Pages

Selasa, 18 Desember 2012

Ibu-Anak Digulung Galodo Hantam Solsel, Ribuan Warga Mengungsi


Potongan kayu-kayu besar ikut terseret galodo
Solsel, Padek—Bencana tak henti-hen­tinya mendera Sumbar. Kamis ma­lam (13/12), galodo menghantam ra­tu­san permukiman warga, Keca­matan Koto Parik Gadang Diateh (KPGD), Ka­bupaten Solok Selatan (Solsel). Dua orang dilaporkan hilang ter­seret lumpur tebal bercampur kayu gelondongan, dua rumah ha­nyut dan ribuan jiwa mengungsi ke tempat lebih aman dari amukan air bah setinggi dua meter tersebut.

Dua warga hilang itu Dan­sinan, 70, dan Simis, 35, warga Mang­gih Jorong Sapansalak, Pin­­tikayu, Nagari Pakan Rabaa Ti­mur, KPGD. Saat kejadian pu­kul 23.30, ibu dan anak itu ber­niat menyelamatkan cucu­nya yang tinggal tak jauh dari ru­mah­nya. Baru beberapa me­nit bera­da di rumah, tiba-tiba bangunan ber­ukuran 5x6 me­ter persegi itu di­hantam ga­l­odo. Dansinan dan Si­mis ha­nyut disapu galodo be­serta rumahnya.

Sedangkan cucu yang di­cari, rupanya telah lebih dulu diselamatkan menantunya, Am­ra, 32. “Saya sempat meli­hat Amak hanyut bersama ru­mah. Tapi apa daya, ndak bisa saya tolong,” ujar Amra yang ma­sih terlihat shock.

Dalam waktu bersamaan, ban­­jir bandang juga me­ne­r­jang ratusan permukiman pen­­­duduk di Jorong Su­ngai­pang­­kua, Na­gari Pakan Rabaa Ta­ngah, KPGD. Galodo mem­bawa material lumpur hitam dan kayu gelondongan ber­uku­ran besar menyapu rumah w­ar­ga. Akibat­nya, 75 rumah ru­sak berat dan 100 rumah ru­sak ringan. Warga terpaksa me­ngungsi karena rumah me­reka terendam lum­pur setinggi dua meter.

Pantauan Padang Ekspres, pin­tu, dinding dan kaca jen­dela ru­mah warga umum­nya jebol di­hantam galodo. Per­a­bot ru­mah tangga seperti ba­rang elektronik, kursi, tem­pat ti­dur, terendam lumpur. Tak bisa lagi digunakan. Hingga Ju­mat (14/12) pukul 15.00, war­ga masih kerja keras mem­­bersihkan rumah dari lum­pur. “Rumah saya rusak berat,” ujar Ref, warga Sungaipangku, sam­­bil menunjuk rumahnya yang terendam lumpur.

Satu unit rumah yang dipe­run­­tukkan sebagai tempat per­kumpulan kelompok tani di Su­ngaipangku, juga hanyut diseret galodo.

Hen, 42, warga Sungai­pang­ku, menceritakan, begitu men­dengar dentuman keras dari atas bukit di belakang ru­mahnya, dia langsung mem­bo­yong anak dan istrinya naik ke atas bukit. Lima menit se­telah be­rada di atas bu­kit, Hen meli­hat dengan mata ke­palanya sen­­­diri galodo me­nerjang ka­wa­­san Sungaipangku. Ga­lodo da­­tang dua tahap. Tahap per­ta­­ma, den­tumannya tidak ter­lalu ke­ras. Kemudian hening se­­jenak. Lalu datang galodo ke­dua de­ngan dentuman keras me­­libas per­mukiman bak tsunami.

“Hanya beberapa helai pa­kaian kami bawa. Nyawa harus di­selamatkan terlebih dulu, har­ta benda soal belakangan,” ce­­rita Hen sembari me­nga­ta­kan satu jem­batan dekat ru­mah­nya am­bruk dan tidak da­pat diper­gu­nakan lagi. Ra­tu­san hektare sa­wah, rata de­ngan lumpur.

