Pages

Rabu, 15 Mei 2013

Anggaran Pendidikan ‘Habis’ untuk Guru

Padang Ekspres • Selasa, 07/05/2013
Solsel, Padek—Pemerintah Kabu­paten Solok Selatan menganggarkan dana pendidikan sebesar 33,4 persen atau Rp 162 miliar pada APBD. Seba­gian besar anggaran tersebut digu­nakan untuk pembayaran gaji tenaga pengajar.

Kepala Dinas Pendidikan Kabu­paten Solsel Fidel Effendi menye­butkan, anggaran pendidikan tahun ini sangat tinggi, melebihi batas minimum amanat undang-undang. Berdasarkan Pasal 31 UUD 1945, negara mem­prioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN, serta dari APBD untuk meme­nuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

“Dengan anggaran yang cukup besar ini, semoga mutu dan kualitas pendidikan di daerah ini meningkat,” harap Fidel.

Tapi, anggaran 33,4 persen itu bukan untuk pembangunan, rehab, dan pemeliharaan bangunan fisik pendi­dikan. Melainkan kebanyakan untuk biaya gaji guru.

Anggaran pendidikan dari APBD sekitar Rp 162 miliar. Sebanyak Rp 146 miliar untuk pembayaran gaji guru, dan hanya Rp 16 miliar untuk infra­struktur pendidikan.

“Anggaran ini fokus untuk gaji guru, untuk mensejahterakan guru. Hingga kini, jumlah guru di Solsel 2.285 orang. Namun, belum meme­nuhi kuota. Paling tidak, Solsel masih membutuhkan 393 orang lagi untuk semua jenjang pendidikan,” terangnya.

Menurutnya, dana Rp 16 miliar untuk infrastruktur pendidikan, digu­nakan untuk merehabilitasi bangunan sekolah yang rusak dan keperluan lainnya. “Kita telah anggarkan Rp 5,6 miliar untuk merehab sekolah yang rusak di Solsel,” katanya.

Adapun sekolah yang akan direhab tahun ini (2013), adalah rehab Sekolah Menengah Pertama (SMP) Rp 1,2 miliar, SD Rp 4,4 miliar dari Dana Alokasi Khusus (DAK).

Data Dinas Pendidikan Solsel, tidak ada sekolah yang mengalami rusak berat, tapi hanya rusak ringan dan menengah. Faktanya, ada sekolah-sekolah yang rusak parah.

SD rusak ringan dan menengah sebanyak 40 persen. Untuk SMP 30 persen, SMA 35 persen dan SMK 30 persen. “Semua sekolah yang mengala­mi rusak ringan, mendapatkan ban­tuan rehab melalui DAK,” tuturnya.

Kata Kadispen Solsel Fidel Effendi, jumlah sekolah sudah memadai. Ada 192 unit. SD ada 142 unit, SMP ada 36 unit, SMA ada 8 unit, dan SMK ada 6 unit.

Untuk SD masih ada kekurangan 7 unit sekolah. “Kita berharap sekolah yang masih berstatus lokal jauh, men­jadi sekolah sendiri,” katanya.

19 Siswa SD Tak Ikut UN

Sementara UN SD di Solsel yang di­ikuti sebanyak 3.328 peserta berja­lan lan­car, yang diselenggarakan pada 37 se­kolah di tujuh kecamatan di Solok Selatan, terdiri dari 141 SD dan 10 MI (madrasah ibtidiyah). Namun 19 orang siswa SD tidak me­ngikuti UN, diper­kirakan masih dalam ke­adaan sakit atau ada masalah keluarga, ser­ta berhenti sebelum UN. Namun me­reka tetap diberikan kesempatan untuk mengikuti UN susulan bulan depan.

“Anak tidak boleh di DO (drop out), kita telah menginstruksikan masing-masing kepala sekolah memanggil siswanya (menjemput ke rumah) untuk mengikuti ujian nasional susulan. Agar mereka dapat melanjutkan pendidikan kejenjang pendidikan yang lebih ting­gi,”harapnya. (mg20)

0 komentar:

Posting Komentar