solok Selatan adalah para
siswa berani mengangkat persoalan tambang emas yang sedang marak di
daerah itu. Para pelaku tambang emas ini, mulai dari lapisan masyarakat
biasa, pengusaha hitam, dan investor nakal.
Kalau lapisan masyarakat biasa, inilah yang menggunakan Dulang untuk
menambang emas secara tradisional. Sebagian mereka ada yang menggunakan
mesin dompeng. Penghasilan menambang dengan menggunakan Dulang dan
dompeng memang untung-untungan. Untuk kondisi saat ini, dua cara
penambangan ini bergantung kepada hasil galian alat berat (ekskavator).
Akan tetapi, sekali panen para pendulang dan dompeng, bisa mendapatkan
emas berkilo-kilogram juga. Namun bisa dikatakan sangat jarang.
Sedangkan pengusaha hitam, ini tergolong pada masyarakat yang sudah
naik status, karena bisa menyewa alat berat untuk menambang. Padahal,
asal mula ia menambang emas hanya menggunakan dulang atau dompeng.
Mereka dikatakan pengusaha lokal, karena kebanyakan mereka adalah
orang-orang Solok Selatan. Mereka merental ekskavator untuk menggali
emas di dasar sungai Batang Hari, kemudian hasil galian itu dikelola
dengan dompeng yang banyak. Pengusaha nakal ini ada yang berasal dari
pejabat, aparat, dan oknum masyarakat.
Tidak hanya pengusaha lokal, bahkan ada yang berasal dari provinsi
lain. Namun mereka masih tergolong pengusaha nakal, karena tidak
mengikuti prosedur administrasi yang sah dalam berinvestasi atau usaha
di daerah lain.
Sementara itu, ada investor nakal yang ikut menambang emas di Solsel.
Dikatakan investor nakal, karena mereka pada prinsipnya adalah ingin
menanamkan modal (berinvestasi) di daerah ini. Namun, belum lengkap
administrasinya malah sudah beroperasi. Atau, beroperasi tidak
berdasarkan tahapan-tahapan izin sesuai undang-undang yang berlaku.
Kembali ke cerita dalam drama teater Dulangku Hilang, Emasku Lenyap.
Kisah kehidupan Dulang, menggambarkan kondisi kehidupan sosial
masyarakat Solok Selatan pada umumnya. Dulang digambarkan hidup serba
kesulitan, berada dalam kemiskinan, dan ditekan oleh kekuasaan mamak.
Demikianlah dulunya, ketika para investor mulai melirik bisnis emas di
daerah ini. Dengan mudahnya, kekayaan alam yang mengandung emas dikuasai
dan dimiliki oleh investor asing. Sementara, isu ninik mamak sudah
merekomendasikan percepatan izin investor asing itu terus berkembang.
Inilah yang digambarkan dalam cerita drama itu, yang mana mande Dulang
yang berada dalam kebutaan dan miskin, malah mamak masih juga ingin
menggadaikan tanah, tanpa memikirkan masa depan kemenakannya. (Icol
Dianto)
Sering Dikunjungi Pejabat, makin tak Terawat Bidaralam, Ibu Kota PDRI Riwayatnya Kini
Nagari
Bidaralam, Kecamatan Sangirjujuan, Kabupaten Solok Selatan (Solsel),
yang dulu mendunia sebagai basis perjuangan mempertahankan kemerdekaan,
kian merana. Pengakuan negara terhadap Pemerintahan Darurat Republik
Indonesia (PDRI) yang dipimpin Mr Syafruddin Prawiranegara pada tahun
1949 itu, belum diikuti dengan pembenahan daerah ibu kota PDRI tersebut.
Bagaimana kondisinya setelah 64 tahun berlalu?
DI pedalaman Solok Selatan
itu, Pemerintahan Darurat RI dijalankan. Melalui stasiun radio PDRI di
Bidaralam, Syafruddin Prawiranegara melakukan kontak dengan New
Delhi, India untuk menunjukkan bahwa Republik Indonesia masih ada.
Setelah 64 tahun berlalu, kondisi bangunan
saksi bisu sejarah itu, memprihatinkan. Tak lagi sehebat
sejarahnya. Tidak terawat. Inilah sekelumit kisah negara yang
penduduknya mengidap amnesia, gampang melupakan sejarah.
Tengok saja rumah gadang milik Jama, yang
dulu menjadi markas ketua PDRI. Sebagian dinding papan rumah gadang
itu, banyak yang copot. Lekang dan lapuk oleh waktu. Rumah Jama kini
ditempati cicitnya, Eva Vismadewi bersama suami dan seorang anaknya.