Data yang dihimpun dari Kan­tor Wali Nagari Pakan Ra­baa Timur, di Manggih Jo­rong Sa­pansalak, satu rumah hi­lang, lima rumah rusak pa­rah, dan 10 rumah  rusak ringan. Galodo juga merusak areal per­sawahan masyarakat di Mang­gih, Muaro, dan Ngalau In­dah. Sekitar 75 hektare sa­wah dinyatakan rusak parah, dan 50 hektar lagi rusak ri­ngan. Sebanyak 8 ekor kam­bing warga hanyut

Wali Nagari Pakan Rabaa Ti­mur, Rusdi Katik Marajo me­ngungkapkan, Rusdi me­n­si­nyalir galodo terjadi akibat ak­tivitas pembalakan hutan sejak 10 tahun lalu. “Dulu, di sini cukup marak penebangan ka­yu. Tidak sedikit kayu yang ke­luar dari  sini menjadi komo­di­ti ekspor. Saya mem­per­ki­ra­kan kayu yang keluar dari si­ni mencapai 500 kubik per hari. Aki­bat ulah 10 tahun lalu, se­ka­rang kami yang menang­gung bencananya,” kata Rusdi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solsel mencatat, selain rumah rusak di Sungaipangku, galodo juga menyebabkan satu masjid rusak. Kepala BPBD Solsel, Hamudis memperkirakan, kerugian akibat galodo di Sungaipangku mencapai Rp 500 juta. Angka itu belum ter­masuk kerugian perabotan rumah masyarakat yang rusak.

Korban galodo telah diban­tu nasi bungkus, selimut, tikar dan makanan siap saji. Polisi dan TNI terlibat langsung da­lam masa tanggap darurat mem­bantu masyarakat me­nying­kirkan material galodo. Dua nagari yang dihantam galodo itu terletak di tepi bukit.

Bupati Solok Selatan Muz­ni Zakaria usai meninjau dua lo­­kasi bencana mengatakan, ga­­lodo terjadi akibat curah hu­jan tinggi dan berlangsung la­ma sehingga Sungai Pang­kuah tak mampu menampung de­bit air. Selain itu, daerah ali­ran su­ngai juga telah gundul akibat pe­nebangan.

Kepala Pusat Pengendalian Ope­rasi Badan Pe­nang­gula­ngan Bencana Dae­rah (BPBD) Sum­bar, Ade Edward me­nye­bu­t­kan, ini galodo ke­dua di Sol­s­el setelah tahun 1992. Pada 20 tahun lalu, galodo lebih be­sar pernah terjadi di Jorong Su­ngaipangku, Pakan Rabaa, serta Jorong Pinti Kayu dan Jo­­rong Sapan Salak, Kana­garian Pakan Rabaa Timur, Kecamatan KPGD.

Setelah mengamati material yang dibawa air bah, Ade men­duga bencana ini akibat keru­sa­kan hutan di hulu su­ngai. Ma­teri­al itu menum­puk di hulu su­ngai, dan baru ke­marin ter­bawa arus air yang besar. (sih)

Kerugian Galodo Rp 9,6 M Jasad Misriani Ditemukan Terjepit


-
Solsel, PadekGalodo meng­hantam Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh (KPGD), Ka­bupaten Solok Selatan  (Solsel), Kamis malam  (13/12), tak hanya mengakibatkan korban jiwa, namun juga mengakibatkan kerugian pisik mencapai Rp 9,6 miliar.

Kemarin (16/12), upaya pen­carian terhadap korban hilang terseret galodo di Manggih Sapansalak, Nagari Pakan Rabaa Timur, KPGD, membuahkan hasil.

 Sekitar pukul 10.30, je­nazah Simis, 35 (Misriani) dite­mukan oleh tim SAR di Lu­buak­si­kapuak Sungai Batang Hari atau sekitar 17 kilometer dari titik kejadian.

 Untuk me­nuju lokasi ter­se­but, jarak tem­puhnya mencapai enam jam perjalanan.

Informasi yang berhasil di­himpun di lapangan, korban ditemukan dalam keadaan ter­je­pit di tumpukan kayu. Sulitnya medan, membuat proses eva­kuasi makin membutuhkan waktu panjang. Sekitar pukul 14.00 korban baru dapat dieva­kuasi ke ambulans, dan langsung di­bawa ke Puskesmas Pa­kan­rabaa, KPGD untuk divisum.

Usai divisum, jenazah lalu diserahkan kepada pihak ke­luar­ga. Menurut Wali Nagari Pakan Rabaa Timur, jenazah Simis akan dikebumikan pada hari itu juga pukul 16.30 di pandan per­kuburan keluarga di Sa­pan­sa­lak. Mengingat, jena­zah kor­ban sudah mulai lunak.

 Masyarakat setempat turun ber­sama-sama men­ye­leng­ga­ra­kan proses pemakaman.

Sementara jasad Dasinan, 70, korban hilang lainnya yang juga ibu Simis sampai tadi ma­lam masih dalam pencarian.

Sewaktu kejadian, ibu dan anak warga Manggih Jorong Sapansalak, Pintikayu, Nagari Pakan Rabaa Timur, KPGD ini berniat menyelamatkan cucunya yang tinggal tak jauh dari rumah­nya. Baru beberapa menit be­rada di rumah, tiba-tiba ba­ngu­nan berukuran 5x6 meter per­segi itu dihantam galodo. Da­sinan dan Simis hanyut disapu galodo beserta rumahnya.

