Pages

Senin, 19 Agustus 2013

Awas, Ada 32 Titik Longsor Waspadai Cuaca Ekstrem, 104 Alat Berat Disiagakan

Padang Ekspres • Senin, 05/08/2013 12:26 WIB • Redaksi • 770 klik

Ilustrasi (Net. ist)
Padang, Padek—Lebaran ta­hun ini, pemudik diminta me­waspadai cuaca ekstrem. Ba­dan Meteorologi Klimato­logi dan Geofisika (BMKG) mem­prediksi cuaca ekstrem akan terjadi di Sumbar, H-3 hingga H+3 Lebaran.

Karena itu, pengendara di­minta meningkatkan kewas­pa­daan terhadap bahaya long­sor dan  pohon tumbang. Selama Agus­tus ini, wilayah Sumbar­ ber­potensi hujan menengah 151-300 mm. Artinya, bulan Agus­tus ini akan sering hujan. Ini semakin membahayakan Sumbar sebagai daerah rawan longsor.

”Rentang 2-8 Agustus ini, Sum­bar berpotensi hujan ri­ngan pada siang hari serta ber­potensi hujan sedang-lebat pa­da malam hari. Tak hanya long­sor, warga juga harus me­waspadai banjir, dan angin pu­ting beliung, terutama di wi­la­yah pesisir seperti Padang, Pa­riaman, Pessel, Agam dan Pas­bar,” ujar Manager Pus­dalops Ba­dan Pe­nanggulangan Ben­ca­na Daerah (BPBD) Sumbar, Ade Edward kepada Padang Ekspres, Minggu (4/8).

Ada 32 titik rawan jalur mu­dik yang patut diwaspadai r­a­wan longsor dan pohon tum­bang (lihat grafis).

”Arus mudik akan me­ning­kat pada H-3 dan H+3, tak ter­ke­cuali di Sumbar,” tam­bahnya.

Hal senada disampaikan Wakil Gubernur Sumbar, Muslim Kasim. “Jika hujan lebat, se­baiknya berhenti dulu. Jangan di­­paksakan juga jalan. Kami me­nyarankan pemudik tidak me­lewati jalur Sicicin-Malalak. T­o­pografinya berat, tanahnya ma­­sih labil. Ini sangat ber­bahaya, pilihlah jalan alter­natif yang lain,” ulas Muslim Kasim.

Menyikapi hal ini, Pemprov Sum­bar melalui Dinas Prasa­rana Jalan dan Tata Ruang Per­mukiman (Prasjal Tarkim) telah me­nyiagakan 104 unit alat berat di titik-titik rawan.

Kepala Dinas Perhubungan, Informasi dan Telekomunikasi (Dishub Inforkom) Sumbar, Mudrika mengatakan, pihaknya juga telah memasang rambu-rambu di lokasi-lokasi rawan.
Imbauan serupa juga di­sam­paikan Kepala BPBD So­lok ­Se­la­tan, Hamudis, yang ter­ma­suk daerah rawan longsor. M­u­l­ai Alahanpanjang di Ka­bu­paten Solok hingga Kecamatan Sangir Ba­tang Hari di Solok Selatan, ada delapan titik rawan longsor.

Delapan lokasi itu di Jorong Sungai Ipuah Nagari Pakan Rabaa Tangah (Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh), Jorong Ampalu Pekonina (Kecamatan Pauh­duo, Lekok dan Sampu Bu­kit Manggis (Kecamatan Sa­ngir), Nagari Lubuk Malako, Padang Air Dingin (Kecamatan Sangir Jujuan) dan Nagari Ranah Pan­tai Cermin (Kecamatan Sangir Ba­tang Hari).

Hamudis menjelaskan, dae­rah yang paling rawan longsor yak­­ni Bukit Manggis. Selain ja­lan­nya kecil dan rusak parah, juga ter­dapat perbukitan yang me­mi­liki tanjakan tinggi dan ter­jal. Ak­ses satu-satunya bagi mas­yara­kat ada di tiga keca­matan. Yak­ni, Kecam­a­tan Sangirjujuan, Sa­ngir Batang Hari dan Sangir Balai Janggo.