Rumah tersebut pernah direhab pada tahun
2008, bantuan Menteri Sosial kala itu. Setahu Eva, dana rehabnya lebih
dari Rp 200 juta. Namun entah kenapa, anggaran sebanyak itu hanya bisa
untuk mengganti atap dan ukiran dinding bagian luar. Tak heran, sepintas
markas PDRI tersebut tampak seperti tak ada direnovasi.
”Ndak sampai 50 persen direnovasi. Ikolah modenyo,” kata ibu satu anak itu sambil menunjuk ke arah dinding bagian atas yang ternganga, beberapa waktu lalu.
Menurut Eva, dalam setahun tidak kurang
dari tiga kali rumah PDRI itu dikunjungi. Para pengunjungnya
macam-macam. Ada yang mengaku dari pemerintah pusat, provinsi, dan
kabupaten. Janjinya pun beragam. Ada yang bilang akan membangun
pagarnya, merehab rumahnya, hingga merevitalisasi seluruhnya. Tapi
hingga kini, janji tinggal janji.
“Tak ada bekas peninggalan PDRI dalam
rumah,” kata Eva geleng-geleng kepala. Tempat tidur ketua PDRI pun
kini sudah dipindahkan ke gudang. Kondisinya tak layak pakai. Sudah
patah dan berkarat.
Tokoh masyarakat yang juga mantan Wali
Nagari Bidaralam, Ali Sabri Abbas, menyayangkan tak adanya perhatian
pemerintah terhadap bangunan sejarah PDRI. Padahal setiap Hari
Pahlawan 10 November , HUT RI 17 Agustus, dan momen bersejarah
lainnya, selalu ada yang menyambangi Bidaralam. Melihat-lihat situs
sejarah PDRI.
Kesannya hanya seremonial saja. “Dari
dulu-dulu kondisinya seperti itu-itu juga. Tak ada sentuhan. Biaya
perawatannya tidak ada,” imbuhnya.
Beberapa meter dari depan markas PDRI,
terdapat bangunan yang dulunya Stasiun Radio AURI. Bangunan berlantai
dua itu, kini dijadikan Taman Pendidikan Al Quran (TPA). Setali tiga
uang, kondisinya sama dengan markas PDRI.
Bangunan bekas Stasiun Radio PDRI itu
sangat muram. Tak berpagar, tak ada tanda-tanda istimewa. Begitu pula
Masjid Mr Syafruddin Prawiranegara, pembangunannya terbengkalai.
“Kalau nunggu pemerintah, ya ndak selesai-selesai. Sekarang ini kelanjutan pembangunan masjid mengandalkan partisipasi dari masyarakat,” kata Ali Sabri.
Saat agresi militer Belanda II, PDRI
merupakan kelanjutan pemerintah RI yang berpusat di Yogyakarta. Kala
itu, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditawan
Belanda. Nah, awal tahun 1949, Bidaralam sempat menjadi pusat
konsolidasi kekuatan PDRI yang dipimpin Mr Syafruddin.
Bidaralam tempat terlama yang disinggahi
rombongan Syafruddin, yakni 3,5 bulan. Selama berada di Bidaralam,
masyarakat setempat bahu-membahu memberikan rasa aman kepada
rombongan Syafruddin sedang “menyambung nyawa” Republik ini.
Saat itu, tokoh masyarakat Bidaralam,
Khatib Jamaan (alm), dipercaya sebagai Komandan Kompi Badan
Pengawal Nagari dan Kota atau BPNK. Khatib Jamaan pernah
menceritakan bahwa masyarakat Bidaralam waktu itu, suka cita
menyambut kedatangan rombongan Syafruddin.
Rumah warga disediakan sebagai markas.
BPNK beserta pemuda setempat berjaga malam atau ronda. Mereka juga
bersama-sama mencari bekal seperti beras, sayuran hingga ke Kerinci,
Jambi dan Muaralabuh. “Barang-barang tersebut diangkut dengan kuda
beban, dan sebagian dipikul sendiri,” ungkap Khatib Jamaan kala itu.
Rumah warga menjadi markas ketua PDRI
adalah rumah milik Jama’. Rumah gadang tersebut juga menjadi tempat
sidang kabinet PDRI tahun 1949. Ada pula Surau Bulian yang dijadikan
stasiun radio PHB/AURI, media bagi Syafruddin untuk berkomunikasi
dengan pusat PDRI di Kototinggi, serta anggota-anggota PDRI di Jawa dan
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), untuk menyampaikan radiogram PDRI
hingga ke luar negeri.
