Pages

Senin, 19 Agustus 2013

Ratusan Honorer ”Demo” Bupati Tuntut Kejelasan Pengangkatan PNS

Padang Ekspres • Rabu, 14/08/2013 14:28 WIB • Redaksi • 337 klik
Solsel, Padek—Ratusan pe­ga­wai tidak tetap kategori I Solok Selatan mendatangi  Kantor Bupati Solok Selatan, kemarin (13/8). Mereka mem­pertanyakan verifikasi database yang diurus Bupati Solok Selatan di Kementerian Pen­dayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Ke­men PAN-RB). Mereka kecewa karena 272 PTT kategori I dibatalkan pengangkatannya oleh Kemen PAN-RB.

Ketua PTT KT I Solsel, Afriyon Soni mengatakan, PTT tersebut sudah mengabdi sejak tahun 2003 dan Desember 2004. Serta diberikan insentif atau gaji dari APBD sebelum Solok Selatan dimekarkan untuk menutupi kekurangan pegawai di kala itu. Kini, data PTT itu dianggap tidak benar oleh Kemen PAN-RB.

“Kita menemui bupati bu­kan mendemo, tapi untuk me­minta kejelasan tentang nasib kami. Kami berharap Pemkab arif menyelamatkan ra­tusan  PTT ini,” pinta Afriyon.

Pada Jumat, 5 April 2012, sebanyak 272 PTT telah mela­kukan uji publikasi dan diang­gap sah. Sesuai surat yang dikeluarkan Sekkab No 050/317/BPPPMD-2012, tentang uji publikasi keabsahan database PTT kategori I tersebut.

Tapi kenyataannya, tahun 2013, database 272 PTT di Solok Selatan dinyatakan tidak benar SK-nya karena ditan­datangani Marzuki Onmar (Pjs Bupati Solsel) dan mantan Bupati Solsel Syafrizal J.

“Tanpa ada tinjauan lapa­ngan, Kemen PAN-RB mem­vonis SK kami tidak be­nar. Lantas yang benar seperti apa, pemkab pun belum mem­beri­kan solusi,” tegasnya.

Ketua Pansus Audit Tujuan Tertentu (ATT) PTT KT I, Hendri Rose menjelaskan, “Jika datanya tak benar, SK-nya dipalsukan atau dire­ka­yasa, tentu ada tersangkanya,” tegasnya.

Menurutnya, Kemen PAN-RB mesti memverifikasi data tersebut sebelum dinyatakan tidak benar. Sesuai UU 38 Ta­hun 2003, mantan Pjs Bu­pati Solsel Aliman Salim me­masuk­kan PTT untuk daerah itu de­ngan alasan pegawai masih minim, baru sekitar 120 orang.    

Bupati Solsel Muzni Za­karia mengatakan, telah ber­koordinasi dengan Kemen­terian PAN-RB agar ratusan PTT kategori I dimasukkan ke database PTT kategori II. “Inilah hasil keputusan Kemen PAN-RB. Namun, jalur peng­angkatan menunggu kepu­tusan Kemen PAN-RB, apakah melalui tes atau pengangkatan langsung. Pokoknya PTT kate­gori I kita selamatkan,” pung­kasnya. (mg20)

Bupati Warning Pejabat Manja Tak Ada Kontribusi, Kadis Dicopot

Padang Ekspres • Selasa, 13/08/2013 13:25 WIB • Redaksi • 242 klik
Solsel, Padek—Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria mulai geram. Peringatan keras hing­ga pencopotan jabatan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) bakal diberlakukan, jika tidak bisa memberikan kontribusi bagi daerah.

Warning tersebut disam­paikan bupati di hadapan selu­ruh SKPD pada awal masuk kerja di ruangan pertemuan bupati, Senin (12/8).

Hal itu diupayakan Pem­kab Solsel agar pejabat daerah yang diangkat dan diberikan tugas pokok dan fungsi ma­sing-masing melaksanakan tugas untuk peningkatan pem­bangunan daerah dari berba­gai sektor dan bidang.

