Padang, Padek—Lebaran
tahun ini, pemudik diminta mewaspadai cuaca ekstrem. Badan
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem
akan terjadi di Sumbar, H-3 hingga H+3 Lebaran.
Karena itu, pengendara diminta
meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya longsor dan pohon tumbang.
Selama Agustus ini, wilayah Sumbar berpotensi hujan menengah 151-300
mm. Artinya, bulan Agustus ini akan sering hujan. Ini semakin
membahayakan Sumbar sebagai daerah rawan longsor.
”Rentang 2-8 Agustus ini, Sumbar
berpotensi hujan ringan pada siang hari serta berpotensi hujan
sedang-lebat pada malam hari. Tak hanya longsor, warga juga harus
mewaspadai banjir, dan angin puting beliung, terutama di wilayah
pesisir seperti Padang, Pariaman, Pessel, Agam dan Pasbar,” ujar
Manager Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
Sumbar, Ade Edward kepada Padang Ekspres, Minggu (4/8).
Ada 32 titik rawan jalur mudik yang patut diwaspadai rawan longsor dan pohon tumbang (lihat grafis).
”Arus mudik akan meningkat pada H-3 dan H+3, tak terkecuali di Sumbar,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Wakil Gubernur
Sumbar, Muslim Kasim. “Jika hujan lebat, sebaiknya berhenti dulu.
Jangan dipaksakan juga jalan. Kami menyarankan pemudik tidak
melewati jalur Sicicin-Malalak. Topografinya berat, tanahnya masih
labil. Ini sangat berbahaya, pilihlah jalan alternatif yang lain,”
ulas Muslim Kasim.
Menyikapi hal ini, Pemprov Sumbar melalui
Dinas Prasarana Jalan dan Tata Ruang Permukiman (Prasjal Tarkim) telah
menyiagakan 104 unit alat berat di titik-titik rawan.
Kepala Dinas Perhubungan, Informasi dan
Telekomunikasi (Dishub Inforkom) Sumbar, Mudrika mengatakan, pihaknya
juga telah memasang rambu-rambu di lokasi-lokasi rawan.
Imbauan serupa juga disampaikan Kepala
BPBD Solok Selatan, Hamudis, yang termasuk daerah rawan longsor.
Mulai Alahanpanjang di Kabupaten Solok hingga Kecamatan Sangir
Batang Hari di Solok Selatan, ada delapan titik rawan longsor.
Delapan lokasi itu di Jorong Sungai Ipuah
Nagari Pakan Rabaa Tangah (Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh), Jorong
Ampalu Pekonina (Kecamatan Pauhduo, Lekok dan Sampu Bukit Manggis
(Kecamatan Sangir), Nagari Lubuk Malako, Padang Air Dingin (Kecamatan
Sangir Jujuan) dan Nagari Ranah Pantai Cermin (Kecamatan Sangir Batang
Hari).
Hamudis menjelaskan, daerah yang paling
rawan longsor yakni Bukit Manggis. Selain jalannya kecil dan rusak
parah, juga terdapat perbukitan yang memiliki tanjakan tinggi dan
terjal. Akses satu-satunya bagi masyarakat ada di tiga kecamatan.
Yakni, Kecamatan Sangirjujuan, Sangir Batang Hari dan Sangir Balai
Janggo.
”Akses ini juga alternatif terdekat menuju
kabupaten tetangga, Dharmasraya. Tingginya tebing dan jurang di
sepanjang Bukit Manggis, mencapai 100 meter. Bila curah hujan tinggi,
sebaiknya pemudik berhenti dahulu. Jika dipaksakan lewat di Bukit
Manggis, jalan akan tertimbun longsor dan tentunya akan membahayakan
pengendara. Setiap tahun, jalan Bukit Manggis sering memakan
korban, khususnya setiap hujan lebat,” pungkasnya.
Pos Uji Kelayakan
Di Padangpanjang, Dishubkominfo
menyiagakan satu unit pos uji layak angkutan Lebaran terhitung H-7
hingga H+7 mendatang di Terminal Regional Bukitsurungan. Ini bertujuan
untuk kelancaran lalu lintas dan keamanan pemudik.
Sekretaris Dishubkominfo Padangpanjang,
Zulheri menjelaskan, pos tersebut akan melakukan pemeriksaan
terhadap kelengkapan angkutan Lbaran. Selain surat menyurat,
pemeriksaan juga terkait kelengkapan fisik kendaraan seperti
rem, lampu utama, lampu sen hingga fungsi wiper.
Pengawasan ekstra tersebut, guna memastikan
angkutan Lebaran layak beroperasi. Selain itu, juga bertujuan untuk
meminimalisir terjadinya gangguan terhadap kelancaran arus mudik dan
lalu lintas saat Lebaran. “Sekecil apa pun permasalahan pada
kendaraan, bisa saja menimbulkan risiko besar bagi penumpang atau
pengguna jalan lainnya,” ujar Zulheri kepada Padang Ekspres, kemarin.
Selain menimbulkan risiko kecelakaan,
ketidaklayakan angkutan juga dapat memicu kesemrawutan dan
kemacetan lalu lintas arus mudik. Karena satu kendaraan bermasalah atau
mengalami kerusakan, bisa menimbulkan kerugian banyak pihak,
termasuk penumpang angkutan itu sendiri. “Hingga H-4, telah ditemukan
belasan pelanggaran. Umumnya pelanggaran terhadap kir, izin trayek dan
habisnya masa kartu pengawasan (KP). Kami juga telah memberikan tilang
atas pelanggaran tersebut, karena ini menyangkut kepentingan hajat
hidup orang banyak,” ulas Zulheri.
Tak hanya itu, Dishubkominfo juga
membentuk Tim Pengendalian Ketentraman dan Ketertiban (Trantib)
Terminal. Tim tersebut bertujuan untuk mengawasi dan memastikan
setiap angkutan barang dan penumpang untuk memasuki terminal.
“Sedangkan untuk angkutan kota dan desa di Terminal Kantin dan Pasar,
penekanan lebih pada ketertiban angkutan,” tutur Zulheri.
Di Pasaman Barat, sejumlah titik jalan
berlubang, sudah ditambal. Namun jalan di Kinali-Simpangampek, sedikit
macet karena jalannya kecil. Untuk itu, perlu pelebaran jalan, termasuk
arah ke Ranahbatahan, perbatasan dengan Madina (Sumut).
Ini memicu kecelakaan lalu lintas. Kalau
ada lawan kendaraan di depan, salah satunya harus berhenti, karena
jalan sempit. Selain itu, banyak jalan berlobang, yang masih belum
diperbaiki. (ayu/mg20/wrd)



0 komentar:
Posting Komentar