Setelah 68 tahun Republik ini merdeka, ibu kota PDRI di Bidaralam, ternyata makin merana. (***)
Ratusan Honorer ”Demo” Bupati Tuntut Kejelasan Pengangkatan PNS
Solsel, Padek—Ratusan
pegawai tidak tetap kategori I Solok Selatan mendatangi Kantor
Bupati Solok Selatan, kemarin (13/8). Mereka mempertanyakan verifikasi database
yang diurus Bupati Solok Selatan di Kementerian Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB). Mereka kecewa karena
272 PTT kategori I dibatalkan pengangkatannya oleh Kemen PAN-RB.
Ketua PTT KT I Solsel, Afriyon Soni
mengatakan, PTT tersebut sudah mengabdi sejak tahun 2003 dan Desember
2004. Serta diberikan insentif atau gaji dari APBD sebelum Solok Selatan
dimekarkan untuk menutupi kekurangan pegawai di kala itu. Kini, data
PTT itu dianggap tidak benar oleh Kemen PAN-RB.
“Kita menemui bupati bukan mendemo, tapi
untuk meminta kejelasan tentang nasib kami. Kami berharap Pemkab arif
menyelamatkan ratusan PTT ini,” pinta Afriyon.
Pada Jumat, 5 April 2012, sebanyak 272 PTT
telah melakukan uji publikasi dan dianggap sah. Sesuai surat yang
dikeluarkan Sekkab No 050/317/BPPPMD-2012, tentang uji publikasi
keabsahan database PTT kategori I tersebut.
Tapi kenyataannya, tahun 2013, database
272 PTT di Solok Selatan dinyatakan tidak benar SK-nya karena
ditandatangani Marzuki Onmar (Pjs Bupati Solsel) dan mantan Bupati
Solsel Syafrizal J.
“Tanpa ada tinjauan lapangan, Kemen PAN-RB
memvonis SK kami tidak benar. Lantas yang benar seperti apa, pemkab
pun belum memberikan solusi,” tegasnya.
Ketua Pansus Audit Tujuan Tertentu (ATT)
PTT KT I, Hendri Rose menjelaskan, “Jika datanya tak benar, SK-nya
dipalsukan atau direkayasa, tentu ada tersangkanya,” tegasnya.
Menurutnya, Kemen PAN-RB mesti
memverifikasi data tersebut sebelum dinyatakan tidak benar. Sesuai UU 38
Tahun 2003, mantan Pjs Bupati Solsel Aliman Salim memasukkan PTT
untuk daerah itu dengan alasan pegawai masih minim, baru sekitar 120
orang.
Bupati Solsel Muzni Zakaria mengatakan,
telah berkoordinasi dengan Kementerian PAN-RB agar ratusan PTT
kategori I dimasukkan ke database PTT kategori II. “Inilah
hasil keputusan Kemen PAN-RB. Namun, jalur pengangkatan menunggu
keputusan Kemen PAN-RB, apakah melalui tes atau pengangkatan langsung.
Pokoknya PTT kategori I kita selamatkan,” pungkasnya. (mg20)
Bupati Warning Pejabat Manja Tak Ada Kontribusi, Kadis Dicopot
Solsel, Padek—Bupati
Solok Selatan Muzni Zakaria mulai geram. Peringatan keras hingga
pencopotan jabatan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) bakal
diberlakukan, jika tidak bisa memberikan kontribusi bagi daerah.
Warning tersebut disampaikan bupati di hadapan seluruh SKPD pada awal masuk kerja di ruangan pertemuan bupati, Senin (12/8).
Hal itu diupayakan Pemkab
Solsel agar pejabat daerah yang diangkat dan diberikan tugas pokok dan
fungsi masing-masing melaksanakan tugas untuk peningkatan pembangunan
daerah dari berbagai sektor dan bidang.
“Upaya ini agar kepala dinas tidak manja, sekali-kali perlu diberikan shock therapy agar kinerjanya meningkat dan tidak mandul,” tegas Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria.
Muzni mengingatkan kepala
dinas hingga kepala bidang memberikan yang terbaik untuk daerah dan
mampu berkoordinasi dengan pejabat di provinsi dan kementerian
terkait. Pasalnya, Solok Selatan butuh peningkatan pembangunan dan
harus keluar dari daerah tertinggal dan terisolir.
“Saya ingin masing-masing dinas
harus mampu merangkul dana APBN sebanyak mungkin untuk pembangunan
daerah, jangan ada lagi melalui pihak ketiga. Kepala dinas dan kepala
bidang harus bertemu langsung dengan orang yang dituju dan benar-benar
mampu memberikan kontribusi untuk daerah,” tegasnya.
Bila kepala SKPD tidak bisa
berkoordinasi dengan Pemprov dan pemerintah pusat, kata Muzni, jangan
harap menjadi kepala dinas. “Sekali lagi saya katakan, jangan
harap ingin jadi pejabat jika belum bisa berbuat untuk kabupaten ini,”
tegas mantan kepala Dinas PU Padang itu.