”Akses ini juga alternatif ter­dekat menuju kabupaten tetang­ga, Dharmasraya. Ting­ginya te­bing dan jurang di sepanjang Bu­kit Manggis, mencapai 100 me­ter. Bila curah hujan tinggi, se­baiknya pemudik berhenti da­hulu. Jika dipaksakan lewat di Bu­­­kit Manggis, jalan akan ter­tim­­­bun longsor dan tentunya akan membahayakan pe­ngen­da­ra. Setiap tahun, jalan Bukit Mang­gis sering memakan kor­ban, khususnya setiap hujan le­bat,” pungkasnya.

Pos Uji Kelayakan

Di Padangpanjang, Dishub­ko­minfo menyiagakan satu unit pos uji layak angkutan Lebaran ter­hitung H-7 hingga H+7 men­datang di Terminal Regional Bu­kitsurungan. Ini bertujuan untuk ke­lancaran lalu lintas dan ke­ama­nan pemudik.

Sekretaris Dishubkominfo Pa­dangpanjang, Zulheri menje­las­kan, pos tersebut akan mela­ku­kan pe­meriksaan terhadap ke­leng­kapan angkutan Lbaran. Se­­lain su­rat menyurat, pe­merik­saan juga ter­kait keleng­kapan­ fi­s­ik ken­daraan seperti rem, lam­pu utama, lampu sen hingga fung­si wiper.

Pengawasan ekstra tersebut, guna memastikan angkutan Lebaran layak beroperasi. Selain itu, juga bertujuan untuk memi­ni­malisir terjadinya gang­guan ter­hadap kelancaran arus mudik dan lalu lintas saat Lebaran. “Se­kecil apa pun permasalahan pa­da kendaraan, bisa saja menim­bul­kan risiko besar bagi penum­pang atau pengguna jalan lain­nya,” ujar Zulheri kepada Pa­dang Ekspres, kemarin.

Selain menimbulkan risiko kecelakaan, ketidaklayakan ang­ku­­tan juga dapat memicu ke­sem­rawutan dan kemacetan lalu lintas arus mudik. Karena satu ken­daraan bermasalah atau me­nga­l­ami kerusakan, bisa menim­bul­­kan kerugian banyak pihak, termasuk penumpang angkutan itu sendiri. “Hingga H-4, telah ditemukan belasan pelanggaran. Umum­nya pelanggaran terha­dap kir, izin trayek dan habisnya masa kartu pengawasan (KP). Kami juga telah memberikan tilang atas pelanggaran tersebut, ka­rena ini menyangkut kepen­ti­ngan hajat hidup orang ba­nyak,” ulas Zulheri.

Tak hanya itu, Dishub­ko­min­­fo juga membentuk Tim Pe­ngen­­dalian Ketentraman dan Ke­­tertiban (Trantib) Terminal. Tim tersebut bertujuan untuk me­­ngawasi dan memastikan se­tiap angkutan barang dan pe­numpang untuk memasuki ter­minal. “Sedangkan untuk ang­kutan kota dan desa di Termi­nal Kantin dan Pasar, peneka­nan lebih pada ketertiban angkutan,” tutur Zulheri.

Di Pasaman Barat, sejumlah titik jalan berlubang, sudah ditambal. Namun jalan di Kinali-Simpangampek, sedikit macet karena jalannya kecil. Untuk itu, perlu pelebaran jalan, termasuk arah ke Ranahbatahan, perbata­san dengan Madina (Sumut).

Ini memicu kecelakaan lalu lintas. Kalau ada lawan kenda­raan di depan, salah satunya harus berhenti, karena jalan sempit. Selain itu, banyak jalan berlobang, yang masih belum diperbaiki. (ayu/mg20/wrd)

0 komentar:

Posting Komentar