Zulfadli — Maryetti, pengelola
tempat praktik keterampilan usaha (TPKU) Pondok Pesantren Al Manaar di
Akabiluru, Kabupaten Limapuluh Kota, bangga bercampur haru kala didaulat
menjadi pembicara di hadapan pengelola TPKU se-Sumatra, di Hotel The
Hills Bukittinggi akhir Mei lalu.
Betapa tidak, Maryetti dan kawan-kawan
TPKU yang dia kelola belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan,
namun dianggap sukses oleh Kementerian Koperasi dan UKM. Dia harus
bercerita kisah sukses dia dan rekannya mengelola TPKU. Berarti tidak
sia-sia mereka memperjuangkan TPKU yang diselenggarakan Pondok Pesantren
(pontren) Al Manaar sejak 2009.
Selama ekspos tersebut, Maryetti hanya mengungkapkan apa saja yang dilakukan sejak menerima bantuan TPKU dari kementerian. Dia buka rahasia seputar bagaimana mempertahankan tempat praktik keterampilan usaha di Al Manaar setelah dana bantuan dari kementerian terserap buat pembangunan gedung TPKU, pelatihan instruktur dan pembelajaran siswa.
Saat ini, TPKU dimanfatkan untuk tempat belajar keterampilan bagi santri. Pimpinan pontren yang telah ada sejak 1943, memutuskan pelajaran keterampilan jahit ini sebagai pelajaran muatan lokal.
“Alhamdulillah, kita tetap bisa memberdayakan sarana dan prasarana TPKU di pontren ini,” ujar Maryetti pada Singgalang, Senin (17/6).
Tak hanya itu, kehadiran TPKU bermanfaat sekali bagi pontren tersebut. Pengadaan baju seragam, hingga pakaian olahraga bagi 180 santri di sana bisa ditangani TPKU, sehingga keuntungan dari pengadaan itu bisa dimanfaatkan bagi kegiatan pontren lainnya.
TPKU pun bermanfaat bagi perekonomian pontren. Misalnya, gaji guru honor di Al Manaar terbantu oleh kegiatan ekonomi yang dilaksanakan.
Sukses dalam pengadaan seragam santri membuat Kemenag Limapuluh Kota mulai meliriknya sebagai pembuat seragam olahraga bagi pegawai kantor itu dalam rangka menghadapi Hari Amal Bakti Kemenag awal 2013.
“Kami bersyukur itu bisa kami tangani dengan baik. Alhamdulillah, dari pembicaraan sejauh ini, Kemenag masih mau menggandeng kami buat pengadaan seragam olahraga itudi 2014 nanti,” ungkap Maryetti.
Pada acara temu pengelola se-Sumatra TPKUyang dilaksanakan kementerian koperasi dan UKM di Hotel The Hills Bukittinggi itu, TPKU Al Manaar juga mendapat tawaran dari TPKU di Palembang dan Jambi untuk pengadaan seragam mereka. Pengelola TPKU di Bangkinang, juga kerap menghubungi Maryetti.
Katanya, mereka bertanya tentang pengadaan mesin, bahan dan hal-hal lainnya tentang pengelolaan 9 unit mesin konveksi olahraga yang dibantu kementerian dan tujuh unit mesin jahit standar yang dibeli pontren itu.
Dalam acara gelar produk TPKU yang dilaksanakan di Makassar pada 19 Juni 2013, kementerian mengundang Al Manaar. TPKU itu satu-satunya wakil Sumbar yang diundang ke acara tersebut.
Menurut Maryetti, sukses dia mengelola TPKU tak lepas dari dukungan penuh Koperasi Pontren Al Manaar. Mereka beroperasi di bawah payung koperasi pontren. Koperasi yang mengelola ketika ada orderan berjumlah besar.
Dana dari koperasi dan uang muka dari pengorder itulah yang digunakan untuk pembeli bahan dan pembayar upah untuk usaha konveksi masyarakat yang digandeng dalam pengerjaan order dimaksud.
Selain itu, siswa yang sudah mahir menjahit bisa ikut pula mengerjakan orderan. Syaratnya tidak mengang gu pelajaran mereka. Dengan demikian, siswa kian bersemangat belajar menjahit.
Diakui Maryetti belum ada siswanya yang berusaha mandiri. Mereka umumnya diserap konveksi atau usaha jahit yang banyak tersebar di Payakumbuh, Bukittinggi dan daerah lainnya. Meski mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, kemahiran menjahit bisa mereka gunakan pula untuk penambah uang kuliah.