Sedangkan cucu yang dicari, rupanya telah lebih dulu dise­la­matkan menantunya, Am­ra, 32. “Saya sempat melihat Amak ha­nyut bersama rumah. Tapi apa­ daya, ndak bisa saya tolong,” ujar Amra yang masih terlihat shock.

Di sisi lainnya, korban ga­lodo di  Sungaipangkua, Na­gari Pakan Rabaa Tangah, KPGD, ke­marin masih terlihat mem­bersihkan sisa galodo yang me­nerjang rumah mereka. Mes­ki dalam kondisi lelah tak terkata, me­reka tetap terus berupaya agar rumah dapat ditempati kembali.

Capai Rp9,6 M

Kepala BPBD Solsel Ha­mu­dis menyebutkan bahwa ke­ru­gian sementara akibat galodo mencapai Rp9,6 miliar. K­e­ru­gian itu meliputi, kerusakan rumah warga sebesar Rp 925 juta, fasilitas umum Rp 6,23 mi­liar, materi Rp 1,5 miliar, dan sawah seluas 150 ha sebesar Rp 450 juta.

Hamudis menegaskan, data itu masih bersifat sementara dan bisa bertambah, karena jaja­rannya masih mendata di la­pa­ngan. Selain itu, tambah Ha­mudis, galodo me­ngakibatkan 32 rumah rusak berat, 27 rusak sedang dan 80 rusak ringan, 121 ru­mah terendam dan dua ha­nyut. Khusus fasilitas umum mengalami kerusakan, gorong-gorong dua unit, jembatan dua unit, satu sekolah rusak sedang, tiga rusak ringan, serta satu kan­tor kelompok tani rusak berat.

Hamudis menyebutkan pi­hak­nya sudah menetapkan ta­nggap darurat 14 hari. Namun, masa tanggap darurat ini bisa saja berkurang jika rehabilitasi bisa lebih cepat dari peren­canaan. Pihaknya juga sudah mengerahkan lima alat berat untuk menyingkirkan lumpur sekitar rumah warga dan nor­malisasi Sungai Pangkur dan Su­ngai Binuang yang aliran airnya meluap sampai ke pemukiman penduduk.

Sebanyak dua armada pe­ma­­dam kebakaran juga dike­rahkan ke lokasi untuk mem­bantu warga menyingkirkan lum­pur. Sedangkan PDAM se­tem­­pat juga mengerahkan dua truk tangki air guna memenuhi ke­butuhan air bersih warga.

Pemkab setempat terlihat su­dah mendirikan pos pos dapur umum dan pelayanan kesehatan di Masjid Raya Sungai Pangkur. Bantuan berbentuk uang dapat disalurkan melalui rekening rehabilitasi dan rekosntruksi Solsel dengan nomor: 0000­5544.01.000144.30.8 BRI Uni Lubukgadang. Atau laungsung dikirim ke Posko Bencana Alam di Kantor Camat KPGD ber­lamat di Nagari Pakan Rabaa. (sih)

Wamen: Bupati Harus Berani Seret ke Hukum Pembeking Tambang Liar

-
Solsel, Padek—Persoalan tambang liar masih menjadi polemik di Solok Selatan. Pem­kab dan pihak terkait di Solsel tak mampu membendung tam­­­bang liar yang makin ma­rak. Pasalnya, kuat dugaan praktik ilegal tersebut dibe­kingi oknum berseragam.

Terhadap hal itu, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Rubi Rubiandini menegaskan, jika ada niat dan kemauan, Pemkab Solses pasti bisa mem­­be­ran­tasnya. “Adanya dugaan pem­bekingan tidak bisa jadi alasan, kare­na semua orang sama di mata hukum,” kata Rubi Ru­biandini ke­pada pers saat uji su­mur eks­plorasi perta­ma geo­termal di Sol­sel, ak­hir pekan lalu. 

Seperti diberi­ta­kan sebe­lumnya, Pem­­­kab Solsel me­nyatakan sudah tak mampu mengatasi tambang liar di Solsel. Berbagai cara yang diupayakan Pemkab tak kun­jung membuahkan hasil. Ak­tivitas penambangan emas tanpa izin tetap marak.

Sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat Solsel, ketidakberdayaan Pem­kab Solsel menertibkan tam­bang emas liar karena sarat kepentingan sejumlah oknum.

Saat lawatannya ke Solsel akhir pekan lalu, Rubi Ru­biandini menegaskan, Pem­kab harus meng­hen­tikan aktivitas tam­bang emas liar. “Se­be­nar­nya semua ada di ta­ngan bupati.