“Upaya ini agar kepala dinas tidak manja, sekali-kali perlu diberikan shock therapy agar kinerjanya meningkat dan tidak mandul,” tegas Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria.

Muzni mengingatkan ke­pa­la dinas hingga kepala bi­dang memberikan yang ter­baik un­tuk daerah dan mampu ber­koor­dinasi dengan pejabat di provinsi dan kementerian ter­kait. Pasalnya, Solok Sela­tan butuh peningkatan pem­ba­ngunan dan harus keluar dari daerah tertinggal dan terisolir.

“Saya ingin masing-masing dinas harus mampu me­rang­kul dana APBN sebanyak mung­kin untuk pembangunan daerah, jangan ada lagi melalui pihak ketiga. Kepala dinas dan kepala bidang harus bertemu langsung dengan orang yang dituju dan benar-benar mam­pu memberikan kontribusi untuk daerah,” tegasnya.

Bila kepala SKPD tidak bisa ber­koordinasi dengan Pem­prov dan pemerintah pusat, kata Muz­ni, jangan harap men­ja­di ke­pala dinas. “Sekali lagi saya ka­­takan, jangan harap ingin ja­di pejabat jika belum bisa ber­buat untuk kabupaten ini,” tegas man­tan kepala Di­nas PU Padang itu.

Muzni juga menargetkan jalan tembus Solok Selatan–Dharmasraya tuntas tahun ini. Menurut rencana, jalan terse­but melalui jalur Pulau­pun­jung. “Dinas PU wajib bertemu dengan kementerian terkait, sebab APBN 2014 segera diba­has. Ini peluang untuk me­rang­kul dana sebanyak-ba­nyaknya,” katanya.

Dia juga mewanti-wanti agar jalan lingkungan pusat ibu kota Padangaro, diting­katkan lagi. Begitu juga jalan yang menghubungkan Pro­vinsi Jambi–Solok Selatan, katanya, harus ditingkatkan tahun ini atau tahun 2014.

Dia juga menargetkan pa­sar tradisional Padangaro dan Muaralabuh tuntas tahun ini. “Dua pasar ini wajib tuntas tahun ini, sehingga dapat di­man­faatkan masyarakat Sol­sel. Ini untuk mengatasi kema­cetan di simpang Pasar Pa­dang­aro,” ujarnya. (mg20)

6 Korban Pistol Mainan Terancam Buta

Padang Ekspres • Selasa, 13/08/2013 11:36 WIB • Redaksi • 371 klik

Salah satu korban saat diperiksa di ruang USG
Padang, Padek—Peredaran pistol mainan ber­peluru plastik selama Lebaran di Sumbar ma­sih mengkhawatirkan. Sedikitnya enam bocah cedera aki­bat peluru pistol mainan itu. Lemahnya pengawasan dan penertiban oleh instansi terkait, menyebabkan pistol mainan itu dijual bebas di pasaran.

Keenam korban pistol mainan itu Supriyanto, 12, warga Kampungbatu No 59 Padang, Faizul Alfiz, 9, warga Pakansalasa Muaralabuh Solok Selatan, Fauzan, 10, warga Kototinggi Pakanda­ngan Padangpariaman. Lalu, Alifia Nurdifa, 5, war­ga Supadan Jorong IV Nagari Padangtinggi Pa­saman, Alif Faturahman, 6, warga Kam­pung­la­dang Hilir Pasaman, dan Abdul Rahman, 10, war­ga Dusun Pintu Padang Julu Siabu Medan.

Kini, keenam bocah ini mendapat perawatan in­tensif di di ruang bangsal mata RSUP M Djamil Pa­dang karena terancam buta.

Supriyanto, misalnya. Mata sebelah kanan murid kelas 5 SD itu tertutup perban. “Belum bisa jelas, kalau lihat pakai mata yang ini (kiri, red),” ujar Supriyanto.

