DPR Tinjau Lokasi, Ekskavator Tetap Beroperasi
Solsel, Padek—Rombongan
Komisi VII DPR RI kaget ketika meninjau lokasi tambang di Solok
Selatan. Para legislator ini tercengang melihat parahnya kerusakan hutan
dan daerah aliran sungai (DAS) Batang Hari akibat pembalakan kayu dan
penambangan liar.
“Ini udah gawat kerusakan hutan dan sungainya. Bila nggak
segera dibenahi, bencana besar bakal melanda Solok Selatan hingga
provinsi tetangga, Jambi,” kata Ketua Komisi VII DPR RI, Sutan
Bathoegana saat meninjau lokasi tambang di DAD Batang Hari, Sungai Penuh
dan Muaro Sangir beserta 15 anggotanya, Kamis (2/5).
Sutan Bathoegana dan rombongan prihatin melihat ratusan lubang besar dan kecil di sepanjang DAS Batang Hari dan kawasan hutan.
Menurut politikus Demokrat itu, seluruh
pertambangan wajib dikosongkan, sebelum wilayah pertambangan rakyat
(WPR) dikeluarkan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam
waktu dekat. Lokasi untuk tambang rakyat harus ditata ulang.
“Bupati, aparat penegak hukum dan tokoh masyarakat harus tegas dalam menuntaskan illegal mining di Solok Selatan,” ujarnya.
Dalam kunjungannya, DPR RI mendapat respons positif dan dukungan masyarakat untuk mendorong penghentian kegiatan illegal mining.
Ketika anggota DPR datang, masyarakat
memarkir kapal lenting di lubang bekas garukan ekskavator. Kapal lenting
adalah simbol pertambangan rakyat, karena hanya mampu memproduksi
maksimal 10 gram emas tiap hari. Itu pun dibagi rata dengan puluhan
anggotanya.
“Kapal keruk dan ekskavator mampu
memproduksi 200 gram emas. Bila ada ratusan ekskavator bekerja,
puluhan kilo emas dikeluarkan dari daerah ini,” ujar salah seorang
masyarakat yang juga pendulang emas bernama Syafril di Muaro Sangir.
Sutan Bathoegana menyampaikan pada
masyarakat agar tidak perlu khawatir, karena dalam waktu dekat WPR akan
dikeluarkan. “Sebelum WPR dikeluarkan, kita berharap warga membantu
kami untuk memberantas illegal mining di kawasan ini,” tegasnya.
Sutan Bathoegana menegaskan ucapannya
bukan sekadar pencitraan demi Pemilu 2014. “Ini bukan iming-iming, tapi
realita. Yang penting, lingkungan tertata kembali, masyarakat pun bisa
sejahtera dengan kekayaan alam yang melimpah ruah ini,” sebutnya.
Saat kunjungan anggota DPR RI itu, masih
ada alat berat yang beroperasi. Mereka seolah tak takut dengan
peringatan keras Kapolda Sumbar dan Bupati Solsel agar kawasan illegal mining segera dikosongkan.
Sutan Bhatoegana menduga pengusaha yang
masih berani menambang karena punya pembeking yang kuat. “Bisa jadi dia
punya bekingan yang kuat sehingga ndak gentar dengan peringatan keras Kapolda,” terangnya kepada Padang Ekspres di lokasi penambangan liar.
“Kita telah buktikan ucapan bupati, dampak
kerusakan lingkungan di daerah ini luar biasa. Bagaikan usai diterjang
tsunami,” kata Sutan.
Rombongan Komisi VII berjanji melaporkan
temuannya ini ke presiden. “Setelah ini, kita akan petakan titik
koordinat WPR. Begitu juga mendata penambang rakyatnya,” paparnya.
“Saya pucat naik perahu timpek, ketika
gelombang air deras mengguncang alat transportasi aliran sungai
bermuatan 15 orang itu. Selain banyak emas, pemandangan di sini sangat
bagus,” ungkapnya dalam dialog singkat dengan Padang Ekspres.
DPR bersama Kementerian ESDM, Kehutanan dan Lingkungan Hidup, akan mengkaji kerusakan lingkungan untuk direklamasi.
Bupati Solsel, Muzni Zakaria berharap Komisi VII DPR serius memperjuangkan WPR.
Masyarakat pendulang tradisional
memproduksi dua buncis emas tiap hari (satu buncis seharga Rp 40 ribu).
Sedangkan kapal lenting, produksinya sekitar 10 gram per hari.
“Pola pikir masyarakat pendulang akan kita
tingkatkan, bagaimana menambang yang baik dan teratur. Serta
dikoordinir dengan baik dan lingkungan direklamasi dengan baik. Ini
sudah disampaikan ke Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup RI,”
bebernya. (mg20)



0 komentar:
Posting Komentar