“Itu saja sudah membanggakan kami. Apalagi jika nantinya mereka bisa membuka usaha sendiri yang mempekerjakan alumni Al Manaar,” tegas Maryetti.
Pontren Iqra, di Tarusan Pesisir Selatan. Setelah dapat TPKU pada 2010 berupa 20 mesin jahit dan satu mesin obras senilai Rp100 juta. Dapat lagi bantuan Rp120 juta dari Kemenag. Peralatan TPKU Iqra bertambah 25 mesin jahit dan 1 mesin obras.
“Sebanyak 20 siswa kami dapat pelatihan pula dari Singer Padang. Sepuluh diantaranya sudah tamat dan mereka bekerja di berbagai usaha jahit dan sulaman di Pessel dan Padang,” ujar Oky Hardiyansah, Manajer TPKU Pontren Iqra.
Pontren Diniyyah Pasia Agam yang punya TPKU di bidang konveksi dan sulaman telah bisa menggaji empat pelatihnya dari usaha TPKU. Selain bisa memenuhi kebutuhan pontren, TPKU menjalin kerjasama dengan konvek si di sekitar lokasi mereka.
Hingga mereka saling menopang satu sama lainnya. Masyarakat atau pengusaha konveksi bisa memanfaatkan pemesinan di TPKU lewat sistem kerjasama yang saling menguntungkan.
Seperti tak mau kalah, MTI Paninggahan Solok, sebagai TPKU bungsu di Sumbar sudah dapat sinyal positif dari Kemenag Kabupaten Solok.
Pengelolanya, Murni K, yang baru menerima program ini pada 2012 telah diminta kesiapannya guna memenuhi orderan pakaian seragam untuk HAB 2014.
Lain pula kisah sukses. TPKU Pontren Ar Risalah di Aie Dingin Padang, mereka bisa melayani kebutuhan roti, serabi dan penganan lainnya bagi santri dan penghuni pontren itu yang sekitar 1.000 jiwa.
Mereka bisa membukukan pendapatan Rp1 juta per hari dan akan bertambah jika banyak kegiatan di Arrisalah.
“Pendapatan kami akan bertambah jika ada acara-acara di sekolah,” ujar Erna Tri Kusuma, Ketua Koperasi Ar-Risalah saat temu TPKU Sumbar di Aula Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar beberapa waktu lalu.
Erna mengungkapkan bagaimana pihak yayasan dan sekolah menyokong kegiatan TPKU ini.
Dukungan itu tak terlepas dari produk roti dan serabi TPKU dijamin halal, enak, sehat dan alami. Sehingga dari 7 bulan terakhir bila dira-rata ada Rp2 juta per bulan. Malah Januari lalu, mereka bisa menghasilkan Rp13 juta.
Hasil menggembirakan dari program tempat praktik keterampilan usaha (TPKU) yang dilaksanakan kementerian pada pondok pesantren (pontren) dan lembaga pendidikan perdesaan lainnya di Sumbar disambut gembira Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar, Achmad Charisma.
“Perkembangan ini amat menggembirakan. Artinya pontren atau lembaga pendidikan pedesaan yang dijadikan TPKU bisa menjadi tempat mendidik dan melatih wirausahawan baru,” ujar Achmad.
Achmad yang didampingi Kabid Pemberdayaan Usaha Koperasi, Erman, gembira terhadap ekspose potensi TPKU di Sumbar tersebut. Umumnya TPKU itu telah mampu memenuhi kebutuhan santri di pontren di mana TPKU itu berada. Ada yang bisa memenuhi permintaan seragam harian, ada pula yang menjadi mitra Kemenag di daerah mereka.
Peran pengurus yayasan, pemimpin pontren dan koperasi yang menaungi TPKU sangat strategis. Sikap positif mereka berkontribusi banyak terhadap pengembangan TPKU. Di Arrisalah, acara-acara yang dilaksanakan sekolah atau yayasan selalu memanfaatkan TPKU.
Menurut Achmad, perkem bangan bagus ini bermanfaat bagi para santri. Mereka tidak hanya mengandalkan jalan dakwah yang harus dilakoni setelah tamat belajar di pesantren. Mereka bisa menempuh jalan niaga untuk menopang kegiatan dakwah mereka. Atau tetap di jalur wirausaha bagi yang kurang mempunyai kemampuan berdakwah.
Dengan mempersiapkan para santri atau siswa di lembaga pendidikan perdesaan ini, kata Achmad, kementerian ingin mempersiapkan calon wirausaha baru sejak dini. Siswa di lembaga pendidikan menengah disuntikkan virus wirausaha agar mereka tidak hanya mengandalkan cari kerja setamat belajar.
