Melihat Rumah Gadang 21 Ruang Abai
Rumah gadang bergonjong 15 dan 21 ruang di Kenagarian Abai, Kecamatan Sangir Batang Hari, itu tampak merana. Rumah gadang terpanjang di Sumbar, bahkan di dunia, tak terawat. Sejak enam tahun terakhir, kondisi rumah gadang itu kian lapuk dimakan usia. Terancam ambruk. Meski begitu, Pemkab Solsel terkesan cuek.
Untuk menuju rumah gadang itu, butuh sekitar 2 jam perjalanan dari ibu kota Solsel, Padangaro. Jaraknya sekitar 40 km. Sedangkan dari Muarolabuah, berjarak sekitar 72 km.
Panjang rumah gadang ini sekitar 95 meter, berdiri di atas 15 tonggak utama. Ruang tengah yang memanjang menjadi ruang utama dan ada ruang kamar tidur.
Dilihat sepintas, dari depan dan samping kanan rumah gadang Suku Melayu Sigintiu itu, tidak ada yang rusak. Atapnya sudah permanen, dan dinding depannya sudah terbuat dari semen.
Prihatinnya, bagian kiri rumah sudah keropos. Lantainya ada yang roboh, dan pembatas antara ruang yang satu dengan ruang yang lain sudah tidak ada.
Rumah gadang 21 ruang ini dibangun sejak tahun 1972 dan selesai pada 1975. Pembangunannya berdasarkan kerja sama kaum suku (gotong royong). Arsitektur (gaya bangunan) bangunan gonjong 14 dan satu gonjong terletak di gerbang masuk rumah adat itu, sehingga ada 15 gonjong.
“Dulu, rumah gadang 21 ruang ini beratap ijuk, dan tiang-tiangnya memakai pasak kayu, dinding dibuat sulaman bambu,” kata ninik mamak Kenagarian Abai Dt Simajo Lelo ketika ditemui Padang Ekspres di rumah gadang itu beberapa waktu lalu.
Kini, rumah gadang tersebut sudah dimodernisasi. Atap ijuk diganti seng dan dinding dari bambu yang disulam dilapisi semen. Namun, lantainya masih dari papan.
Kata Dt Simajo Lelo, pada saat pembangunan tidak semua ruang kamar tidur yang selesai. Karena kekurangan dana, baru sebagian yang mampu diselesaikan.
Dt Simajo Lelo menceritakan, 15 gonjong rumah gadang itu menyimbolkan ada 14 suku yang bernaung dalam satu rumah adat.
Bagi Suku Melayu Sigintiu, rumah gadang berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan acara adat dan kesenian batombe serta pesta perkawinan.
Selain itu, rumah gadang digunakan kaum adat untuk membicarakan pembangunan dan masalah-masalah kesukuan dan tempat menyemayamkan anggota suku yang meninggal.
Rumah gadang tidak digunakan untuk tempat tinggal keluarga. Akan tetapi, bagi laki-laki yang baru menikah yang belum mampu membuat rumah sendiri, bisa menumpang sementara di rumah gadang itu.
Tungganai Buyung Narun Suku Melayu Sigintiu Abai menambahkan, rumah gadang 21 ruang ini pernah direhabilitasi tahun 2008 lalu. Tapi, pembangunan berhenti di tengah jalan tanpa ada kejelasan. “Jika memang rumah gadang kami sudah menjadi cagar budaya, maka kami minta rehab,” terangnya.
Lapuknya rumah gadang ini membuktikan rendahnya perhatian Pemkab Solsel melestarikan peninggalan budaya. Padahal, Solsel dikenal sebagai daerah 1001 rumah gadang.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Natsuarman didampingi Kabid Kebudayaan Desrial menjelaskan, minimnya dukungan dana menjadi penghambat upaya rehab rumah gadang. “Rumah gadang di Solsel jumlahnya ratusan unit. Makanya, kita mengupayakan penarikan bantuan dana dari kementerian yang membidangi kebudayaan,” kata Desrial.
Desrial memaparkan, di Solsel ada 449 unit rumah gadang. Sebanyak 55 unit dalam kondisi baik, 131 unit rusak ringan, 142 unit rusak sedang, dan 121 rusak berat.
Tersebar di setiap kecamatan di Solsel. Yaitu, 57 unit di Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh, 190 unit di Kecamatan Sungaipagu, 43 unit di Pauhduo, 39 di Kecamatan Sangir, 34 di Kecamatan Sangirjujuan, dan 68 unit di Sangir Batang Hari, dan 18 unit di Kecamatan Sangir Balai Janggo.
Dari ratusan rumah gadang itu, baru 9 unit yang masuk database Badan Pemeliharaan Cagar Budaya (BPCB) di Batusangkar. Yaitu, Rumah Gadang Rajo Batuah Panai Pasir Talang, Rumah Gadang Suku Melayu Buah Anau Koto Baru, Rumah Gadang Bagindo Sutan Besar/Wali Salam.
Kemudian, Rumah Gadang Dt Rj Molie Kampung Dalam Janjang Kambiang Pauh Duo, Rumah Gadang Siti Aminah Rajo Pasimpai Durian Taruang, Rumah Gadang 21 Ruang Abai, Rumah Gadang Rajo Palawan Lubuk Gadang, Rumah Gadang Sikumbang Sampu, dan Rumah Gadang Melayu Kampung Dalam Rantau XII Koto.
Pada 2012, ada rumah gadang yang direhab, yaitu Rumah Gadang Syekh Sampu di Sungai Padi Sangir. Sedangkan pada 2013, ada 13 usulan rehab rumah gadang yang diajukan. Namun, hanya dua unit rumah gadang yang direalisasikan. Yaitu, Rumah Gadang Melayu Koto Kaciak Bariang, dan Rumah Gadang Chaniago Dt Rajo Lelo Sariak Taba Lubuk Gadang. Satu unit lagi dapat bantuan dana hibah. (***)
[ Red/Administrator ]



0 komentar:
Posting Komentar