Solsel, Padek —Puluhan
hektare sawah di Solok Selatan gagal panen, akibat serangan hama
keong, tikus, kelangkaan pupuk, faktor irigasi dan dampak cuaca ektrem
di daerah penghasil beras itu. Dinas Pertanian Solsel dinilai petani,
gagal mempertahankan swasembada pengan beras surplus di Solok
Selatan.
Pantauan Padang Ekspres di
lapangan, dari 9.540 hektare lahan pertanian padi sawah di Bumi
Sarantau Sasurambi, diperkirakan 95 hektare gagal panen. Ini menyebabkan
pasokan beras 2013 bakal berkurang. Dinas Pertanian pun belum
merespons ancaman ini.
Yakni di Kecamatan Sangir,
Sangir Jujuan, KPGD, Pauh Duo, Sungaipagu dan lainnya. “Petani mulai
rugi, hasil panen padi sawah berkurang. Dinas Pertanian cuek-cuek
saja,” ungkap salah seorang penyuluh pertanian yang namanya tidak mau
disebutkan, Minggu (30/6) di Padangaro.
Ernita, 39, petani Sungaipagu menyebutkan sejak awal penanaman padi, hama keong terus menyerang sawahnya.
Saat padi menguning tikus pun merusak, sebelum memanen padi rebah dan buahnya beterbangan akibat angin badai bulan lalu.
“Petani mengeluh tahun ini
gagal panen. Biasanya saya panen padi permusim 4 ton, tapi kini hanya
2,5 ton. Bila dampak tersebut terus terjadi, Solsel bakal kurang pasokan
beras,” jelasnya.
Ketua Kelompok Tani Sangir,
Safli Hendri mengaku kecewa terhadap Dinas Pertanian Solok Selatan,
karena tak merespons keluhan masyarakat tani di daerah itu. Petani
mengeluh, puluhan hektare sawah gagal panen sejak Januari 2013.
“Kita kecewa dengan dinas
pertanian yang kurang memperhatikan petani, tanpa ada petani lumbung
padi Solsel bakal kosong,” katanya.
Biasanya dalam satu hektare,
petani bisa menghasilkan 2 hingga 3 ton panen padi sawah. Namun sejak
Januari 2013, mereka hanya memanen sekitar 1 ton padi. Akibat faktor
irigasi yang tidak diperbaiki, kelangkaan pupuk, serangan hama tikus,
hama keong dan pengaruh angin badai atau cuaca ektrem di Solsel.
Safli mengatakan, Solsel yang sudah menjadi lumbung padi di tingkat nasional, akan terancam kehilangan beras.
Terpisah, Kepala Dinas
Pertanian Solsel, Yul Amri menjelaskan soal ancaman hama keong
sebaiknya petani mengeringkan sawah usai ditanam. Pihaknya dalam hal
ini, berjanji akan meningkatkan keterampilan bercocok tani yang baik.
Diakuinya, Dinas Pertanian
sebelum mencanangkan program burung hantu untuk mengusir tikus, tapi
karena keterbatasan anggaran dana program itu gagal. Untuk
mengantisipasi tikus, diharapkan petani berburu tikus pihak dinas pun
telah menyediakan racun untuk membunuh hama tersebut.
Kata Yul Amri, dari 34 saluran
irigasi yang rusak, sekitar 10 saluran irigasi bakal diperbaiki yakni
seluas 1.700 hektare dengan anggaran dana APBD Solsel 2013 Rp1,7
miliar.
Yul menjelaskan, pasokan pupuk
memang tidak sebanding dengan kebutuhan petani, apalagi petani mandiri
atau petani yang tidak tergabung dalam kelompok tani.(*)



0 komentar:
Posting Komentar