Muzni juga menargetkan jalan
tembus Solok Selatan–Dharmasraya tuntas tahun ini. Menurut rencana,
jalan tersebut melalui jalur Pulaupunjung. “Dinas PU wajib bertemu
dengan kementerian terkait, sebab APBN 2014 segera dibahas. Ini peluang
untuk merangkul dana sebanyak-banyaknya,” katanya.
Dia juga mewanti-wanti agar
jalan lingkungan pusat ibu kota Padangaro, ditingkatkan lagi. Begitu
juga jalan yang menghubungkan Provinsi Jambi–Solok Selatan, katanya,
harus ditingkatkan tahun ini atau tahun 2014.
Dia juga menargetkan pasar
tradisional Padangaro dan Muaralabuh tuntas tahun ini. “Dua pasar ini
wajib tuntas tahun ini, sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat
Solsel. Ini untuk mengatasi kemacetan di simpang Pasar Padangaro,”
ujarnya. (mg20)
6 Korban Pistol Mainan Terancam Buta
Keenam korban pistol mainan itu Supriyanto, 12, warga Kampungbatu No 59 Padang, Faizul Alfiz, 9, warga Pakansalasa Muaralabuh Solok Selatan, Fauzan, 10, warga Kototinggi Pakandangan Padangpariaman. Lalu, Alifia Nurdifa, 5, warga Supadan Jorong IV Nagari Padangtinggi Pasaman, Alif Faturahman, 6, warga Kampungladang Hilir Pasaman, dan Abdul Rahman, 10, warga Dusun Pintu Padang Julu Siabu Medan.
Kini, keenam bocah ini mendapat perawatan intensif di di ruang bangsal mata RSUP M Djamil Padang karena terancam buta.
Supriyanto, misalnya. Mata sebelah kanan murid kelas 5 SD itu tertutup perban. “Belum bisa jelas, kalau lihat pakai mata yang ini (kiri, red),” ujar Supriyanto.
Supriyanto mengaku kejadian itu akibat kelalaiannya saat bermain perang-perangan di rumahnya di Kampungbatu, Kecamatan Padang Selatan, Minggu (4/8), sekitar pukul 12.00. “Usai bermain, saya hendak memastikan tak ada lagi peluru. Awalnya saya tembakan ke lantai, ternyata tak berpeluru. Sewaktu saya periksa lewat lewat moncong pistol, ternyata pistol masih berpeluru dan mengenai mata kanan ini,” katanya. Darah pun mengucur dari kelopak matanya.
Lain halnya Faizul Alfiz. Warga Pakansalasa Muaralabuh ini terkena peluru nyasar temannya saat Lebaran, Kamis (7/8).
Dokter spesialis mata RSUP M Djamil, dr Ardizal Rahman SpM(K) menjelaskan, reaksi seseorang saat peluru menyentuh mata berbeda-beda. Ada langsung trauma dengan mata memerah, ada merasa sakit tetapi tidak tampak kerusakan pada fisik mata secara langsung. Makanya, pasien harus segera dibawa ke dokter begitu terjadi kasus trauma pada mata. “Jika tidak, kondisi mata bisa semakin gawat dan tidak tertolong lagi,” katanya.
Kalau tidak segera diatasi, mata yang trauma bisa menyebabkan hifema atau gumpalan darah di dalam bola mata. Hifema secara khas disebabkan oleh trauma pada bola mata. Gejalanya nyeri pada mata, pendarahan di depan mata, sensitif terhadap cahaya, dan gangguan penglihatan.
“Dorongan peluru tersebut memicu rusaknya saraf optik yang membentuk bagian-bagian retina di belakang bola mata. Efek langsungnya, penderita akan merasakan sakit kepala yang amat sangat dan diikuti menurunnya kualitas penglihatan,” ujar Ardizal.
Jika terus dibiarkan, tambahnya, kornea menjadi cokelat dan tidak bisa berfungsi lagi. “Sebenarnya peluang sembuh penderita imbibisi kornea masih ada dengan cangkok mata. Namun, cara tersebut tetap tidak membuat mata sehat 100 persen,” ujarnya. Selain itu, katanya, juga mengakibatkan pembusukan akibat air mata di lapisan dalam tersumbat. Bila sudah begitu, mata harus dibuang.
Ardizal mengimbau pemda dan kepolisian memperketat pendistribusian pistol mainan ini. Apalagi hampir tiap tahun usai Lebaran kasus pistol mainan selalu terjadi. Data RSUP M Djamil Padang, korban pistol mainan sejak tiga tahun belakangan mengalami penurunan yakni, pada 2010 tercatat 23 korban, 2011 tercatat 20 korban, tahun 2012 19 korban.
“Pengawasan dari orangtua harus lebih ketat dan bijaksana mendidik anak. Bukan hanya menyenangkan anak dengan menghibur jangka pendek, tapi berakibat penyesalan jangka panjang,” ajak Ardizal.