Pemkab me­mili­ki alasan kuat me­ner­tibkan tambang emas liar itu. Misal, adanya Rencana Ta­ta Ruang Wilayah (RTRW) yang telah diatur oleh Pemkab. Soal ke­ter­li­batan ok­num pejabat ataupun apa­rat, saya tegaskan tidak ada orang yang kebal dengan hu­kum. Men­teri pun kalau ber­salah tetap da­pat dijerat dengan hokum,” tegasnya.

Bupati Solsel Muzni Zaka­ria saat dikonfirmasi tentang penghentian yang disarankan Wamen, mengatakan akan berkoordinasi dulu dengan gubernur. Sebab, persoalan tambang emas liar tidak hanya di Solsel, tapi di sejumlah daerah tetangga.

Sebelumnya diberitakan, pada akhir Oktober, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mela­kukan inspeksi mendadak ke sub daerah aliran sungai (DAS) Batang Hari di Solok Selatan. Dalam sidak itu, gubernur melihat ratusan eskavator disembunyikan di semak-se­mak. Mereka kocar-kacir me­ninggalkan lokasi penam­ba­ngan begitu mendengar sirene mobil polisi yang mengawal gubernur.

Informasinya, ada ratusan eskavator yang melakukan penambangan di sini tiap hari. Diperkirakan lebih dari 3.000 tenaga kerja melakukan akti­vitas di lokasi tambang liar,” ujar Irwan Prayitno ketika itu.

Dari investigasi di lapa­ngan, kebutuhan setiap ope­rasional eskavator Rp 50 juta per 200 jam, dan biaya ope­rasionalnya Rp 16 juta. Hasil rata-rata per hari produksi emas lebih kurang 6-10 ons, ada rata-rata setiap lokasi ini mendapat 4-5 kg emas murni dengan nilai Rp 4-5 miliar per bulan.

Pemkab Solok Selatan (Sol­­sel) benar-benar tak ber­daya menertibkan illegal min­ning (penambangan liar) di daerah aliran sungai (DAS) Batang Hari. Daripada diang­gap me­lakukan pembiaran, Pemkab Solsel memilih me­nye­rahkan tanggung jawab penertiban penambangan ile­gal kepada Pemprov Sumbar. Fachril Mu­rad mengatakan, ada sekitar 470 alat berat beroperasi mela­kukan penambangan di DAS Batang Hari di Solsel.

“Kami sudah menyurati Gubernur bahwa kami sudah tak sanggup melakukan pener­tiban tambang liar di Solok Selatan. Kami minta Pemprov untuk membantunya,” ujar Sekkab Solsel Fa­chril Murad pada akhir Oktober lalu.

Fachril Murad menga­ta­kan, ada sekitar 470 alat berat ber­operasi melakukan pe­nam­bangan di DAS Batang Hari di Solsel. (*) 

[ Red/Administrator ]