Supriyanto mengaku kejadian itu akibat kelalaiannya saat bermain perang-perangan di rumahnya di Kampungbatu, Kecamatan Padang Selatan, Minggu (4/8), sekitar pukul 12.00. “Usai bermain, saya hendak memastikan tak ada lagi peluru. Awalnya saya tembakan ke lantai, ternyata tak berpeluru. Sewaktu saya periksa lewat lewat moncong pistol, ternyata pistol masih berpeluru dan mengenai mata kanan ini,” katanya. Darah pun mengucur dari kelopak matanya.

Lain halnya Faizul Alfiz. Warga Pakansalasa Muaralabuh ini terkena peluru nyasar temannya saat Lebaran, Kamis (7/8).

Dokter spesialis mata RSUP M Djamil, dr Ardizal Rahman SpM(K) menjelaskan, reaksi seseorang saat peluru menyentuh mata berbeda-beda. Ada langsung trauma dengan mata memerah, ada merasa sakit tetapi tidak tampak kerusakan pada fisik mata secara langsung. Makanya, pasien harus segera dibawa ke dokter begitu terjadi kasus trauma pada mata. “Jika tidak, kondisi mata bisa semakin gawat dan tidak tertolong lagi,” katanya.

Kalau tidak segera diatasi, mata yang trauma bisa menyebabkan hifema atau gumpalan darah di dalam bola mata. Hifema secara khas disebabkan oleh trauma pada bola mata. Gejalanya nyeri pada mata, pendarahan di depan mata, sensitif terhadap cahaya, dan gangguan penglihatan.

“Dorongan peluru tersebut memicu rusaknya saraf optik yang membentuk bagian-bagian retina di belakang bola mata. Efek langsungnya, penderita akan merasakan sakit kepala yang amat sangat dan diikuti menurunnya kualitas penglihatan,” ujar Ardizal.

Jika terus dibiarkan, tambahnya, kornea menjadi cokelat dan tidak bisa berfungsi lagi. “Sebenarnya peluang sembuh penderita imbibisi kornea masih ada dengan cangkok mata. Namun, cara tersebut tetap tidak membuat mata sehat 100 persen,” ujarnya. Selain itu, katanya, juga mengakibatkan pembusukan akibat air mata di lapisan dalam tersumbat. Bila sudah begitu, mata harus dibuang.

Ardizal mengimbau pemda dan kepolisian memperketat pendistribusian pistol mainan ini. Apalagi hampir tiap tahun usai Lebaran kasus pistol mainan selalu terjadi. Data RSUP M Djamil Padang, korban pistol mainan sejak tiga tahun belakangan mengalami penurunan yakni, pada 2010 tercatat 23 korban, 2011 tercatat 20 korban, tahun 2012 19 korban.

“Pengawasan dari orangtua harus lebih ketat dan bijaksana mendidik anak. Bukan hanya menyenangkan anak dengan menghibur jangka pendek, tapi berakibat penyesalan jangka panjang,” ajak Ardizal.

Selain mengobati pasien pistol mainan, menurut Ardizal, pihaknya juga menangani dua pasien korban mercon. Kedua pasien itu Agus Priyanto, 23, warga Sawahlunto dan Khairulis, 38, warga Lubukbasung, Agam. Keduanya dirawat di ruang rawat inap pria mata.

Untuk korban mercon, sebut Ardizal, umumnya diagnosa trauma thermis (luka bakar) akibat percikan api mengena mata mereka. “Jika tak segera diobati ke dokter, penderita akan mengalami kebutaan juga,” ucapnya.

Dijual Bebas

Di sisi lain, sejumlah pedagang musiman di Pasar Raya mengaku tidak menemukan kesulitan membeli pistol mainan dan mercon. “Namun, kami harus berhati-hati agar tidak dirazia polisi,” ujar pedagang berinisial ND.

ND mengaku mendapatkan mercon dan pistol mainan dari pedagang grosir di Pasar Raya. “Kami dan penjual selama ini saling kenal. Saat membeli petasan kami juga harus membeli sejumlah barang lain, supaya tidak mencurigakan,” ungkapnya.