Selain mengobati pasien pistol mainan, menurut Ardizal, pihaknya juga menangani dua pasien korban mercon. Kedua pasien itu Agus Priyanto, 23, warga Sawahlunto dan Khairulis, 38, warga Lubukbasung, Agam. Keduanya dirawat di ruang rawat inap pria mata.
Untuk korban mercon, sebut Ardizal, umumnya diagnosa trauma thermis (luka bakar) akibat percikan api mengena mata mereka. “Jika tak segera diobati ke dokter, penderita akan mengalami kebutaan juga,” ucapnya.
Dijual Bebas
Di sisi lain, sejumlah pedagang musiman di Pasar Raya mengaku tidak menemukan kesulitan membeli pistol mainan dan mercon. “Namun, kami harus berhati-hati agar tidak dirazia polisi,” ujar pedagang berinisial ND.
ND mengaku mendapatkan mercon dan pistol mainan dari pedagang grosir di Pasar Raya. “Kami dan penjual selama ini saling kenal. Saat membeli petasan kami juga harus membeli sejumlah barang lain, supaya tidak mencurigakan,” ungkapnya.
Dalam menjual petasan dan pistol mainan, ND mengaku kini tidak bisa sembarang jual. “Konsumen petasan dan pistol mainan ini anak-anak dan biasanya ditemani orangtuanya. Jika tidak, kami tidak menjualnya,” ungkapnya.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Energi (Disperindagtamben) Padang, Tasril Tasar mengaku terus memantau peredaran barang berupa pistol mainan dan petasan. Namun kenyataannya, mainan berbahaya itu tetap tidak terkendali. Pistol dan mercon masih dijual bebas.
Gubernur Sumbar Irwan Prayitno sendiri telah mengeluarkan surat edaran (SE) pada 3 Juli 2012, terkait pemeliharaan ketentraman dan ketertiban umum. Dalam SE Nomor 332 tersebut, ditegaskan penjualan dan peredaran mercon dan kembang api tidak dibolehkan. Meriam bambu juga dilarang, karena mengganggu ketenangan dan masyarakat dalam menjalankan ibadah. Namun, kejadian itu terus berulang hingga Lebaran tahun ini.
Pengamat kebijakan publik dari Universitas Negeri Padang, Eka Vidya Putra menyatakan, peredaran dan penggunaan mainan anak-anak yang berbahaya seperti pistol-pistolan tersebut perlu kontrol pemerintah daerah dan orangtua. “Kontrol itu harus diiringi dengan sanksi. Kontrol tidak hanya ketika telah sampai di pasaran saja, tapi jauh sebelumnya harus sudah dilakukan,” ujarnya.
Pistol-pistolan yang dapat mencederai itu, tuturnya, tidak bisa dimasukkan dalam kategori mainan. (cr2/ril/kid)
[ Red/Administrator ]
Brimob Buru Perampok Toke Karet Kapolres: Pemain Lama, Kawanan Dharmasraya
Kapolres Solok Selatan AKBP Nanang Putu Wardianto kepada Padang Ekspres, di Sangir Balai Janggo, Senin (5/8), menyebutkan, kawanan perampok bersebo tak hanya menggasak harta benda korban, tapi juga melukai korban.
”Kepala, wajah dan punggung korban memar, akibat diinjak-injak dengan sepatu keras. Selain itu, juga dipukul dengan marmer karena korban tidak mau mengaku tempat menyimpan uang dan perhiasannya,” kata Kapolres.
Saat ini, pihaknya, sedang melakukan pengepungan hingga ke Dharmasraya. Jajarannya bertekad segera menangkap pelaku bersenpi dan sindikat lainnya. “Puluhan Brimob telah dikerahkan untuk menumpas kawanan perampok di Solok Selatan dan Dharmasraya,” kata Nanang.
Nanang menyebutkan, kawanan perampok ini selalu menggunakan senjata api dan sebo (penutup wajah) ketika beraksi. Dia menduga para pelaku bukan dari luar daerah, tapi berdomisili di Dharmasraya. ”Saya yakin mereka berdomisili sekitar Dharmasraya dan Solok Selatan, setelah melihat pergerakan setiap melakukan perampokan di Dharmasraya dan Solok Selatan,” jelas Nanang.
Pengakuan toke karet Eriwahyudi, dan istrinya Rina serta tetangga korban yang disekap, menurut Nanang, keenam pelaku menggunakan bahasa Indonesia. Sewaktu menjalankan aksinya, dua perampok menggunakan sebo menyekap korban, dua berjaga di pintu, dan dua orang masuk rumah.
Modus operasinya, tambah Nanang, sama dengan kejadian di Dharmasraya. Pelaku mengetuk pintu terlebih dahulu, dan melepaskan tembakan peringatan. Selanjutnya, korban dipaksa tiarap di lantai di bawah todongan senjata.
