Pages

Selasa, 18 Desember 2012

Ibu-Anak Digulung Galodo Hantam Solsel, Ribuan Warga Mengungsi


Potongan kayu-kayu besar ikut terseret galodo
Solsel, Padek—Bencana tak henti-hen­tinya mendera Sumbar. Kamis ma­lam (13/12), galodo menghantam ra­tu­san permukiman warga, Keca­matan Koto Parik Gadang Diateh (KPGD), Ka­bupaten Solok Selatan (Solsel). Dua orang dilaporkan hilang ter­seret lumpur tebal bercampur kayu gelondongan, dua rumah ha­nyut dan ribuan jiwa mengungsi ke tempat lebih aman dari amukan air bah setinggi dua meter tersebut.

Dua warga hilang itu Dan­sinan, 70, dan Simis, 35, warga Mang­gih Jorong Sapansalak, Pin­­tikayu, Nagari Pakan Rabaa Ti­mur, KPGD. Saat kejadian pu­kul 23.30, ibu dan anak itu ber­niat menyelamatkan cucu­nya yang tinggal tak jauh dari ru­mah­nya. Baru beberapa me­nit bera­da di rumah, tiba-tiba bangunan ber­ukuran 5x6 me­ter persegi itu di­hantam ga­l­odo. Dansinan dan Si­mis ha­nyut disapu galodo be­serta rumahnya.

Sedangkan cucu yang di­cari, rupanya telah lebih dulu diselamatkan menantunya, Am­ra, 32. “Saya sempat meli­hat Amak hanyut bersama ru­mah. Tapi apa daya, ndak bisa saya tolong,” ujar Amra yang ma­sih terlihat shock.

Dalam waktu bersamaan, ban­­jir bandang juga me­ne­r­jang ratusan permukiman pen­­­duduk di Jorong Su­ngai­pang­­kua, Na­gari Pakan Rabaa Ta­ngah, KPGD. Galodo mem­bawa material lumpur hitam dan kayu gelondongan ber­uku­ran besar menyapu rumah w­ar­ga. Akibat­nya, 75 rumah ru­sak berat dan 100 rumah ru­sak ringan. Warga terpaksa me­ngungsi karena rumah me­reka terendam lum­pur setinggi dua meter.

Pantauan Padang Ekspres, pin­tu, dinding dan kaca jen­dela ru­mah warga umum­nya jebol di­hantam galodo. Per­a­bot ru­mah tangga seperti ba­rang elektronik, kursi, tem­pat ti­dur, terendam lumpur. Tak bisa lagi digunakan. Hingga Ju­mat (14/12) pukul 15.00, war­ga masih kerja keras mem­­bersihkan rumah dari lum­pur. “Rumah saya rusak berat,” ujar Ref, warga Sungaipangku, sam­­bil menunjuk rumahnya yang terendam lumpur.

Satu unit rumah yang dipe­run­­tukkan sebagai tempat per­kumpulan kelompok tani di Su­ngaipangku, juga hanyut diseret galodo.

Hen, 42, warga Sungai­pang­ku, menceritakan, begitu men­dengar dentuman keras dari atas bukit di belakang ru­mahnya, dia langsung mem­bo­yong anak dan istrinya naik ke atas bukit. Lima menit se­telah be­rada di atas bu­kit, Hen meli­hat dengan mata ke­palanya sen­­­diri galodo me­nerjang ka­wa­­san Sungaipangku. Ga­lodo da­­tang dua tahap. Tahap per­ta­­ma, den­tumannya tidak ter­lalu ke­ras. Kemudian hening se­­jenak. Lalu datang galodo ke­dua de­ngan dentuman keras me­­libas per­mukiman bak tsunami.

“Hanya beberapa helai pa­kaian kami bawa. Nyawa harus di­selamatkan terlebih dulu, har­ta benda soal belakangan,” ce­­rita Hen sembari me­nga­ta­kan satu jem­batan dekat ru­mah­nya am­bruk dan tidak da­pat diper­gu­nakan lagi. Ra­tu­san hektare sa­wah, rata de­ngan lumpur.

Data yang dihimpun dari Kan­tor Wali Nagari Pakan Ra­baa Timur, di Manggih Jo­rong Sa­pansalak, satu rumah hi­lang, lima rumah rusak pa­rah, dan 10 rumah  rusak ringan. Galodo juga merusak areal per­sawahan masyarakat di Mang­gih, Muaro, dan Ngalau In­dah. Sekitar 75 hektare sa­wah dinyatakan rusak parah, dan 50 hektar lagi rusak ri­ngan. Sebanyak 8 ekor kam­bing warga hanyut

Wali Nagari Pakan Rabaa Ti­mur, Rusdi Katik Marajo me­ngungkapkan, Rusdi me­n­si­nyalir galodo terjadi akibat ak­tivitas pembalakan hutan sejak 10 tahun lalu. “Dulu, di sini cukup marak penebangan ka­yu. Tidak sedikit kayu yang ke­luar dari  sini menjadi komo­di­ti ekspor. Saya mem­per­ki­ra­kan kayu yang keluar dari si­ni mencapai 500 kubik per hari. Aki­bat ulah 10 tahun lalu, se­ka­rang kami yang menang­gung bencananya,” kata Rusdi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solsel mencatat, selain rumah rusak di Sungaipangku, galodo juga menyebabkan satu masjid rusak. Kepala BPBD Solsel, Hamudis memperkirakan, kerugian akibat galodo di Sungaipangku mencapai Rp 500 juta. Angka itu belum ter­masuk kerugian perabotan rumah masyarakat yang rusak.

Korban galodo telah diban­tu nasi bungkus, selimut, tikar dan makanan siap saji. Polisi dan TNI terlibat langsung da­lam masa tanggap darurat mem­bantu masyarakat me­nying­kirkan material galodo. Dua nagari yang dihantam galodo itu terletak di tepi bukit.

Bupati Solok Selatan Muz­ni Zakaria usai meninjau dua lo­­kasi bencana mengatakan, ga­­lodo terjadi akibat curah hu­jan tinggi dan berlangsung la­ma sehingga Sungai Pang­kuah tak mampu menampung de­bit air. Selain itu, daerah ali­ran su­ngai juga telah gundul akibat pe­nebangan.

Kepala Pusat Pengendalian Ope­rasi Badan Pe­nang­gula­ngan Bencana Dae­rah (BPBD) Sum­bar, Ade Edward me­nye­bu­t­kan, ini galodo ke­dua di Sol­s­el setelah tahun 1992. Pada 20 tahun lalu, galodo lebih be­sar pernah terjadi di Jorong Su­ngaipangku, Pakan Rabaa, serta Jorong Pinti Kayu dan Jo­­rong Sapan Salak, Kana­garian Pakan Rabaa Timur, Kecamatan KPGD.

Setelah mengamati material yang dibawa air bah, Ade men­duga bencana ini akibat keru­sa­kan hutan di hulu su­ngai. Ma­teri­al itu menum­puk di hulu su­ngai, dan baru ke­marin ter­bawa arus air yang besar. (sih)

0 komentar:

Posting Komentar