Dalam menjual petasan dan pistol mainan, ND mengaku kini tidak bisa sembarang jual. “Konsumen petasan dan pistol mainan ini anak-anak dan biasanya ditemani orangtua­nya. Jika tidak, kami tidak menjualnya,” ungkapnya.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Energi (Disperindagtamben) Padang, Tasril Tasar mengaku terus memantau peredaran barang berupa pistol mainan dan petasan. Namun kenyataannya, mainan berbahaya itu tetap tidak terkendali. Pistol dan mercon masih dijual bebas.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno sendiri telah mengeluarkan surat edaran (SE) pada 3 Juli 2012, terkait pemeliharaan ketentraman dan ketertiban umum. Dalam SE Nomor 332 tersebut, ditegaskan penjualan dan peredaran mercon dan kembang api tidak dibolehkan. Meriam bambu juga dilarang, karena mengganggu ketenangan dan masyarakat dalam menjalankan ibadah. Namun, kejadian itu terus berulang hingga Lebaran tahun ini.

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Negeri Padang, Eka Vidya Putra menyatakan, peredaran dan penggunaan mainan anak-anak yang berbahaya seperti pistol-pistolan tersebut perlu kontrol pemerintah daerah dan orangtua. “Kontrol itu harus diiringi dengan sanksi. Kontrol tidak hanya ketika telah sampai di pasaran saja, tapi jauh sebelumnya harus sudah dilakukan,” ujarnya.

Pistol-pistolan yang dapat mencederai itu, tuturnya, tidak bisa dimasukkan dalam kategori mainan. (cr2/ril/kid)
[ Red/Administrator ]

Brimob Buru Perampok Toke Karet Kapolres: Pemain Lama, Kawanan Dharmasraya

Padang Ekspres • Selasa, 06/08/2013 13:32 WIB • Redaksi • 1139 klikSolsel, Padek—Jajaran Pol­res Solok Selatan (Solsel) didu­kung puluhan satuan Bri­mob Polda Sumbar mengejar kawa­nan perampok bersenjata api (bersenpi) menggasak seorang toke karet di Nagari Talunan­maju, Jorong Kurniamaju, Kecamatan Sangir Batang Juju­an, Solsel. Diduga kawanan perampok melarikan diri ke arah Kabupaten Dharmasraya.

Kapolres Solok Selatan AKBP Nanang Putu Wardianto kepada Padang Ekspres, di Sangir Balai Janggo, Senin (5/8), menyebutkan, kawanan perampok bersebo tak hanya menggasak harta benda kor­ban, tapi juga melukai korban.

”Kepala, wajah dan pung­gung korban memar, akibat diinjak-injak dengan sepatu keras. Selain itu, juga dipukul dengan marmer karena korban tidak mau mengaku tempat menyimpan uang dan perhia­sannya,” kata Kapolres.

Saat ini, pihaknya, sedang melakukan pengepungan hing­ga ke Dharmasraya. Jaja­rannya ber­tekad  segera menangkap pelaku bersenpi dan sindikat lainnya. “Puluhan Brimob telah dikerah­kan untuk menumpas kawanan perampok di Solok Selatan dan Dharmasraya,” kata Nanang.

Nanang menyebutkan, ka­wa­nan perampok ini selalu menggunakan senjata api dan sebo (penutup wajah) ketika beraksi. Dia menduga para pelaku bukan dari luar daerah, tapi berdomisili di Dharmas­raya. ”Saya yakin mereka ber­do­misili sekitar Dharmasraya dan Solok Selatan, setelah melihat perge­rakan setiap m­e­la­kukan peram­pokan di Dhar­masraya dan Solok Selatan,” jelas Nanang.

Pengakuan toke karet Eri­wahyudi, dan istrinya Rina serta tetangga korban yang disekap, menurut Nanang, keenam pelaku menggunakan bahasa Indonesia. Sewaktu menjalankan aksinya, dua pe­ram­pok menggunakan sebo menyekap korban, dua berjaga di pintu, dan dua orang masuk rumah.