Bila tidak mau menunjukkan letak uang dan perhiasan, perampok menganiaya korban. Dalam keadaan tiarap, kata Nanang, kedua tangan korban diikat ke belakang dan dihajar berkali-kali sampai tubuh dan kepala korban memar.
”Kita menemukan empat selongsong dan satu proyektil dalam kondisi melekat di ban mobil sebelah kanan dan bagian belakang. Peluru ini memudahkan polisi mengungkap jenis senjata digunakan pelaku, dan korban sudah memberikan keterangan,” sebutnya.
Pulungan, 50, tetangga korban yang disekap perampok mengatakan, dia mendatangi rumah korban setelah mendengar teriakan. Namun baru sampai di depan rumah, dia pun diberikan tembakan peringatan dan disuruh tiarap.
Kapolres Solsel mengimbau masyarakat proaktif melapor ke polsek terdekat bila menemui ada orang yang mencurigai. Dia berkeyakinan para pelaku memiliki organisasi yang rapi. Diduga pelaku pemain lama dengan organisasi sama. Selain itu, ada kaitannya dengan perampokan di toko emas di Abai Sangir Batang Hari yang menewaskan satu orang ketika hendak menolong korban.
Seperti diketahui, Minggu malam (3/8), kawanan perampok menyatroni rumah seorang toke karet di Nagari Talunanmaju, Jorong Kurniamaju, Kecamatan Sangir Batang Jujuan, Solsel. Mereka menyekap toke getah itu sembari melepaskan tembakan tiga kali guna memaksa istri korban menunjukkan letak uang dan perhiasan. Para bandit itu membawa kabur uang Rp 50 juta dan 5 mas perhiasan. (mg20)
[ Red/Administrator ]
Kawasan Hutan Lindung Membingungkan Petani Kerap Bermasalah Hukum
Solsel, Padek—Masyarakat
Kabupaten Solok Selatan (Solsel) bingung dan terganggu dengan
kebijakan pemerintah. Tidak sedikit masyarakat yang terjerat hukum
karena memasuki kawasan hutan lindung yang ditetapkan tanpa jelas
titik tapal batasnya.
“Permasalahan ini sudah pernah
kita sampaikan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan pihak
Kehutanan terkait tapal batas ini, namun hingga saat ini belum ada
keputusan yang jelas. Setahu saya sampai saat ini memang belum ada
tapal batas hutan lindung di Kabupaten Solok Selatan,” ujar Ketua DPD
Golkar Kabupaten Solok Selatan yang juga Ketua DPRD setempat
Khairunas saat buka bersama di Hotel Pesona Alam Sangir, Sabtu kemarin.
Pada kegiatan yang juga
dihadiri anggota DPR-RI Azwir Dainy Tara itu, Khairunas
menyampaikan adanya gugatan terhadap kawasan hutan lindung di
Sumbar sebagai hutan negara. Karena di Sumbar hanya mengenal hutan
ulayat atau hutan adat.
“Kita juga telah berkoordinasi
dengan pihak kepolisian tentang permasalahan ini. Jangan masyarakat
kita yang tidak mengerti hanya menjadi santapan pihak-pihak yang ingin
mengambil keuntungan dari kebijakan yang dibuat. Termasuk meminta
aturan yang menetapkan kawasan hutan lindung di Solok Selatan, kalau
ada tolong tunjukan,” sebut Khairunas.
Menanggapi hal itu, Azwir Dainy
Tara yang diundang bersama calon Anggota DPD-RI Yamin Ferriyanto Tara
yang diwakili oleh Muhammad Khomeiny Tara menyampaikan, penetapan
kawasan hutan lindung oleh pemerintah pusat terutama Kementrian
Kehutanan terkadang tidak tepat sasaran dan hanya di atas kertas
saja.
“Contohnya di Pesisir Selatan,
dimana rumah dinas bupatinya masuk kawasan hutan lindung. Bagaimana,
pemerintah daerah melakukan pengembangan kawasannya, kalau selalu
terkendala oleh status hutan lindung. Begitu juga di Solok Selatan,
kapan masyarakat di sini akan berkembang perekonomiannya yang
mayoritas bermata pencarian sebagai petani,” sebut Azwir Dainy Tara.
Selain kawasan hutan lindung,
dirinya juga sering mendapatkan keluhan terkait aktifitas pertambangan
yang dilakukan oleh masyarakat di sepanjang Sungai Batang Hari.
Dimana, masyarakat kecil dilarang menambang, tetapi pengusaha-pengusaha
dengan kapasitas besar dibiarkan saja dan seakan tak tersentuh oleh
penegak hukum.
“Untuk aktifitas pertambangan, kami
telah turun bersama Komisi VII DPR-RI menghentikan tambang ilegal.