AKIBAT TABRAK SEKOLAH, PIKAP TERJUN KE SAWAH DUA TEWAS, DUA KRITIS


Solsel, Padek—Jumlah ko­r­ban tewas sia-sia di jalan raya se­lama arus mudik dan balik pa­da Idul Fitri 1433 Hijriah, te­rus bertambah. Kemarin (27/8), kecelakaan maut ter­jadi di ja­lan raya Mua­ralabuh, Ka­bu­pa­ten Solok Selatan (Sol­sel). M­o­­bil pikap Colt T120S jung­kir ba­lik ke sawah, setelah me­na­brak dinding gedung  Ta­man Ka­nak-Kanak (TK) di ka­wasan La­dangbatiak, Ba­tuang­ba­ja­wek, Jorong Sungaikalu 2, Na­­gari Pakanrabaa Utara, Ke­ca­ma­tan Koto Parik Gadang Di­ateh.
Aulia Rahman, 22, korban se­lamat kepada Padang Eks­pres mengatakan, sebelum pe­ris­tiwa nahas itu terjadi, jalan ra­ya cukup sepi. Dia me­m­per­kirakan kecepatan pikap ha­nya sekitar 50-60 km/jam. Tapi tiba-tiba, Aulia yang duduk di bak mobil terperanjat. Mobil yang dikendarai mamaknya me­nabrak dinding tembok se­kolah TK, lalu berguling ke sawah.
“Yang naik mobil tersebut ada lima orang. Tiga duduk di de­pan dan dua di belakang,” ung­kap Aulia saat ditemui di ruang IGD Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Solsel.
Lima orang penumpang pi­kap, termasuk sopir tercatat ma­sih satu keluarga. Mereka hen­dak berlebaran ke kam­pung ke Sariak Alahan Tigo, Pin­tikayu, Pakan Rabaa Timur, KPGD.
Tiga orang yang duduk di depan adalah Jamaris, 50 (sopir), Ides, 20, dan Aseh, 70. Sedangkan di bangku belakang, Aulia Rahman dan Mawardi, 40.
Dalam kecelakaan itu, Aseh dan Mawardi meninggal di tempat. Ides dan Jamaris kritis. Sedangkan Aulia Rahman mengalami luka robek di kepala, lutut dan jari kaki. Lima korban kecelakaan itu sempat dilarikan ke Puskesmas Pakanrabaa, selanjutnya dirujuk ke RSUD Solsel.
Sekitar pukul 12.30, jenazah Mawardi diberangkatkan ke kediamannya di Tanjungharapan, Lubuk Gadang Timur, Sangir. Sedangkan jenazah Aseh disemayamkan di kediamannya di Sungaisungkai, Sangir Balai Janggo. Sementara Ides dan Jamaris, dipindahkan ke kelas II dan III setelah mendapat perawatan di IGD.
Jamaris, sopir pikap, saat dimintai keterangan oleh polisi tampak masih lemas. Dia berusaha mengingat detik-detik sebelum kecelakaan. Ketika itu, Jamaris mengaku sempat pusing sebelum akhirnya menabrak dinding gedung TK.
Kapolres Solok Selatan AKBP Djoko Trisulo mengatakan telah meninjau tempat kejadian peristiwa (TKP) siang kemarin. Djoko memperkirakan setidaknya ada empat penyebab kecelakaan; akibat kondisi kendaraan, kondisi jalan, faktor alam, dan faktor manusia atau kelalaian. “Pikap tidak boleh menjadi angkutan penumpang,” ujarnya. Catatan Polres Solsel, selama Lebaran atau Operasi Ketupat, ada dua kasus kecelakaan lalu lintas di Solok Selatan.
Sebelumnya, Dinas Perhubungan Sumbar dan Polda Sumbar melarang penggunaan kendaraan barang untuk angkutan penumpang selama Lebaran. Fakta di lapangan, masih banyak ditemui kendaraan barang baik truk maupun pikap digunakan sebagai angkutan penumpang di jalan-jalan Sumbar selama Lebaran lalu. (sih) http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=33818


ANGKA PUTUS SEKOLAH TINGGI


Wajah pendidikan Kabupaten Solok Selatan, masih buram. Dua periode pemerintahan definitif di daerah ujung selatan Sumbar itu, angka putus sekolah masih tinggi, terutama di daerah pedalaman.
Kawasan yang jangkauannya sulit, di antaranya sejumlah jorong di Nagari Pakan Rabaa Utara, Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh (KPGD). Secara administratif, nagari di gerbang utara Solsel itu terdiri dari sembilan jorong. Ulu Suliti, Tanjung Limo Kapeh, Pasampantimur, Batangpasampan, Sungaikalu I, Koto Baru Sungai Kalu I, Pulaibungkuak, Batuangbajawek, dan Sungaikalu II. Dari sembilan jorong (desa) itu, terdapat empat jorong yang fasilitas pendidikan dasarnya (SD) saja tidak ada sama sekali. Tanjung Limo Kapeh, Koto Baru Sungai Kalu I, Pulai Bungkuak, dan jorong Batuangbajawek.
Anak-anak yang ingin mengecap pendidikan, terpaksa bersekolah di kampung tetangga. Tentu saja dengan konsekwensi, berjalan kaki beberapa kilometer. Sebab, angkutan umum memang tidak ada. Jalan yang mesti ditempuh pun, hanya jalan tanah dan berlumpur, meskipun cuaca tidak hujan.
Murid dari Tanjung Limo Kapeh, biasanya sekolah di SD Batang Pasampan. Jarak yang mesti mereka lalui setiap hari, mencapai 2 Km lebih. Terjalnya jalan sudah menjadi hal biasa. Begitupula bocah-bocah dari jorong Koto Baru Sungai Kalu I, bersekolah di kampung tetangga Sungaikalu I.
Perjalanan setiap paginya lebih dari 3 km. Diperparah lagi dengan akses jalan yang sangat tidak bersahabat. Membuat sepatu dan seragam sekolah tak pernah bersih dari percikan becek.
Catatan kantor wali nagari setempat, jumlah penduduk Pakan Rabaa Utara sebanyak 6.165 jiwa atau 1.848 Kepala Keluarga (KK). Menurut Plt sekretaris nagari, Andrinal, warga yang tidak tamat SD angkanya mencapai 30 persen dari total jumlah penduduk. Sedangkan warga yang lulusan sarjana, katanya masih hitungan jari.
”Sarana pendidikan di sini hanya terdapat tujuh buah SD dan dua buah SMP,” tutur Andrinal saat ditemui Padang Ekspres di kantornya, Senin (25/4).
Kalau ingin melanjutkan sekolah tingkat SMA menurut lelaki itu, masyarakat Pakan Rabaa Utara mesti ke pusat pemerintahan kecamatan. Belasan kilometer dari Pakan Rabaa Utara. Biasanya, siswa dari sana terpaksa kos, mengingat jarak yang cukup memakan waktu.
“Tidak heran kalau di sini masih banyak yang tidak tamat SD dan yang hanya sekolah sampai SD,” imbuhnya meyakinkan. Pendidikan sepertinya masih menjadi barang langka di daerah tersebut. Masyarakat setempat sangat berharap adanya penambahan unit sekolah baru. Terutama di jorong yang tidak ada SD. (*) http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=2465