Modus operasinya, tambah Nanang, sama dengan kejadian di Dharmasraya. Pelaku me­nge­tuk pintu terlebih dahulu, dan melepaskan tembakan peringatan. Selanjutnya, kor­ban dipaksa tiarap di lantai di bawah todongan senjata.

Bila tidak mau menun­juk­kan letak uang dan perhiasan, perampok menganiaya korban. Dalam keadaan tiarap, kata Nanang, kedua tangan korban diikat ke belakang dan dihajar berkali-kali sampai tubuh dan kepala korban memar.

”Kita menemukan empat selongsong dan satu proyektil dalam kondisi melekat di ban mobil sebelah kanan dan ba­gian belakang. Peluru ini me­mu­dahkan polisi mengungkap jenis senjata digunakan pelaku, dan korban sudah memberikan keterangan,” sebutnya.

Pulungan, 50, tetangga kor­ban yang disekap perampok mengatakan, dia mendatangi rumah korban setelah men­dengar teriakan. Namun baru sampai di depan rumah, dia pun diberikan tembakan peri­ngatan dan disuruh tiarap.

Kapolres Solsel mengimbau masyarakat proaktif melapor ke polsek terdekat bila menemui ada orang yang mencurigai. Dia berkeyakinan para pelaku me­miliki organisasi yang rapi. Diduga pelaku pemain lama dengan organisasi sama. Selain itu, ada kaitannya dengan pe­ram­pokan di toko emas di Abai Sangir Batang Hari  yang me­newaskan satu orang ketika hendak menolong korban.

Seperti diketahui, Minggu malam (3/8), kawanan peram­pok menyatroni rumah seorang toke karet di Nagari Talu­nan­maju, Jorong Kurniamaju, Kecamatan Sangir Batang Ju­juan, Solsel. Mereka menyekap toke getah itu sembari mele­paskan tembakan tiga kali guna memaksa istri korban menun­jukkan letak uang dan perhia­san. Para bandit itu membawa kabur uang Rp 50 juta dan 5 mas perhiasan. (mg20)
[ Red/Administrator ]

Kawasan Hutan Lindung Membingungkan Petani Kerap Bermasalah Hukum

Padang Ekspres • Senin, 05/08/2013 13:27 WIB • Yuwardi & Ardi Tono • 234 klik

Solsel, Padek—Masyarakat Ka­bu­paten Solok Selatan (Solsel) bingung dan terganggu dengan kebijakan pemerintah. Tidak sedikit masyarakat yang terjerat hukum karena memasuki ka­wa­san hutan lindung yang ditetapkan tanpa jelas titik tapal batasnya.

“Permasalahan ini sudah per­nah kita sampaikan kepada Pe­me­rin­t­ah Kabupaten (Pemkab) dan pihak Kehutanan terkait tapal batas ini, namun hingga saat ini belum ada keputusan yang jelas. Setahu saya sampai saat ini me­mang belum ada tapal batas hutan lindung di Kabupaten Solok Se­la­tan,” ujar Ketua DPD Golkar Ka­bu­p­aten Solok Selatan yang juga Ketua DPRD setempat  Khairunas saat buka bersama di Hotel Pesona Alam Sangir, Sabtu kemarin.

Pada kegiatan yang juga diha­diri anggota DPR-RI Azwir Dainy Tara itu,  Khairunas me­nyam­pai­kan adanya gugatan terhadap ka­wa­san hutan lindung di Sumbar se­b­agai hutan negara. Karena di Sumbar hanya mengenal hutan ulayat atau hutan adat.

“Kita juga telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian tentang permasalahan ini. Jangan ma­sya­ra­kat kita yang tidak mengerti ha­nya menjadi santapan pihak-pihak yang ingin mengambil ke­un­tu­ngan dari kebijakan yang dibuat. Termasuk meminta aturan yang menetapkan kawasan hutan lin­dung di Solok Selatan, kalau ada tolong tunjukan,” sebut Khairunas.