Tinggal bagaimana lagi menata agar masyarakat yang berada di sepanjang
kawasan itu bisa memanfaatkan hasil alam itu untuk meningkatkan
kesejahteraan mereka,” ungkap Azwir Dainy Tara, yang dikenal sangat
merakyat itu searaya mengenalkan putra-putrinya sebagai kader.(*)
Lagi, Toke Karet Dirampok
Solsel, Padek—Kawanan
perampok bersenjata api (bersenpi) beraksi di Solok Selatan tadi
malam. Seorang toke karet di Nagari Talunanmaju, Jorong Kurniamaju,
Kecamatan Sangir Batang Jujuan, menjadi korban keganasan komplotan
penjahat tersebut.
Enam kawanan perampok yang mengendarai tiga motor ini, leluasa mengobrak-abrik rumah korban yang tinggal di daerah terisolir.
Mereka menyekap toke getah itu sembari
melepaskan tembakan tiga kali guna memaksa istri korban menunjukkan
letak uang dan perhiasan. Setelah ditunjuki, dengan sigap para bandit
itu membawa kabur uang Rp 50 juta dan 5 mas perhiasan.
Pelaku masuk ke rumah korban jelang Shalat
Isya. Secepat kilat, keenam perampok masuk ke dalam rumah korban.
Setelah mengikat korban, pelaku mengancam istri korban, Rina dengan tiga
kali tembakan.
“Sekarang kasusnya sedang dikembangkan.
Diduga pelaku masih pemain lama, spesialis perampokan di daerah
terisolir. Beruntung, korban selamat,” ujar Kasat Reskrim Polres Solsel,
AKP Ricco Fernanda kepada Padang Ekspres, tadi malam.
Ricco menduga pelakunya ada kaitannya
dengan kasus perampokan di salah satu toko emas di Abai Sangir Batang
Hari, tahun lalu. “Kami terus menyelidiki apa motif perampokan ini,
apakah ada indikasi orang dalam atau tidak. Yang jelas, jelang Lebaran
ini, warga harus hati-hati karena tingkat kriminal tinggi. Jika ada yang
mencurigakan, segera lapor ke polisi. Misalnya ada orang yang tidak
dikenal bolak-balik di lokasi, segera waspada. Siapa tahu orang itu
sedang membaca situasi,” imbaunya.
Seperti diketahui, September lalu,
komplotan perampok berpistol yang berjumlah tiga orang, merampok sebuah
toko emas di Pasar Nagari Abai, Kecamatan Sangir Batang Hari, Solsel.
Seorang warga bernama Khairuddin, 54, tewas tertembak setelah berupaya
menolong pemilik toko. Perampok menggunakan senjata api jenis M16 dan
revolver. (mg20)
Awas, Ada 32 Titik Longsor Waspadai Cuaca Ekstrem, 104 Alat Berat Disiagakan
Padang, Padek—Lebaran
tahun ini, pemudik diminta mewaspadai cuaca ekstrem. Badan
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem
akan terjadi di Sumbar, H-3 hingga H+3 Lebaran.
Karena itu, pengendara diminta
meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya longsor dan pohon tumbang.
Selama Agustus ini, wilayah Sumbar berpotensi hujan menengah 151-300
mm. Artinya, bulan Agustus ini akan sering hujan. Ini semakin
membahayakan Sumbar sebagai daerah rawan longsor.
”Rentang 2-8 Agustus ini, Sumbar
berpotensi hujan ringan pada siang hari serta berpotensi hujan
sedang-lebat pada malam hari. Tak hanya longsor, warga juga harus
mewaspadai banjir, dan angin puting beliung, terutama di wilayah
pesisir seperti Padang, Pariaman, Pessel, Agam dan Pasbar,” ujar
Manager Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
Sumbar, Ade Edward kepada Padang Ekspres, Minggu (4/8).
Ada 32 titik rawan jalur mudik yang patut diwaspadai rawan longsor dan pohon tumbang (lihat grafis).
”Arus mudik akan meningkat pada H-3 dan H+3, tak terkecuali di Sumbar,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Wakil Gubernur
Sumbar, Muslim Kasim. “Jika hujan lebat, sebaiknya berhenti dulu.
Jangan dipaksakan juga jalan. Kami menyarankan pemudik tidak
melewati jalur Sicicin-Malalak. Topografinya berat, tanahnya masih
labil. Ini sangat berbahaya, pilihlah jalan alternatif yang lain,”
ulas Muslim Kasim.
Menyikapi hal ini, Pemprov Sumbar melalui
Dinas Prasarana Jalan dan Tata Ruang Permukiman (Prasjal Tarkim) telah
menyiagakan 104 unit alat berat di titik-titik rawan.
