Pages

Senin, 01 Juli 2013

Pertanian Solsel Dinilai Gagal Puluhan Ha Sawah Gagal Panen

Padang Ekspres • Senin, 01/07/2013
 Seorang petani di Solsel siap menyemai sawahnya dengan benih
Solsel, Padek —Puluhan hek­tare sawah di Solok Selatan gagal panen, akibat serangan hama keong, tikus, kelangkaan pupuk, faktor irigasi dan dam­pak cuaca ektrem di daerah penghasil beras itu. Dinas Pertanian Solsel dinilai petani, gagal memper­tahankan swa­sem­bada pengan beras surplus di Solok Selatan.

Pantauan Padang Ekspres di lapangan, dari 9.540 hektare lahan pertanian padi sawah di Bumi Sarantau Sasurambi, diperkirakan 95 hektare gagal panen. Ini menyebabkan paso­kan beras 2013 bakal berku­rang. Dinas Pertanian pun belum merespons ancaman ini.

Yakni di Kecamatan Sa­ngir, Sangir Jujuan, KPGD, Pauh Duo, Sungaipagu dan lainnya. “Petani mulai rugi, ha­sil panen padi sawah ber­kurang. Dinas Pertanian cuek-cuek saja,” ung­kap salah seo­rang penyuluh pertanian yang namanya tidak mau dise­but­kan, Minggu (30/6) di Pa­dangaro.

Ernita, 39, petani Sungai­pagu menyebutkan sejak awal penanaman padi, hama keong terus menyerang sawahnya.

 Saat padi menguning tikus pun merusak, sebelum mema­nen padi rebah dan buahnya beterbangan akibat angin badai bulan lalu.

“Petani mengeluh tahun ini gagal panen. Biasanya saya panen padi permusim 4 ton, tapi kini hanya 2,5 ton. Bila dampak tersebut terus terjadi, Solsel bakal kurang pasokan beras,” jelasnya.         
Ketua Kelompok Tani Sa­ngir, Safli Hendri mengaku kecewa terhadap Dinas Perta­nian Solok Selatan, karena tak merespons keluhan masyarakat tani di daerah itu. Petani menge­luh, puluhan hektare sawah gagal panen sejak Januari 2013.

“Kita kecewa dengan dinas pertanian yang kurang mem­perhatikan petani, tanpa ada petani lumbung padi Solsel bakal kosong,” katanya.

Biasanya dalam satu hekta­re, petani bisa menghasilkan 2 hingga 3 ton panen padi sawah. Namun sejak Januari 2013, mereka hanya memanen sekitar 1 ton padi. Akibat faktor irigasi yang tidak diperbaiki, kelang­kaan pupuk, serangan hama tikus, hama keong dan pengaruh angin badai atau cuaca ektrem di Solsel.

Safli mengatakan, Solsel yang sudah menjadi lumbung padi di tingkat nasional, akan terancam kehilangan beras.

Terpisah, Kepala Dinas Per­ta­nian Solsel, Yul Amri menje­laskan soal ancaman hama ke­ong sebaiknya petani menge­ringkan sawah usai ditanam. Pihaknya dalam hal ini, berjanji akan meningkatkan keteram­pilan bercocok tani yang baik.

Diakuinya, Dinas Pertanian sebelum mencanangkan program burung hantu untuk me­ngu­sir tikus, tapi karena keter­batasan anggaran dana program itu gagal. Untuk mengantisipasi tikus, diharapkan petani ber­buru tikus pihak dinas pun telah menyediakan racun untuk mem­­bunuh hama tersebut.

Kata Yul Amri, dari 34 salu­ran irigasi yang rusak, sekitar 10 saluran irigasi bakal diperbaiki yakni seluas 1.700 hektare de­ngan anggaran dana APBD Sol­sel 2013 Rp1,7 miliar.

Yul menjelaskan, pasokan pupuk memang tidak sebanding dengan kebutuhan petani, apa­lagi petani mandiri atau petani yang tidak tergabung dalam kelompok tani.(*)

0 komentar:

Posting Komentar