Menanggapi hal itu, Azwir Dainy Tara yang diundang ber­sa­ma calon Anggota DPD-RI Yamin Ferriyanto Tara yang diwakili oleh Mu­hammad Khomeiny Tara me­nyam­­paikan, penetapan kawasan hu­tan lindung oleh pemerintah pu­sat terutama Kementrian Ke­hut­anan terkadang tidak tepat sa­saran dan hanya di atas kertas saja.

“Contohnya di Pesisir Selatan, dimana rumah dinas bupatinya masuk kawasan hutan lindung. Bagaimana, pemerintah daerah melakukan pengembangan ka­w­a­san­nya, kalau selalu terkendala oleh status hutan lindung. Begitu juga di Solok Selatan, kapan ma­sya­rakat di sini akan berkembang perekonomiannya yang mayoritas bermata pencarian sebagai pe­ta­ni,” sebut Azwir Dainy Tara.

Selain kawasan hutan lindung, dirinya juga sering mendapatkan keluhan terkait aktifitas per­tam­bangan yang dilakukan oleh ma­sya­rakat di sepanjang Sungai Batang Hari. Dimana, masyarakat kecil dilarang menambang, tetapi pengusaha-pengusaha dengan kapasitas besar dibiarkan saja dan seakan tak tersentuh oleh penegak hukum.

“Untuk aktifitas per­tam­ba­ngan, kami telah turun bersama Komisi VII DPR-RI menghentikan tambang ilegal. Tinggal bagaimana lagi menata agar masyarakat yang berada di sepanjang kawasan itu bisa memanfaatkan hasil alam itu untuk meningkatkan kese­jah­te­raan mereka,” ungkap Azwir Dainy Tara, yang dikenal sangat me­rakyat itu searaya  me­ngenalkan putra-putrinya sebagai kader.(*)

Lagi, Toke Karet Dirampok

Padang Ekspres • Senin, 05/08/2013 12:52 WIB • Redaksi • 97 klik

Solsel, Padek—Kawanan pe­ram­­pok bersenjata api (bersen­pi) ber­aksi di Solok Selatan tadi ma­lam. Seorang toke karet di Nagari Ta­lunanmaju, Jorong Kur­nia­ma­ju, Kecamatan Sangir Batang Ju­juan, menjadi korban keganasan kom­plotan penjahat tersebut.

Enam kawanan perampok yang mengendarai tiga motor ini, le­luasa mengobrak-abrik rumah kor­ban yang tinggal di daerah te­risolir.

 Mereka menyekap toke ge­tah itu sembari melepaskan tembakan tiga kali guna memaksa istri korban menunjukkan letak uang dan perhiasan. Setelah ditunjuki, dengan sigap para bandit itu membawa kabur uang Rp 50 juta dan 5 mas perhiasan.

Pelaku masuk ke rumah korban jelang Shalat Isya. Secepat kilat, keenam perampok masuk ke dalam rumah korban. Setelah mengikat korban, pelaku mengancam istri korban, Rina dengan tiga kali tembakan.

“Sekarang kasusnya sedang dikembangkan. Diduga pelaku masih pemain lama, spesialis perampokan di daerah terisolir. Beruntung, korban selamat,” ujar Kasat Reskrim Polres Solsel, AKP Ricco Fernanda kepada Padang Ekspres, tadi malam.

Ricco menduga pelakunya ada kaitannya dengan kasus perampokan di salah satu toko emas di Abai Sangir Batang Hari, tahun lalu. “Kami terus menyelidiki apa motif perampokan ini, apakah ada indikasi orang dalam atau tidak. Yang jelas, jelang Lebaran ini, warga harus hati-hati karena tingkat kriminal tinggi. Jika ada yang mencurigakan, segera lapor ke polisi. Misalnya ada orang yang tidak dikenal bolak-balik di lokasi, segera waspada. Siapa tahu orang itu sedang membaca situasi,” imbaunya.

