Nagari
Bidaralam, Kecamatan Sangirjujuan, Kabupaten Solok Selatan (Solsel),
yang dulu mendunia sebagai basis perjuangan mempertahankan kemerdekaan,
kian merana. Pengakuan negara terhadap Pemerintahan Darurat Republik
Indonesia (PDRI) yang dipimpin Mr Syafruddin Prawiranegara pada tahun
1949 itu, belum diikuti dengan pembenahan daerah ibu kota PDRI tersebut.
Bagaimana kondisinya setelah 64 tahun berlalu?
DI pedalaman Solok Selatan
itu, Pemerintahan Darurat RI dijalankan. Melalui stasiun radio PDRI di
Bidaralam, Syafruddin Prawiranegara melakukan kontak dengan New
Delhi, India untuk menunjukkan bahwa Republik Indonesia masih ada.
Setelah 64 tahun berlalu, kondisi bangunan
saksi bisu sejarah itu, memprihatinkan. Tak lagi sehebat
sejarahnya. Tidak terawat. Inilah sekelumit kisah negara yang
penduduknya mengidap amnesia, gampang melupakan sejarah.
Tengok saja rumah gadang milik Jama, yang
dulu menjadi markas ketua PDRI. Sebagian dinding papan rumah gadang
itu, banyak yang copot. Lekang dan lapuk oleh waktu. Rumah Jama kini
ditempati cicitnya, Eva Vismadewi bersama suami dan seorang anaknya.
Rumah tersebut pernah direhab pada tahun
2008, bantuan Menteri Sosial kala itu. Setahu Eva, dana rehabnya lebih
dari Rp 200 juta. Namun entah kenapa, anggaran sebanyak itu hanya bisa
untuk mengganti atap dan ukiran dinding bagian luar. Tak heran, sepintas
markas PDRI tersebut tampak seperti tak ada direnovasi.
”Ndak sampai 50 persen direnovasi. Ikolah modenyo,” kata ibu satu anak itu sambil menunjuk ke arah dinding bagian atas yang ternganga, beberapa waktu lalu.
Menurut Eva, dalam setahun tidak kurang
dari tiga kali rumah PDRI itu dikunjungi. Para pengunjungnya
macam-macam. Ada yang mengaku dari pemerintah pusat, provinsi, dan
kabupaten. Janjinya pun beragam. Ada yang bilang akan membangun
pagarnya, merehab rumahnya, hingga merevitalisasi seluruhnya. Tapi
hingga kini, janji tinggal janji.
“Tak ada bekas peninggalan PDRI dalam
rumah,” kata Eva geleng-geleng kepala. Tempat tidur ketua PDRI pun
kini sudah dipindahkan ke gudang. Kondisinya tak layak pakai. Sudah
patah dan berkarat.
Tokoh masyarakat yang juga mantan Wali
Nagari Bidaralam, Ali Sabri Abbas, menyayangkan tak adanya perhatian
pemerintah terhadap bangunan sejarah PDRI. Padahal setiap Hari
Pahlawan 10 November , HUT RI 17 Agustus, dan momen bersejarah
lainnya, selalu ada yang menyambangi Bidaralam. Melihat-lihat situs
sejarah PDRI.
Kesannya hanya seremonial saja. “Dari
dulu-dulu kondisinya seperti itu-itu juga. Tak ada sentuhan. Biaya
perawatannya tidak ada,” imbuhnya.
Beberapa meter dari depan markas PDRI,
terdapat bangunan yang dulunya Stasiun Radio AURI. Bangunan berlantai
dua itu, kini dijadikan Taman Pendidikan Al Quran (TPA). Setali tiga
uang, kondisinya sama dengan markas PDRI.
Bangunan bekas Stasiun Radio PDRI itu
sangat muram. Tak berpagar, tak ada tanda-tanda istimewa. Begitu pula
Masjid Mr Syafruddin Prawiranegara, pembangunannya terbengkalai.
“Kalau nunggu pemerintah, ya ndak selesai-selesai. Sekarang ini kelanjutan pembangunan masjid mengandalkan partisipasi dari masyarakat,” kata Ali Sabri.
Saat agresi militer Belanda II, PDRI
merupakan kelanjutan pemerintah RI yang berpusat di Yogyakarta. Kala
itu, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditawan
Belanda. Nah, awal tahun 1949, Bidaralam sempat menjadi pusat
konsolidasi kekuatan PDRI yang dipimpin Mr Syafruddin.
Bidaralam tempat terlama yang disinggahi
rombongan Syafruddin, yakni 3,5 bulan. Selama berada di Bidaralam,
masyarakat setempat bahu-membahu memberikan rasa aman kepada
rombongan Syafruddin sedang “menyambung nyawa” Republik ini.
Saat itu, tokoh masyarakat Bidaralam,
Khatib Jamaan (alm), dipercaya sebagai Komandan Kompi Badan
Pengawal Nagari dan Kota atau BPNK. Khatib Jamaan pernah
menceritakan bahwa masyarakat Bidaralam waktu itu, suka cita
menyambut kedatangan rombongan Syafruddin.
Rumah warga disediakan sebagai markas.
BPNK beserta pemuda setempat berjaga malam atau ronda. Mereka juga
bersama-sama mencari bekal seperti beras, sayuran hingga ke Kerinci,
Jambi dan Muaralabuh. “Barang-barang tersebut diangkut dengan kuda
beban, dan sebagian dipikul sendiri,” ungkap Khatib Jamaan kala itu.
Rumah warga menjadi markas ketua PDRI
adalah rumah milik Jama’. Rumah gadang tersebut juga menjadi tempat
sidang kabinet PDRI tahun 1949. Ada pula Surau Bulian yang dijadikan
stasiun radio PHB/AURI, media bagi Syafruddin untuk berkomunikasi
dengan pusat PDRI di Kototinggi, serta anggota-anggota PDRI di Jawa dan
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), untuk menyampaikan radiogram PDRI
hingga ke luar negeri.
Setelah 68 tahun Republik ini merdeka, ibu kota PDRI di Bidaralam, ternyata makin merana. (***)



0 komentar:
Posting Komentar