22 April 2013, 10:46
0 komentar | Dibaca: 303
Seni Teater SMAN 3 Kabupaten Solok Selatan (Foto: HaluanMedia.com)
“Dulangku Hilang,
Emasku Lenyap” merupakan sebuah cerita dalam seni teater SMAN 3
Kabupaten Solok Selatan. Drama ini dimainkan pada lomba FL2SN
se-Kabupaten Solok Selatan. Teater kebanggaan sekolah pimpinan Syamsuria
itu, memenangkan perlombaan pada tingkat pertama. Tema yang sama akan
ditampilkan kembali oleh tim teater SMAN 3 Solsel dalam Festival dan
Lomba seni siswa nasional (lomba FL2SN tingkat provinsi pada Mei 2013
mendatang.
Teater yang diasuh oleh Siswandi dan Hasriyal ini memilih tema
tentang tambang emas, karena isu tersebut sedang hangat-hangatnya
dibahas di tingkat Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat, dan
bahkan sudah sampai ke Kaukus DPR-DPD RI.
Pemain dalam seni teater tersebut hanyalah enam orang. Yaitu, Gina
Katrun Nada sebagai Mande, Wiki Wulandari sebagai Ayum, Anugrah Bobi
Pratama sebagai Dulang, Satrian Sastra sebagai Mamak, serta pemain
figuran Fahmi Zikra dan Sukra, teman si Dulang. Drama yang telah
dimainkan dalam FL2SN tersebut merupakan ide cerita dari Siswandi, S.Sn,
dipanggungkan pertama kalinya pada 5 April di Gedung PGRI Disdik Solsel
di Padang Aro.
Pembina Teater SMAN 3 Solok Selatan Hasriyal menceritakan, alur
cerita dimulai dari kisah kehidupan Dulang dengan mandenya. Dulang
merupakan satu-satunya anak lelaki dari pejuang kemerdekaan. Ayahnya
telah lama meninggal, maka tinggallah dia dengan mande yang buta dan
saeorang adik perempuannya bernama Ayum. Mereka hidup dalam kekurangan.
Rumah centang perenang, dan terkesan kumuh.
Ketika Dulang terputus sekolahnya karena tidak ada biaya, ia
berkeinginan untuk merawat ibunya. Hari demi hari ia lewati dengan
kehidupan yang sulit. Suatu ketika, Dulang berkeinginan membahagiakan
mandenya. Karena daerahnya yang kaya emas, maka Dulang dengan dua orang
temannya pergi ke lokasi pertambangan mendulang emas. Dorongan bagi
Dulang untuk pergi ke lokasi tambang emas, karena ingin membantu orang
tua menafkahi keluarga. Mandenya yang ditinggal suami, dan kini dalam
kondisi buta, sedangkan adiknya akan sekolah. Desakan itulah yang
memotivasi Dulang pergi manambang emas, yaitu ingin mengoperasi mata
mande dan ingin menyengolahkan adiknya.
Dalam drama tersebut, Dulang sudah berbulan-bulan pergi ke lokasi
tambang, namun tidak ada kabar beritanya. Mande dan adik Dulang setiap
hari menanyakan kepada orang-orang yang juga menambang emas di lokasi
tambang. Akan tetapi tidak seorang pun yang mengetahuinya. Dalam
kondisi tertekan penuh kesedihan itu, datanglah mamak si Dulang ke rumah
Mande. Ia ingin menggadaikan harta pusaka, berupa tanah warisan.
Dialog demi dialog, dengan kondisi tidak berdaya mande si Dulang
kalah dari perebutan warisan itu. Padahal, sang mande ingin
mempertahankan tanah tersebut karena mengingat anak perempuannya Ayum
masih ada. Lagi pula, jika tanah tersebut dijual mamak, bagaimana dengan
si Dulang yang belum pulang menambang. Apakah ia setuju atau tidak,
tetapi mamak tidak peduli.
Akhir cerita, Dulang datang ke mimpi mandenya. Dalam mimpi itulah
Dulang menyampaikan bahwa dirinya sudah tidak ada lagi (meninggal
dunia-red). Mendapatkan mimpi yang demikian, mande langsung menceritakan
kepada putrinya, adik si Dulang bernama Ayum. Merekapun meratapi
bersama, sembari mengucapkan “dulangku hilang, emasku lenyap.”
Yang menarik isu dalam drama teater SMAN 3 Solok Selatan adalah para
siswa berani mengangkat persoalan tambang emas yang sedang marak di
daerah itu. Para pelaku tambang emas ini, mulai dari lapisan masyarakat
biasa, pengusaha hitam, dan investor nakal.
Kalau lapisan masyarakat biasa, inilah yang menggunakan Dulang untuk
menambang emas secara tradisional. Sebagian mereka ada yang menggunakan
mesin dompeng. Penghasilan menambang dengan menggunakan Dulang dan
dompeng memang untung-untungan. Untuk kondisi saat ini, dua cara
penambangan ini bergantung kepada hasil galian alat berat (ekskavator).
Akan tetapi, sekali panen para pendulang dan dompeng, bisa mendapatkan
emas berkilo-kilogram juga. Namun bisa dikatakan sangat jarang.
Sedangkan pengusaha hitam, ini tergolong pada masyarakat yang sudah
naik status, karena bisa menyewa alat berat untuk menambang. Padahal,
asal mula ia menambang emas hanya menggunakan dulang atau dompeng.
Mereka dikatakan pengusaha lokal, karena kebanyakan mereka adalah
orang-orang Solok Selatan. Mereka merental ekskavator untuk menggali
emas di dasar sungai Batang Hari, kemudian hasil galian itu dikelola
dengan dompeng yang banyak. Pengusaha nakal ini ada yang berasal dari
pejabat, aparat, dan oknum masyarakat.
Tidak hanya pengusaha lokal, bahkan ada yang berasal dari provinsi
lain. Namun mereka masih tergolong pengusaha nakal, karena tidak
mengikuti prosedur administrasi yang sah dalam berinvestasi atau usaha
di daerah lain.
Sementara itu, ada investor nakal yang ikut menambang emas di Solsel.
Dikatakan investor nakal, karena mereka pada prinsipnya adalah ingin
menanamkan modal (berinvestasi) di daerah ini. Namun, belum lengkap
administrasinya malah sudah beroperasi. Atau, beroperasi tidak
berdasarkan tahapan-tahapan izin sesuai undang-undang yang berlaku.
Kembali ke cerita dalam drama teater Dulangku Hilang, Emasku Lenyap.
Kisah kehidupan Dulang, menggambarkan kondisi kehidupan sosial
masyarakat Solok Selatan pada umumnya. Dulang digambarkan hidup serba
kesulitan, berada dalam kemiskinan, dan ditekan oleh kekuasaan mamak.
Demikianlah dulunya, ketika para investor mulai melirik bisnis emas di
daerah ini. Dengan mudahnya, kekayaan alam yang mengandung emas dikuasai
dan dimiliki oleh investor asing. Sementara, isu ninik mamak sudah
merekomendasikan percepatan izin investor asing itu terus berkembang.
Inilah yang digambarkan dalam cerita drama itu, yang mana mande Dulang
yang berada dalam kebutaan dan miskin, malah mamak masih juga ingin
menggadaikan tanah, tanpa memikirkan masa depan kemenakannya. (Icol
Dianto)



0 komentar:
Posting Komentar