Seperti diketahui, September lalu, komplotan perampok berpistol yang berjumlah tiga orang, merampok sebuah toko emas di Pasar Nagari Abai, Kecamatan Sangir Batang Hari, Solsel. Seorang warga bernama Khairuddin, 54, tewas tertembak setelah berupaya menolong pemilik toko. Perampok menggunakan senjata api jenis M16 dan revolver. (mg20)

Awas, Ada 32 Titik Longsor Waspadai Cuaca Ekstrem, 104 Alat Berat Disiagakan

Padang Ekspres • Senin, 05/08/2013 12:26 WIB • Redaksi • 770 klik

Ilustrasi (Net. ist)
Padang, Padek—Lebaran ta­hun ini, pemudik diminta me­waspadai cuaca ekstrem. Ba­dan Meteorologi Klimato­logi dan Geofisika (BMKG) mem­prediksi cuaca ekstrem akan terjadi di Sumbar, H-3 hingga H+3 Lebaran.

Karena itu, pengendara di­minta meningkatkan kewas­pa­daan terhadap bahaya long­sor dan  pohon tumbang. Selama Agus­tus ini, wilayah Sumbar­ ber­potensi hujan menengah 151-300 mm. Artinya, bulan Agus­tus ini akan sering hujan. Ini semakin membahayakan Sumbar sebagai daerah rawan longsor.

”Rentang 2-8 Agustus ini, Sum­bar berpotensi hujan ri­ngan pada siang hari serta ber­potensi hujan sedang-lebat pa­da malam hari. Tak hanya long­sor, warga juga harus me­waspadai banjir, dan angin pu­ting beliung, terutama di wi­la­yah pesisir seperti Padang, Pa­riaman, Pessel, Agam dan Pas­bar,” ujar Manager Pus­dalops Ba­dan Pe­nanggulangan Ben­ca­na Daerah (BPBD) Sumbar, Ade Edward kepada Padang Ekspres, Minggu (4/8).

Ada 32 titik rawan jalur mu­dik yang patut diwaspadai r­a­wan longsor dan pohon tum­bang (lihat grafis).

”Arus mudik akan me­ning­kat pada H-3 dan H+3, tak ter­ke­cuali di Sumbar,” tam­bahnya.

Hal senada disampaikan Wakil Gubernur Sumbar, Muslim Kasim. “Jika hujan lebat, se­baiknya berhenti dulu. Jangan di­­paksakan juga jalan. Kami me­nyarankan pemudik tidak me­lewati jalur Sicicin-Malalak. T­o­pografinya berat, tanahnya ma­­sih labil. Ini sangat ber­bahaya, pilihlah jalan alter­natif yang lain,” ulas Muslim Kasim.

Menyikapi hal ini, Pemprov Sum­bar melalui Dinas Prasa­rana Jalan dan Tata Ruang Per­mukiman (Prasjal Tarkim) telah me­nyiagakan 104 unit alat berat di titik-titik rawan.

Kepala Dinas Perhubungan, Informasi dan Telekomunikasi (Dishub Inforkom) Sumbar, Mudrika mengatakan, pihaknya juga telah memasang rambu-rambu di lokasi-lokasi rawan.
Imbauan serupa juga di­sam­paikan Kepala BPBD So­lok ­Se­la­tan, Hamudis, yang ter­ma­suk daerah rawan longsor. M­u­l­ai Alahanpanjang di Ka­bu­paten Solok hingga Kecamatan Sangir Ba­tang Hari di Solok Selatan, ada delapan titik rawan longsor.

Delapan lokasi itu di Jorong Sungai Ipuah Nagari Pakan Rabaa Tangah (Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh), Jorong Ampalu Pekonina (Kecamatan Pauh­duo, Lekok dan Sampu Bu­kit Manggis (Kecamatan Sa­ngir), Nagari Lubuk Malako, Padang Air Dingin (Kecamatan Sangir Jujuan) dan Nagari Ranah Pan­tai Cermin (Kecamatan Sangir Ba­tang Hari).

