Solsel, Padek—Bencana tak henti-hentinya mendera Sumbar. Kamis malam (13/12), galodo
menghantam ratusan permukiman warga, Kecamatan Koto Parik Gadang
Diateh (KPGD), Kabupaten Solok Selatan (Solsel). Dua orang dilaporkan
hilang terseret lumpur tebal bercampur kayu gelondongan, dua rumah
hanyut dan ribuan jiwa mengungsi ke tempat lebih aman dari amukan air
bah setinggi dua meter tersebut.
Dua warga hilang itu Dansinan, 70, dan
Simis, 35, warga Manggih Jorong Sapansalak, Pintikayu, Nagari Pakan
Rabaa Timur, KPGD. Saat kejadian pukul 23.30, ibu dan anak itu
berniat menyelamatkan cucunya yang tinggal tak jauh dari rumahnya.
Baru beberapa menit berada di rumah, tiba-tiba bangunan berukuran 5x6
meter persegi itu dihantam galodo. Dansinan dan Simis hanyut disapu galodo beserta rumahnya.
Sedangkan cucu yang dicari, rupanya
telah lebih dulu diselamatkan menantunya, Amra, 32. “Saya sempat
melihat Amak hanyut bersama rumah. Tapi apa daya, ndak bisa saya tolong,” ujar Amra yang masih terlihat shock.
Dalam waktu bersamaan, banjir bandang
juga menerjang ratusan permukiman penduduk di Jorong
Sungaipangkua, Nagari Pakan Rabaa Tangah, KPGD. Galodo
membawa material lumpur hitam dan kayu gelondongan berukuran besar
menyapu rumah warga. Akibatnya, 75 rumah rusak berat dan 100 rumah
rusak ringan. Warga terpaksa mengungsi karena rumah mereka terendam
lumpur setinggi dua meter.
Pantauan Padang Ekspres, pintu, dinding dan kaca jendela rumah warga umumnya jebol dihantam galodo.
Perabot rumah tangga seperti barang elektronik, kursi, tempat
tidur, terendam lumpur. Tak bisa lagi digunakan. Hingga Jumat (14/12)
pukul 15.00, warga masih kerja keras membersihkan rumah dari lumpur.
“Rumah saya rusak berat,” ujar Ref, warga Sungaipangku, sambil
menunjuk rumahnya yang terendam lumpur.
Satu unit rumah yang diperuntukkan sebagai tempat perkumpulan kelompok tani di Sungaipangku, juga hanyut diseret galodo.
Hen, 42, warga Sungaipangku,
menceritakan, begitu mendengar dentuman keras dari atas bukit di
belakang rumahnya, dia langsung memboyong anak dan istrinya naik ke
atas bukit. Lima menit setelah berada di atas bukit, Hen melihat
dengan mata kepalanya sendiri galodo menerjang kawasan Sungaipangku. Galodo datang dua tahap. Tahap pertama, dentumannya tidak terlalu keras. Kemudian hening sejenak. Lalu datang galodo kedua dengan dentuman keras melibas permukiman bak tsunami.
“Hanya beberapa helai pakaian kami
bawa. Nyawa harus diselamatkan terlebih dulu, harta benda soal
belakangan,” cerita Hen sembari mengatakan satu jembatan dekat
rumahnya ambruk dan tidak dapat dipergunakan lagi. Ratusan
hektare sawah, rata dengan lumpur.
Data yang dihimpun dari Kantor Wali
Nagari Pakan Rabaa Timur, di Manggih Jorong Sapansalak, satu rumah
hilang, lima rumah rusak parah, dan 10 rumah rusak ringan. Galodo
juga merusak areal persawahan masyarakat di Manggih, Muaro, dan
Ngalau Indah. Sekitar 75 hektare sawah dinyatakan rusak parah, dan 50
hektar lagi rusak ringan. Sebanyak 8 ekor kambing warga hanyut.
Wali Nagari Pakan Rabaa Timur, Rusdi Katik Marajo mengungkapkan, Rusdi mensinyalir galodo terjadi
akibat aktivitas pembalakan hutan sejak 10 tahun lalu. “Dulu, di sini
cukup marak penebangan kayu. Tidak sedikit kayu yang keluar dari sini
menjadi komoditi ekspor. Saya memperkirakan kayu yang keluar dari
sini mencapai 500 kubik per hari. Akibat ulah 10 tahun lalu,
sekarang kami yang menanggung bencananya,” kata Rusdi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solsel mencatat, selain rumah rusak di Sungaipangku, galodo juga menyebabkan satu masjid rusak. Kepala BPBD Solsel, Hamudis memperkirakan, kerugian akibat galodo di Sungaipangku mencapai Rp 500 juta. Angka itu belum termasuk kerugian perabotan rumah masyarakat yang rusak.
Korban galodo telah dibantu nasi
bungkus, selimut, tikar dan makanan siap saji. Polisi dan TNI terlibat
langsung dalam masa tanggap darurat membantu masyarakat
menyingkirkan material galodo. Dua nagari yang dihantam galodo itu terletak di tepi bukit.
Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria usai meninjau dua lokasi bencana mengatakan, galodo
terjadi akibat curah hujan tinggi dan berlangsung lama sehingga
Sungai Pangkuah tak mampu menampung debit air. Selain itu, daerah
aliran sungai juga telah gundul akibat penebangan.
Kepala Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, Ade Edward menyebutkan, ini galodo kedua di Solsel setelah tahun 1992. Pada 20 tahun lalu, galodo
lebih besar pernah terjadi di Jorong Sungaipangku, Pakan Rabaa, serta
Jorong Pinti Kayu dan Jorong Sapan Salak, Kanagarian Pakan Rabaa
Timur, Kecamatan KPGD.
Setelah mengamati material yang dibawa
air bah, Ade menduga bencana ini akibat kerusakan hutan di hulu
sungai. Material itu menumpuk di hulu sungai, dan baru kemarin
terbawa arus air yang besar. (sih)



0 komentar:
Posting Komentar