Solsel, Padek—Pemerintah
Kabupaten Solok Selatan menganggarkan dana pendidikan sebesar 33,4
persen atau Rp 162 miliar pada APBD. Sebagian besar anggaran tersebut
digunakan untuk pembayaran gaji tenaga pengajar.
Kepala Dinas Pendidikan
Kabupaten Solsel Fidel Effendi menyebutkan, anggaran pendidikan tahun
ini sangat tinggi, melebihi batas minimum amanat undang-undang.
Berdasarkan Pasal 31 UUD 1945, negara memprioritaskan anggaran
pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN, serta dari APBD untuk
memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.
“Dengan anggaran yang cukup besar ini, semoga mutu dan kualitas pendidikan di daerah ini meningkat,” harap Fidel.
Tapi, anggaran 33,4 persen itu
bukan untuk pembangunan, rehab, dan pemeliharaan bangunan fisik
pendidikan. Melainkan kebanyakan untuk biaya gaji guru.
Anggaran pendidikan dari APBD
sekitar Rp 162 miliar. Sebanyak Rp 146 miliar untuk pembayaran gaji
guru, dan hanya Rp 16 miliar untuk infrastruktur pendidikan.
“Anggaran ini fokus untuk gaji
guru, untuk mensejahterakan guru. Hingga kini, jumlah guru di Solsel
2.285 orang. Namun, belum memenuhi kuota. Paling tidak, Solsel masih
membutuhkan 393 orang lagi untuk semua jenjang pendidikan,” terangnya.
Menurutnya, dana Rp 16 miliar
untuk infrastruktur pendidikan, digunakan untuk merehabilitasi bangunan
sekolah yang rusak dan keperluan lainnya. “Kita telah anggarkan Rp 5,6
miliar untuk merehab sekolah yang rusak di Solsel,” katanya.
Adapun sekolah yang akan
direhab tahun ini (2013), adalah rehab Sekolah Menengah Pertama (SMP) Rp
1,2 miliar, SD Rp 4,4 miliar dari Dana Alokasi Khusus (DAK).
Data Dinas Pendidikan Solsel,
tidak ada sekolah yang mengalami rusak berat, tapi hanya rusak ringan
dan menengah. Faktanya, ada sekolah-sekolah yang rusak parah.
SD rusak ringan dan menengah
sebanyak 40 persen. Untuk SMP 30 persen, SMA 35 persen dan SMK 30
persen. “Semua sekolah yang mengalami rusak ringan, mendapatkan
bantuan rehab melalui DAK,” tuturnya.
Kata Kadispen Solsel Fidel
Effendi, jumlah sekolah sudah memadai. Ada 192 unit. SD ada 142 unit,
SMP ada 36 unit, SMA ada 8 unit, dan SMK ada 6 unit.
Untuk SD masih ada kekurangan 7
unit sekolah. “Kita berharap sekolah yang masih berstatus lokal jauh,
menjadi sekolah sendiri,” katanya.
19 Siswa SD Tak Ikut UN
Sementara UN SD di Solsel yang
diikuti sebanyak 3.328 peserta berjalan lancar, yang diselenggarakan
pada 37 sekolah di tujuh kecamatan di Solok Selatan, terdiri dari 141
SD dan 10 MI (madrasah ibtidiyah). Namun 19 orang siswa SD tidak
mengikuti UN, diperkirakan masih dalam keadaan sakit atau ada masalah
keluarga, serta berhenti sebelum UN. Namun mereka tetap diberikan
kesempatan untuk mengikuti UN susulan bulan depan.
“Anak tidak boleh di DO (drop out),
kita telah menginstruksikan masing-masing kepala sekolah memanggil
siswanya (menjemput ke rumah) untuk mengikuti ujian nasional susulan.
Agar mereka dapat melanjutkan pendidikan kejenjang pendidikan yang lebih
tinggi,”harapnya. (mg20)



0 komentar:
Posting Komentar