Apa yang dikatakan Achmad sangat beralasan. Sebab harus dicari cara agar tingkat pengangguran terbuka di Indonesia umumnya dan di Sumbar khususnya bisa diku rangi dari waktu ke waktu.
Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia menurut data BPS pada 2011 adalah 8.319.779 orang. Mereka itu dikelompokkan atas pernah bekerja 2.106.542 dan tak pernah bekerja 5.213. 237.
Sementara di Sumbar pengangguran terbuka berjumlah 152.586 orang. Dari jumlah itu persentase pengangguran terbanyak disumbangkan oleh tamatan SMTA 10,98 persen dan SMK 9,59 persen. Kemudian disusul lulusan perguruan tinggi 7,75 persen dan SMP 7,22 persen.
Dengan komposisi seperti itu menggambarkan bahwa pendidikan formal belumlah memberikan jaminan bagi seseorang untuk diterima di dunia kerja. Sebabnya, pendidikan formal cenderung menempa siswanya dengan ilmu pengetahuan, bukan dengan keterampilan praktis.
Oleh karena itu, perlu diupayakan program yang bisa mempersiapkan siswa di tingkat pendidikan menengah bisa bekerja. Minimal dengan keterampilan yang dia punyai, dia bisa menjadikannya sebagai penopang hidup. Bahkan bukan tak mungkin mereka membuka lapangan kerja bagi yang lainnya.
Hal inilah yang dituju oleh Kementerian Koperasi dan UKM ketika menggelindingkan program TPKU ini sejak 2006. Ternyata pada banyak tempat di Indonesia, TPKU tumbuh subur. Mereka tidak hanya memberdayakan santri, namun juga usaha masyarakat di sekitarnya.
Bayangkan sejak 2006 sudah lebih dari 26 TPKU di Sumbar, dan 1.209 se-Indonesia. Jika masing-masing TPKU bisa mendidik 10 siswa, berarti sudah ada 260 calon wirausaha baru di Sumbar dan 12.090 di Indonesia.
Kalaupun sebagian mereka melanjutkan ke perguruan tinggi, nantinya mereka akan dihadapkan lagi pada program kewirausahaan nasional yang digagas kementerian.
Kini sudah banyak mahasiswa yang buka usaha. Lewat modal sendiri atau patungan dengan rekannya. Mereka potensial direkrut dalam program kewirausahaan nasional.
Bahkan setelah dapat gelar sarjana pun mereka juga bisa ditarik menjadi sarjana wirausaha. Dengan cara ini, kian banyak calon wirausaha baru yang berpotensi membuka lapangan kerja baik bagi dirinya sendiri, keluarga atau masyarakat luas. (*)
Selama ekspos tersebut, Maryetti hanya mengungkapkan apa saja yang dilakukan sejak menerima bantuan TPKU dari kementerian. Dia buka rahasia seputar bagaimana mempertahankan tempat praktik keterampilan usaha di Al Manaar setelah dana bantuan dari kementerian terserap buat pembangunan gedung TPKU, pelatihan instruktur dan pembelajaran siswa.
Saat ini, TPKU dimanfatkan untuk tempat belajar keterampilan bagi santri. Pimpinan pontren yang telah ada sejak 1943, memutuskan pelajaran keterampilan jahit ini sebagai pelajaran muatan lokal.
“Alhamdulillah, kita tetap bisa memberdayakan sarana dan prasarana TPKU di pontren ini,” ujar Maryetti pada Singgalang, Senin (17/6).
Tak hanya itu, kehadiran TPKU bermanfaat sekali bagi pontren tersebut. Pengadaan baju seragam, hingga pakaian olahraga bagi 180 santri di sana bisa ditangani TPKU, sehingga keuntungan dari pengadaan itu bisa dimanfaatkan bagi kegiatan pontren lainnya.
TPKU pun bermanfaat bagi perekonomian pontren. Misalnya, gaji guru honor di Al Manaar terbantu oleh kegiatan ekonomi yang dilaksanakan.
Sukses dalam pengadaan seragam santri membuat Kemenag Limapuluh Kota mulai meliriknya sebagai pembuat seragam olahraga bagi pegawai kantor itu dalam rangka menghadapi Hari Amal Bakti Kemenag awal 2013.
“Kami bersyukur itu bisa kami tangani dengan baik. Alhamdulillah, dari pembicaraan sejauh ini, Kemenag masih mau menggandeng kami buat pengadaan seragam olahraga itudi 2014 nanti,” ungkap Maryetti.