Minggu, 16 Desember 2012

SOLOK SELATAN BERDUKA

Saturday, 15 December 2012 00:00 

SOLSEL- Wilayah Solok Selatan kembali dilanda banjir. Kali ini 175 unit rumah terendam lumpur, 75 unit rusak berat, 100 unit rusak ringan dan sebuah jembatan putus. Dua warga dilaporkan hilang.
Hujan lebat melanda Kabupaten Solok Selatan sejak Kamis (13/12) sore menyebabkan banjir bandang (galodo) di dua nagari di Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh, dan banjir di Jorong Kampuang Tarandam Kecamatan Sungai Pagu.
Banjir di daerah itu disebabkan curah hujan yang tinggi sehingga Sungai Batang Pangkua dan Sungai Batang Binuang di Nagari Pakan Rabaa, Sungai Sapan Salak di Nagari Pakan Rabaa Timur dan Batang Suliti di Jorong Kampuang Tarandam Nagari Pasar Muara Labuh meluap.

Air mulai meluap pada Kamis (13/12) sekitar pukul 22.00 wib. Akibatnya, dua warga Jorong Manggis, ibu dan anak, Rajinan (70) dan Simis (35) di Nagari Pakan Rabaa Timur hanyut terseret aliran sungai Sapan Salak. Mereka dinyatakan hilang dan sampai berita ini dituliskan, korban belum ditemukan.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok Selatan mencatat, banjir terjadi di Jorong Kampung Tarandam Nagari Pasar Muara Labuh Kecamatan Sungai Pagu. Namun, daerah ini sudah menjadi langganan banjir setiap meluapnya Sungai Batang Bangko dan Sungai Batang Suliti. Tidak ada dampak yang signifikan di jorong ini.

Kepala BPBD Solok Selatan Hamudis kepada Haluan, Jumat (14/12) menjelaskan, hujan di Jorong Sungai Pangkur Nagari Pakan Rabaa, dan Jorong Manggis Nagari Pakan Rabaa Timur Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh menyebabkan galodo.

Menurut keterangan Hamudis, di Nagari Pakan Rabaa, 175 unit rumah warga terendam lumpur, 100 unit rumah mengalami rusak ringan, dan 75 unit rumah rusak berat. Selain itu, banjir bandang juga menyebabkan sebuah jembatan Sungai Pangkur senilai Rp500 juta putus, tiga unit fasilitas umum berupa bangunan sekolah mengalami kerusakan dan terendam lumpur dan pasir. Tidak hanya itu, di Pakan Rabaa ini banjir juga menyebabkan tertimbunnya 12,5 ha sawah satu bulan tanam, dan pos kelompok tani ikut diseret Sungai Batang Pangkua. Kerugian diperkirakan sekitar Rp600 juta lebih.

Di Jorong Manggis Nagari Pakan Rabaa Timur, hujan lebat menyebabkan air bah. Dua orang terseret aliran sungai, mereka adalah anak dan ibu yang hendak mengunjungi rumah anaknya Siel dan suaminya Amrah yang tinggal di Jorong Manggis.

Sekretaris Nagari Pakan Rabaa Timur Nasril menjelaskan, air bah datang menghondoh nagarinya sekitar pukul 00.00 dini hari. Adapun dua orang warganya yang hanyut terseret air bah karena ingin mendatangi rumah familinya dengan tujuan mengingatkan bahwa air sungai sudah mulai meluap.