Hamudis menjelaskan, dae­rah yang paling rawan longsor yak­­ni Bukit Manggis. Selain ja­lan­nya kecil dan rusak parah, juga ter­dapat perbukitan yang me­mi­liki tanjakan tinggi dan ter­jal. Ak­ses satu-satunya bagi mas­yara­kat ada di tiga keca­matan. Yak­ni, Kecam­a­tan Sangirjujuan, Sa­ngir Batang Hari dan Sangir Balai Janggo.

”Akses ini juga alternatif ter­dekat menuju kabupaten tetang­ga, Dharmasraya. Ting­ginya te­bing dan jurang di sepanjang Bu­kit Manggis, mencapai 100 me­ter. Bila curah hujan tinggi, se­baiknya pemudik berhenti da­hulu. Jika dipaksakan lewat di Bu­­­kit Manggis, jalan akan ter­tim­­­bun longsor dan tentunya akan membahayakan pe­ngen­da­ra. Setiap tahun, jalan Bukit Mang­gis sering memakan kor­ban, khususnya setiap hujan le­bat,” pungkasnya.

Pos Uji Kelayakan

Di Padangpanjang, Dishub­ko­minfo menyiagakan satu unit pos uji layak angkutan Lebaran ter­hitung H-7 hingga H+7 men­datang di Terminal Regional Bu­kitsurungan. Ini bertujuan untuk ke­lancaran lalu lintas dan ke­ama­nan pemudik.

Sekretaris Dishubkominfo Pa­dangpanjang, Zulheri menje­las­kan, pos tersebut akan mela­ku­kan pe­meriksaan terhadap ke­leng­kapan angkutan Lbaran. Se­­lain su­rat menyurat, pe­merik­saan juga ter­kait keleng­kapan­ fi­s­ik ken­daraan seperti rem, lam­pu utama, lampu sen hingga fung­si wiper.

Pengawasan ekstra tersebut, guna memastikan angkutan Lebaran layak beroperasi. Selain itu, juga bertujuan untuk memi­ni­malisir terjadinya gang­guan ter­hadap kelancaran arus mudik dan lalu lintas saat Lebaran. “Se­kecil apa pun permasalahan pa­da kendaraan, bisa saja menim­bul­kan risiko besar bagi penum­pang atau pengguna jalan lain­nya,” ujar Zulheri kepada Pa­dang Ekspres, kemarin.

Selain menimbulkan risiko kecelakaan, ketidaklayakan ang­ku­­tan juga dapat memicu ke­sem­rawutan dan kemacetan lalu lintas arus mudik. Karena satu ken­daraan bermasalah atau me­nga­l­ami kerusakan, bisa menim­bul­­kan kerugian banyak pihak, termasuk penumpang angkutan itu sendiri. “Hingga H-4, telah ditemukan belasan pelanggaran. Umum­nya pelanggaran terha­dap kir, izin trayek dan habisnya masa kartu pengawasan (KP). Kami juga telah memberikan tilang atas pelanggaran tersebut, ka­rena ini menyangkut kepen­ti­ngan hajat hidup orang ba­nyak,” ulas Zulheri.

Tak hanya itu, Dishub­ko­min­­fo juga membentuk Tim Pe­ngen­­dalian Ketentraman dan Ke­­tertiban (Trantib) Terminal. Tim tersebut bertujuan untuk me­­ngawasi dan memastikan se­tiap angkutan barang dan pe­numpang untuk memasuki ter­minal. “Sedangkan untuk ang­kutan kota dan desa di Termi­nal Kantin dan Pasar, peneka­nan lebih pada ketertiban angkutan,” tutur Zulheri.

Di Pasaman Barat, sejumlah titik jalan berlubang, sudah ditambal. Namun jalan di Kinali-Simpangampek, sedikit macet karena jalannya kecil. Untuk itu, perlu pelebaran jalan, termasuk arah ke Ranahbatahan, perbata­san dengan Madina (Sumut).

Ini memicu kecelakaan lalu lintas. Kalau ada lawan kenda­raan di depan, salah satunya harus berhenti, karena jalan sempit. Selain itu, banyak jalan berlobang, yang masih belum diperbaiki. (ayu/mg20/wrd)