Pada acara temu pengelola se-Sumatra TPKUyang dilaksanakan kementerian koperasi dan UKM di Hotel The Hills Bukittinggi itu, TPKU Al Manaar juga mendapat tawaran dari TPKU di Palembang dan Jambi untuk pengadaan seragam mereka. Pengelola TPKU di Bangkinang, juga kerap menghubungi Maryetti.
Katanya, mereka bertanya tentang pengadaan mesin, bahan dan hal-hal lainnya tentang pengelolaan 9 unit mesin konveksi olahraga yang dibantu kementerian dan tujuh unit mesin jahit standar yang dibeli pontren itu.
Dalam acara gelar produk TPKU yang dilaksanakan di Makassar pada 19 Juni 2013, kementerian mengundang Al Manaar. TPKU itu satu-satunya wakil Sumbar yang diundang ke acara tersebut.
Menurut Maryetti, sukses dia mengelola TPKU tak lepas dari dukungan penuh Koperasi Pontren Al Manaar. Mereka beroperasi di bawah payung koperasi pontren. Koperasi yang mengelola ketika ada orderan berjumlah besar.
Dana dari koperasi dan uang muka dari pengorder itulah yang digunakan untuk pembeli bahan dan pembayar upah untuk usaha konveksi masyarakat yang digandeng dalam pengerjaan order dimaksud.
Selain itu, siswa yang sudah mahir menjahit bisa ikut pula mengerjakan orderan. Syaratnya tidak mengang gu pelajaran mereka. Dengan demikian, siswa kian bersemangat belajar menjahit.
Diakui Maryetti belum ada siswanya yang berusaha mandiri. Mereka umumnya diserap konveksi atau usaha jahit yang banyak tersebar di Payakumbuh, Bukittinggi dan daerah lainnya. Meski mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, kemahiran menjahit bisa mereka gunakan pula untuk penambah uang kuliah.
“Itu saja sudah membanggakan kami. Apalagi jika nantinya mereka bisa membuka usaha sendiri yang mempekerjakan alumni Al Manaar,” tegas Maryetti.
Pontren Iqra, di Tarusan Pesisir Selatan. Setelah dapat TPKU pada 2010 berupa 20 mesin jahit dan satu mesin obras senilai Rp100 juta. Dapat lagi bantuan Rp120 juta dari Kemenag. Peralatan TPKU Iqra bertambah 25 mesin jahit dan 1 mesin obras.
“Sebanyak 20 siswa kami dapat pelatihan pula dari Singer Padang. Sepuluh diantaranya sudah tamat dan mereka bekerja di berbagai usaha jahit dan sulaman di Pessel dan Padang,” ujar Oky Hardiyansah, Manajer TPKU Pontren Iqra.
Pontren Diniyyah Pasia Agam yang punya TPKU di bidang konveksi dan sulaman telah bisa menggaji empat pelatihnya dari usaha TPKU. Selain bisa memenuhi kebutuhan pontren, TPKU menjalin kerjasama dengan konvek si di sekitar lokasi mereka.
Hingga mereka saling menopang satu sama lainnya. Masyarakat atau pengusaha konveksi bisa memanfaatkan pemesinan di TPKU lewat sistem kerjasama yang saling menguntungkan.
Seperti tak mau kalah, MTI Paninggahan Solok, sebagai TPKU bungsu di Sumbar sudah dapat sinyal positif dari Kemenag Kabupaten Solok.
Pengelolanya, Murni K, yang baru menerima program ini pada 2012 telah diminta kesiapannya guna memenuhi orderan pakaian seragam untuk HAB 2014.
Lain pula kisah sukses. TPKU Pontren Ar Risalah di Aie Dingin Padang, mereka bisa melayani kebutuhan roti, serabi dan penganan lainnya bagi santri dan penghuni pontren itu yang sekitar 1.000 jiwa.
Mereka bisa membukukan pendapatan Rp1 juta per hari dan akan bertambah jika banyak kegiatan di Arrisalah.
“Pendapatan kami akan bertambah jika ada acara-acara di sekolah,” ujar Erna Tri Kusuma, Ketua Koperasi Ar-Risalah saat temu TPKU Sumbar di Aula Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar beberapa waktu lalu.
Erna mengungkapkan bagaimana pihak yayasan dan sekolah menyokong kegiatan TPKU ini.
Dukungan itu tak terlepas dari produk roti dan serabi TPKU dijamin halal, enak, sehat dan alami. Sehingga dari 7 bulan terakhir bila dira-rata ada Rp2 juta per bulan. Malah Januari lalu, mereka bisa menghasilkan Rp13 juta.