“Malang bagi Rajinan dan anaknya Simis, ketika ia hendak mengingatkan anaknya agar secepatnya mengungsi karena air sudah meluap. Sesampai rahinan di rumah siel, air bah datang seketika. Rajinan dan Simis ikut terseret air bah bersama rumah milik Siel dan Amrah,” ujarnya.
Adanya fasilitas sekolah yang ditimbun lumpur dan pasir, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Solok Selatan Fidel Effendi mengatakan, ada tiga sekolah yang terendam lumpur. Yaitu, Sekolah Dasar Negeri 09 Sungai Pangkur yang roboh pagar belakang dan depan, MTSN Sungai Pangkur yang digenangi lumpur dan pasir, dan SMAN 5 Solok Selatan digenangi air.
“Fasilitas sekolah sudah dibersihkan, semoga pada Sabtu (15/12) para siswa sudah mulai belajar. Sedangkan untuk siswa SD, mereka akan mengikuti ujian pada Senin (17/12) depan,” kata Kadispen Fidel Effendi.
Pencarian Korban Hanyut
Dua orang warga Ibu dan Anak Rajinan (70) dan Simis (35) masyarakat Jorong Manggis Nagari Pakan Rabaa Timur Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh hilang terbawa arus banjir bandang.
Sekretaris Nagari Pakan Rabaa Timur Nasril mengatakan, Rajinan dan Simis ingin memberitahukan kepada Siel dan Amra yang merupakan anak dari Rajinan bahwa air sudah naik.
Akan tetapi sampai di rumah tersebut, Siel dan suaminya sudah menginap ke rumah familinya di tempat yang lebih tinggi. Namun, naas bagi Rajinan dan Simis saat memasuki rumah anaknya itu, banjir bandang lansung menghantam.
Ia mengatakan, rumah permanen berukuran 7x9 meter milik pasangan Siel dan Amra yang dihantam banjir bandang rata dengan tanah. Pencarian terhadap Rajinan dan Simis sudah dimulai oleh masyarakat setempat pada pagi saat banjir sudah mulai surut.
Pada Jumat (14/12) pagi, masyarakat sudah melakukan penyisiran sungai Batang Sapan Salak guna melakukan pencarian. Tetapi belum membuahkan hasil.
Sedangkan Kapolres Solok Selatan AKBP Djoko Trisulo mengatakan, pencarian orang hilang tersebut kemungkinan akan menggunakan bantuan anjing pelacak. "Untuk kepastian adanya anjing pelacak yang bisa diturunkan, kita akan melakukan koordinasi dengan Polda Sumatera Barat," pungkasnya.
Pada Jumat (14/12) sore pencarian oleh Tim dari BPBD dihentikan sementara untuk menyusun strategi pencarian di hari berikutnya. Akan tetapi, masyarakat setempat masih tetap melakukan pencarian dua warga yang hilang tersebut.
Bantuan Pemda sudah disalurkan, Bupati Solok Selatan H Muzni Zakaria bersama Dinas Sosial dan Badan Penaggulangan Bencana Daerah sudah menyalurkan bantuan sembako untuk masa tanggap darurat berupa makanan pokok. Dari BPBD Solsel disalurkan makanan siap saji 100 bungkus, matrass 50 paket, tikar 50 paket, dan nasi bungkus 1000 buah. Selain itu, akan didirikan dua dapur umum di lokasi banjir bandang di Nagari Pakan Rabaa Timur. (h/col/met) http://haluanriaupress.com

Dua Warga Hilang

SOLSEL- Wilayah Solok Selatan kembali dilanda banjir. Kali ini 175 unit rumah terendam lumpur, 75 unit rusak berat, 100 unit rusak ringan dan sebuah jembatan putus. Dua warga dilaporkan hilang.
Hujan lebat melanda Kabupaten Solok Selatan sejak Kamis (13/12) sore menyebabkan banjir bandang (galodo) di dua nagari di Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh, dan banjir di Jorong Kampuang Tarandam Kecamatan Sungai Pagu.
Banjir di daerah itu disebabkan curah hujan yang tinggi sehingga Sungai Batang Pangkua dan Sungai Batang Binuang di Nagari Pakan Rabaa, Sungai Sapan Salak di Nagari Pakan Rabaa Timur dan Batang Suliti di Jorong Kampuang Tarandam Nagari Pasar Muara Labuh meluap.

Air mulai meluap pada Kamis (13/12) sekitar pukul 22.00 wib. Akibatnya, dua warga Jorong Manggis, ibu dan anak, Rajinan (70) dan Simis (35) di Nagari Pakan Rabaa Timur hanyut terseret aliran sungai Sapan Salak. Mereka dinyatakan hilang dan sampai berita ini dituliskan, korban belum ditemukan.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok Selatan mencatat, banjir terjadi di Jorong Kampung Tarandam Nagari Pasar Muara Labuh Kecamatan Sungai Pagu. Namun, daerah ini sudah menjadi langganan banjir setiap meluapnya Sungai Batang Bangko dan Sungai Batang Suliti. Tidak ada dampak yang signifikan di jorong ini.

Kepala BPBD Solok Selatan Hamudis kepada Haluan, Jumat (14/12) menjelaskan, hujan di Jorong Sungai Pangkur Nagari Pakan Rabaa, dan Jorong Manggis Nagari Pakan Rabaa Timur Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh menyebabkan galodo.