Kepala Dinas Perhubungan, Informasi dan
Telekomunikasi (Dishub Inforkom) Sumbar, Mudrika mengatakan, pihaknya
juga telah memasang rambu-rambu di lokasi-lokasi rawan.
Imbauan serupa juga disampaikan Kepala
BPBD Solok Selatan, Hamudis, yang termasuk daerah rawan longsor.
Mulai Alahanpanjang di Kabupaten Solok hingga Kecamatan Sangir
Batang Hari di Solok Selatan, ada delapan titik rawan longsor.
Delapan lokasi itu di Jorong Sungai Ipuah
Nagari Pakan Rabaa Tangah (Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh), Jorong
Ampalu Pekonina (Kecamatan Pauhduo, Lekok dan Sampu Bukit Manggis
(Kecamatan Sangir), Nagari Lubuk Malako, Padang Air Dingin (Kecamatan
Sangir Jujuan) dan Nagari Ranah Pantai Cermin (Kecamatan Sangir Batang
Hari).
Hamudis menjelaskan, daerah yang paling
rawan longsor yakni Bukit Manggis. Selain jalannya kecil dan rusak
parah, juga terdapat perbukitan yang memiliki tanjakan tinggi dan
terjal. Akses satu-satunya bagi masyarakat ada di tiga kecamatan.
Yakni, Kecamatan Sangirjujuan, Sangir Batang Hari dan Sangir Balai
Janggo.
”Akses ini juga alternatif terdekat menuju
kabupaten tetangga, Dharmasraya. Tingginya tebing dan jurang di
sepanjang Bukit Manggis, mencapai 100 meter. Bila curah hujan tinggi,
sebaiknya pemudik berhenti dahulu. Jika dipaksakan lewat di Bukit
Manggis, jalan akan tertimbun longsor dan tentunya akan membahayakan
pengendara. Setiap tahun, jalan Bukit Manggis sering memakan
korban, khususnya setiap hujan lebat,” pungkasnya.
Pos Uji Kelayakan
Di Padangpanjang, Dishubkominfo
menyiagakan satu unit pos uji layak angkutan Lebaran terhitung H-7
hingga H+7 mendatang di Terminal Regional Bukitsurungan. Ini bertujuan
untuk kelancaran lalu lintas dan keamanan pemudik.
Sekretaris Dishubkominfo Padangpanjang,
Zulheri menjelaskan, pos tersebut akan melakukan pemeriksaan
terhadap kelengkapan angkutan Lbaran. Selain surat menyurat,
pemeriksaan juga terkait kelengkapan fisik kendaraan seperti
rem, lampu utama, lampu sen hingga fungsi wiper.
Pengawasan ekstra tersebut, guna memastikan
angkutan Lebaran layak beroperasi. Selain itu, juga bertujuan untuk
meminimalisir terjadinya gangguan terhadap kelancaran arus mudik dan
lalu lintas saat Lebaran. “Sekecil apa pun permasalahan pada
kendaraan, bisa saja menimbulkan risiko besar bagi penumpang atau
pengguna jalan lainnya,” ujar Zulheri kepada Padang Ekspres, kemarin.
Selain menimbulkan risiko kecelakaan,
ketidaklayakan angkutan juga dapat memicu kesemrawutan dan
kemacetan lalu lintas arus mudik. Karena satu kendaraan bermasalah atau
mengalami kerusakan, bisa menimbulkan kerugian banyak pihak,
termasuk penumpang angkutan itu sendiri. “Hingga H-4, telah ditemukan
belasan pelanggaran. Umumnya pelanggaran terhadap kir, izin trayek dan
habisnya masa kartu pengawasan (KP). Kami juga telah memberikan tilang
atas pelanggaran tersebut, karena ini menyangkut kepentingan hajat
hidup orang banyak,” ulas Zulheri.
Tak hanya itu, Dishubkominfo juga
membentuk Tim Pengendalian Ketentraman dan Ketertiban (Trantib)
Terminal. Tim tersebut bertujuan untuk mengawasi dan memastikan
setiap angkutan barang dan penumpang untuk memasuki terminal.
“Sedangkan untuk angkutan kota dan desa di Terminal Kantin dan Pasar,
penekanan lebih pada ketertiban angkutan,” tutur Zulheri.
Di Pasaman Barat, sejumlah titik jalan
berlubang, sudah ditambal. Namun jalan di Kinali-Simpangampek, sedikit
macet karena jalannya kecil. Untuk itu, perlu pelebaran jalan, termasuk
arah ke Ranahbatahan, perbatasan dengan Madina (Sumut).
Ini memicu kecelakaan lalu lintas. Kalau
ada lawan kendaraan di depan, salah satunya harus berhenti, karena
jalan sempit. Selain itu, banyak jalan berlobang, yang masih belum
diperbaiki. (ayu/mg20/wrd)
Langganan:
Postingan (Atom)