Hasil menggembirakan dari program tempat praktik keterampilan usaha (TPKU) yang dilaksanakan kementerian pada pondok pesantren (pontren) dan lembaga pendidikan perdesaan lainnya di Sumbar disambut gembira Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar, Achmad Charisma.
“Perkembangan ini amat menggembirakan. Artinya pontren atau lembaga pendidikan pedesaan yang dijadikan TPKU bisa menjadi tempat mendidik dan melatih wirausahawan baru,” ujar Achmad.
Achmad yang didampingi Kabid Pemberdayaan Usaha Koperasi, Erman, gembira terhadap ekspose potensi TPKU di Sumbar tersebut. Umumnya TPKU itu telah mampu memenuhi kebutuhan santri di pontren di mana TPKU itu berada. Ada yang bisa memenuhi permintaan seragam harian, ada pula yang menjadi mitra Kemenag di daerah mereka.
Peran pengurus yayasan, pemimpin pontren dan koperasi yang menaungi TPKU sangat strategis. Sikap positif mereka berkontribusi banyak terhadap pengembangan TPKU. Di Arrisalah, acara-acara yang dilaksanakan sekolah atau yayasan selalu memanfaatkan TPKU.
Menurut Achmad, perkem bangan bagus ini bermanfaat bagi para santri. Mereka tidak hanya mengandalkan jalan dakwah yang harus dilakoni setelah tamat belajar di pesantren. Mereka bisa menempuh jalan niaga untuk menopang kegiatan dakwah mereka. Atau tetap di jalur wirausaha bagi yang kurang mempunyai kemampuan berdakwah.
Dengan mempersiapkan para santri atau siswa di lembaga pendidikan perdesaan ini, kata Achmad, kementerian ingin mempersiapkan calon wirausaha baru sejak dini. Siswa di lembaga pendidikan menengah disuntikkan virus wirausaha agar mereka tidak hanya mengandalkan cari kerja setamat belajar.
Apa yang dikatakan Achmad sangat beralasan. Sebab harus dicari cara agar tingkat pengangguran terbuka di Indonesia umumnya dan di Sumbar khususnya bisa diku rangi dari waktu ke waktu.
Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia menurut data BPS pada 2011 adalah 8.319.779 orang. Mereka itu dikelompokkan atas pernah bekerja 2.106.542 dan tak pernah bekerja 5.213. 237.
Sementara di Sumbar pengangguran terbuka berjumlah 152.586 orang. Dari jumlah itu persentase pengangguran terbanyak disumbangkan oleh tamatan SMTA 10,98 persen dan SMK 9,59 persen. Kemudian disusul lulusan perguruan tinggi 7,75 persen dan SMP 7,22 persen.
Dengan komposisi seperti itu menggambarkan bahwa pendidikan formal belumlah memberikan jaminan bagi seseorang untuk diterima di dunia kerja. Sebabnya, pendidikan formal cenderung menempa siswanya dengan ilmu pengetahuan, bukan dengan keterampilan praktis.
Oleh karena itu, perlu diupayakan program yang bisa mempersiapkan siswa di tingkat pendidikan menengah bisa bekerja. Minimal dengan keterampilan yang dia punyai, dia bisa menjadikannya sebagai penopang hidup. Bahkan bukan tak mungkin mereka membuka lapangan kerja bagi yang lainnya.
Hal inilah yang dituju oleh Kementerian Koperasi dan UKM ketika menggelindingkan program TPKU ini sejak 2006. Ternyata pada banyak tempat di Indonesia, TPKU tumbuh subur. Mereka tidak hanya memberdayakan santri, namun juga usaha masyarakat di sekitarnya.
Bayangkan sejak 2006 sudah lebih dari 26 TPKU di Sumbar, dan 1.209 se-Indonesia. Jika masing-masing TPKU bisa mendidik 10 siswa, berarti sudah ada 260 calon wirausaha baru di Sumbar dan 12.090 di Indonesia.
Kalaupun sebagian mereka melanjutkan ke perguruan tinggi, nantinya mereka akan dihadapkan lagi pada program kewirausahaan nasional yang digagas kementerian.
Kini sudah banyak mahasiswa yang buka usaha. Lewat modal sendiri atau patungan dengan rekannya. Mereka potensial direkrut dalam program kewirausahaan nasional.
Bahkan setelah dapat gelar sarjana pun mereka juga bisa ditarik menjadi sarjana wirausaha. Dengan cara ini, kian banyak calon wirausaha baru yang berpotensi membuka lapangan kerja baik bagi dirinya sendiri, keluarga atau masyarakat luas. (*)



0 komentar:
Posting Komentar