Menurut keterangan Hamudis, di Nagari Pakan Rabaa, 175 unit rumah warga terendam lumpur, 100 unit rumah mengalami rusak ringan, dan 75 unit rumah rusak berat. Selain itu, banjir bandang juga menyebabkan sebuah jembatan Sungai Pangkur senilai Rp500 juta putus, tiga unit fasilitas umum berupa bangunan sekolah mengalami kerusakan dan terendam lumpur dan pasir. Tidak hanya itu, di Pakan Rabaa ini banjir juga menyebabkan tertimbunnya 12,5 ha sawah satu bulan tanam, dan pos kelompok tani ikut diseret Sungai Batang Pangkua. Kerugian diperkirakan sekitar Rp600 juta lebih.

Di Jorong Manggis Nagari Pakan Rabaa Timur, hujan lebat menyebabkan air bah. Dua orang terseret aliran sungai, mereka adalah anak dan ibu yang hendak mengunjungi rumah anaknya Siel dan suaminya Amrah yang tinggal di Jorong Manggis.

Sekretaris Nagari Pakan Rabaa Timur Nasril menjelaskan, air bah datang menghondoh nagarinya sekitar pukul 00.00 dini hari. Adapun dua orang warganya yang hanyut terseret air bah karena ingin mendatangi rumah familinya dengan tujuan mengingatkan bahwa air sungai sudah mulai meluap.

“Malang bagi Rajinan dan anaknya Simis, ketika ia hendak mengingatkan anaknya agar secepatnya mengungsi karena air sudah meluap. Sesampai rahinan di rumah siel, air bah datang seketika. Rajinan dan Simis ikut terseret air bah bersama rumah milik Siel dan Amrah,” ujarnya.
Adanya fasilitas sekolah yang ditimbun lumpur dan pasir, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Solok Selatan Fidel Effendi mengatakan, ada tiga sekolah yang terendam lumpur. Yaitu, Sekolah Dasar Negeri 09 Sungai Pangkur yang roboh pagar belakang dan depan, MTSN Sungai Pangkur yang digenangi lumpur dan pasir, dan SMAN 5 Solok Selatan digenangi air.
“Fasilitas sekolah sudah dibersihkan, semoga pada Sabtu (15/12) para siswa sudah mulai belajar. Sedangkan untuk siswa SD, mereka akan mengikuti ujian pada Senin (17/12) depan,” kata Kadispen Fidel Effendi.
Pencarian Korban Hanyut
Dua orang warga Ibu dan Anak Rajinan (70) dan Simis (35) masyarakat Jorong Manggis Nagari Pakan Rabaa Timur Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh hilang terbawa arus banjir bandang.
Sekretaris Nagari Pakan Rabaa Timur Nasril mengatakan, Rajinan dan Simis ingin memberitahukan kepada Siel dan Amra yang merupakan anak dari Rajinan bahwa air sudah naik.
Akan tetapi sampai di rumah tersebut, Siel dan suaminya sudah menginap ke rumah familinya di tempat yang lebih tinggi. Namun, naas bagi Rajinan dan Simis saat memasuki rumah anaknya itu, banjir bandang lansung menghantam.
Ia mengatakan, rumah permanen berukuran 7x9 meter milik pasangan Siel dan Amra yang dihantam banjir bandang rata dengan tanah. Pencarian terhadap Rajinan dan Simis sudah dimulai oleh masyarakat setempat pada pagi saat banjir sudah mulai surut.
Pada Jumat (14/12) pagi, masyarakat sudah melakukan penyisiran sungai Batang Sapan Salak guna melakukan pencarian. Tetapi belum membuahkan hasil.
Sedangkan Kapolres Solok Selatan AKBP Djoko Trisulo mengatakan, pencarian orang hilang tersebut kemungkinan akan menggunakan bantuan anjing pelacak. "Untuk kepastian adanya anjing pelacak yang bisa diturunkan, kita akan melakukan koordinasi dengan Polda Sumatera Barat," pungkasnya.
Pada Jumat (14/12) sore pencarian oleh Tim dari BPBD dihentikan sementara untuk menyusun strategi pencarian di hari berikutnya. Akan tetapi, masyarakat setempat masih tetap melakukan pencarian dua warga yang hilang tersebut.
Bantuan Pemda sudah disalurkan
Bupati Solok Selatan H Muzni Zakaria bersama Dinas Sosial dan Badan Penaggulangan Bencana Daerah sudah menyalurkan bantuan sembako untuk masa tanggap darurat berupa makanan pokok. Dari BPBD Solsel disalurkan makanan siap saji 100 bungkus, matrass 50 paket, tikar 50 paket, dan nasi bungkus 1000 buah. Selain itu, akan didirikan dua dapur umum di lokasi banjir bandang di Nagari Pakan Rabaa Timur. (h/col/met)